Friday, November 12, 2010

Mengobati Penyakit Hati

Dialah Allah Penguasa Tunggal satu-satunya.
Dialah Allah Yang Maha Gagah Pemilik Alam
Semesta. Semuanya Yang Ada adalah ciptaan-
Nya. Takluk pada pemilik-Nya. Yang Maha Tahu
Segala Kebutuhan hamba-Nya. Dialah Allah Yang
Membagi rejeki hamba-hamba-Nya.
Orang yang paling beruntung adalah orang yang
ahli takwa yang hatinya yakin pada Allah, lahirnya
istiqamah patuh kepada Allah. Dunia berikut isinya
hanya sekadar pelayan, tidak ada-apanya dalam
pandangannya. Kita mampir sebentar di dunia
untuk berbekal pulang. Besok lusa mungkin tiada.
Allah menciptakan kita bukan Allah memerlukan
kita, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya untuk
kepentingan kita, bukan untuk keuntungan Allah.
Allah Maha Tahu niat sekecil apa pun. Senyum,
misalnya, bisa saja sama tersenyum, tetapi
niatnya Allah SWT mengetahui persis senyum itu
untuk siapa. Tiada kebohongan untuk
bersembunyi. Hatilah pusat pandangan Allah.
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa
yang ada dalam hatimu atau kamu
melahirkannya, pasti Allah mengetahui." [QS Ali
Imran : 29] “Sesungguhnya Allah tidak melihat
kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada
rupa-rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada
hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian )” (HR.
Muslim)
Dalam shalat sama gerakan dan bacannya, yang
membedakan kondisi hatinya. Allah mengetahui
persis apa yang ada di dalam hati kita.
Berbahagialah yang berhati bersih, yaitu orang
yang ikhlas dalam beramal
Hati bisa dikategorikan menjadi tiga bagian :
Qalbun mayyit
Hatinya seperti mayat. Tidak ada guna sama
sekali. Baik buruknya ditentukan hawa nafsu.
Maka ia akan berbuat keji dan biadab, karena tidak
ada nurani. Mata dan telinga hati sudah buta.
Orang seperti ini benar-benar celaka dunia akhirat.
Dalam surat Al Baqarah ayat 6 tercantum:
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja
bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak
kamu beri peringatan, mereka tidak akan
beriman. ”
Qalbun Mariidl
Hati yang berpenyakit. Penyakit hati itu sendiri
apabila dijelaskan akan meliputi berbagai
tingkatan. Di dalam Al Quran surat Al Baqarah
ayat 10 difirmankan : “Di dalam hati mereka
[orang-orang munafik] ada penyakit, maka Allah
tambahkan penyakit ke dalam hati mereka dan
bagi mereka ada adzab yang pedih disebabkan
kedustaan mereka ”.
Qalbun Salim (Hati yang selamat)
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak
berguna, kecuali orang-orang yang menghadap
Allah dengan hati yang bersih, kecuali orang-
orang yang menghadap Allah dengan hati yang
bersih. (QS As-Syu ’araa 88-89).
Orang berqalbun salimlah yang benar tauhidnya.
Seperti dua sisi mata uang, kedua mukanya pasti
sama nilainya. Disebabkan Tauhid inilah mengapa
para nabi diutus ke dunia. Orang bertauhidlah
orang yang paling merdeka di dunia. Siapa paling
bermartarbat terhormat itulah yang tauhidnya
paling bagus. Setiap terbaik cita-citanya ada di
dalam tauhid. Siapa yang paling mulia, ia yang
tauhidnya paling bagus. Orang yang paling
bertauhid, itu merdeka dari diperbudak harta
manusia, jabatan, uang, atau apa pun kecuali
hanya berharap dari Allah, dan tidak meminta
pertolongan kecuali pada Allah. Sepanjang masih
takut, ia masih menghamba pada sesuatu, ia bisa
dikatakan tidak bertauhid dan tida merdeka.
Rahasia Akhlakul karimah adalah tauhid. Ukhuwah
tidak akan bisa terjadi kalau tidak ada satu tujuan
kepada Allah, berarti mesti dengan bersih tauhid.
Masing-masing orang harus bermujahadah
membersihkan hati. Terjadinya perpecahan
karena adanya nafsu yang tidak terkendali.
Dengan bersih hati masing-masing individunya,
nanti Allah yang akan mempersatukan. Jika kita
ingin tangguh kuat, maka tauhid kuncinya. Siapa
yang yakin musibah terjadi dengan ijin Allah, dia
tidak akan memelas kepada musibah kepada
manusia. Tidak ada alasan untuk tidak kuat
menghadapi hidup ini. Sepelik apa pun, tetap ajeg
saja. Kenapa pahit, karena ukurannya dunia, dan
rasa pahitnya itu sebagai tebusan atas dosa-dosa
kita.
Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah
diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka
disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. (QS
Al-Maaidah : 49)
Bagaimana mungkin kita mendapat ujian
kemudian mengadukan kepada manusia,
sedangkan kita tahu yang menyentuhkan ujian itu
adalah Allah SWT, dan Allah sudah mengukur
orang yang tauhidnya benar maka akan bersabar
dan bersyukur.
Permisalannya adalah sebagai berikut: Seperti
orang yang diketahui bau ketiak, maka dipastikan
ia akan dijauhi orang lain. Bagi si penderita tidak
perlu memelas agar orang lain bisa mengerti
tentang keadaan dirinya, dan diharapkan mereka
tidak menjauh bahkan tetap mendekat.
Semestinya ia tidak harus sabar menunggu orang
lain untuk mengerti, melainkan ia dituntut untuk
bersabar dalam mengobati ketiaknya, dengan
ikhtiar sekuat tenaga agar bau ketiaknya sembuh.
Kita lihat orang yang ada di rumah sakit, yang
jasadnya sakit, tapi ridha menahan sakit, dan
tetap berobat. Sabarnya orang yang ketiaknya
bau, ridho dengan kenyataan, kemudian sabar
untuk memeriksa dan mengobati atas kelemahan
dirinya tersebut.
Ada orang yang rela melakukan general cek up.
Setelah diketahui penyakitnya, ia pun harus mau
untuk diobati, misalnya terdeteksi penyakit
kanker, maka ia harus dikemoterapi, misalnya,
padahal rasanya amat panas dan biayanya mahal
pula, serta harus diisolasi. Tentunya semua itu
agar badannya segera sehat. Tenaga, pikiran,
biaya, pengorbanan dikeluarkan habis-habisan (all
out) demi kesembuhannya.
Namun setelah sehat dengan memakan biaya
yang besar, ternyata ujungnya ia tetap akan mati.
Ini mengherankan, ketika orang itu habis-habisan
untuk sehat lahirnya, tetapi tidak habis-habisan
untuk menyembuhkan sakit batin. Padahal
penyakit hati itu jauh lebih ganas, bisa
mencelakakan, lebih menghinakan dunia akhirat.
Sakit lahir tatkala mati maka dianggap selesai.
Sedangkan sakit batiniah, ketika mati maka akan
menjadi awal dari seluruh masalah besar, karena
adanya azab kubur. Azab kubur itu lama dan
pasti adanya sebagaimana kita pasti mati.
Siapa pun, sesungguhnya ingin bahagia,
terlindungi, kokoh, tercukupi. Maka dari itu, tugas
kita harus mesti sungguh-sungguh untuk
mengobati penyakit hati. Sebab dengan hati yang
sehatlah keinginan tersebut bisa dicapai. Seorang
yang berpenyakit hati sombong, misalnya, tidak
mungkin ia bisa bahagia, ia tidak selaras dengan
hatinya, karena ciri utama sifat sombongnya
adalah tidak mau mengakui atas kesalahan
dirinya.
Gejala penyakit hati membuat diri labil, tidak ajeg
dan tidak mantap dalam menjalani hidup. Goyah
tidak tenang, bingung, menyandarkan diri ke sana
sini, padahal Allah sangat dekat. Itu semua ciri
adanya dosa di hati yang menimbulkan rasa
gelisah, karena hatinya terhijab kepada Allah.
Orang yang bersih hati situasi sepelik apa pun ia
akan mantap. Allah senantiasa bersama dengan
orang yang bersih hatinya, karena Dia Maha Suci,
akan bersemayam pada hati yang bersih.
Orang yang tercerahkan hatinya ketika dia
mendapatkan masalah, pertama yang akan
dilakukannya adalah berbicara terhadap penguasa
semua makhluk.
Makhluk tidak memberi manfaat apa-apa tanpa
ijin Allah. Ridho terhadap ujian Allah, dan
menyadari bahwa ujian itu karena dosanya, dan
memohon taubat atas dosanya.
Allah Pengatur segala rencana. Dan ia harus bulat
terlebih dahulu kepada Allah. Yakin dengan bulat
hati maka akan mendapat jalan untuk
menemukan solusi.
Sedangkan bagi orang yang berpenyakit hati,
sikap dan keputusannya akan dangkal, tidak bisa
tajam berpikirnya. Pendek sekali tidak bisa
menganalisa lebih jauh. Dia bermasalah dengan
orang lain dan dirinya sendiri, karena aura yang
terpancarnya aura kepicikannya.
Target bersih hati harus secepatnya, tidak bisa
dipasang dalam jangka waktu kapan, apalagi
masih lama. Karena masalah umur kita tidaklah
tahu. Semestinya targetnya bagaimana husnul
khatimah dengan mujahadah
Lalu bagaimana cara mujahadahnya agar hati kita
bisa bersih? Mintalah berbicara sejujurnya tentang
hati kita. Kalau mempunyai anak yang masih kecil
tanyalah mengenai diri kita. Bila memerlukan
proses uzlah, lakukanlah karena itu bagian dari
proses penyembuhan. Sering-seringlah
berkhalwat, karena itu akan melatih kita agar
senantiasa ingin selalu dekat dengan Allah
merindukan-Nya bila banyak terlupa.
Para sahabat nabi saw hijrah dalam keadaan
miskin meninggalkan harta kekayaannya di
Mekkah, setelah di Medinah, mereka kembali lagi
memiliki harta kekayaannya. Jangan berat
melepas apa pun yang menjadi hijab kepada
Allah. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini
kecuali kita bisa selamat husnul khatimah.
Maka, bila memiliki keinginan, mestinya
keinginannya hanya satu, yakni bisa bersih hati.
Nanti diberi dunia yang tidak akan ke mana-mana.
Dunia ada di tangan, kalau takdirnya kaya, kaya di
hati kaya di tangan, di hati tidak ada di tangan ada.
Di hati tidak ada harta di tangan pun tidak ada,
karena dimanfaatkan di jalan Allah SWT.
Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit
maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu
rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan
mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS
Al An ’am : 3)
Mau terang-terangan atau secara sembunyi
semuanya dihitung Allah. Mari kita bermujahadah
dengan ikhlas, sebab bila tidak ikhlas, kita bisa
menjadikan mujahadah ini sebagai obyek pura-
pura, tidak asli, mengangkat diri di hadapan
manusia. Mau berpuluh tahun tidak akan sampai
bila seperti itu.
oleh Aa Gym
sumber eramuslim

No comments:

Post a Comment