Segala puji bagi Allah, Yang Maha Mengetahui
segala perkara yang ghaib.
Segala puji bagi Allah yang dengan mengingat-
Nya, hati merasa tentram.
Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (tuhan yang haq
untuk disembah) melainkan Allah semata, tiada
sekutu baginya. Yang paling mulia untuk diminta
dan Yang paling luhur untuk diharap.
Dan aku bersaksi bahwa penghulu dan nabi kami,
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang
diutus menjelang datangnya hari Kiamat, sebagai
pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan, penyeru kepada Agama Allah dengan
izin-Nya, serta menjadi cahaya yang menerangi.
Semoga shalawat, salam dan keberkahan-Nya
senantiasa tercurah kepadanya hingga hari
kiamat, dan kepada segenap orang-orang yang
berjalan di atas manhajnya dan mengikuti
jalannya hingga hari kiamat (kelak). Amma ba ’du :
Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa
Barakatuh.
Saudara-saudaraku seakidah :
Sesungguhnya kelembutan, kekhusyu’an serta
keluluhan hati kepada Sang Pencipta dan Yang
membentuk hati-hati tersebut merupakan suatu
pemberian dari Ar-Rahman (Yang Maha
Penyayang) dan sebuah karunia dari Ad-Dayyan
(Yang membuat perhitungan) yang patut
mendapatkan maaf dan ampunan-Nya. Menjadi
tempat perlindungan yang kokoh dan benteng
yang tidak dapat ditembus dari kesesatan dan
kemaksiatan.
Tidaklah hati yang lembut kepada Allah Azza wa
Jalla melainkan pemiliknya (adalah) seorang yang
bersegara mengejar segala bentuk kebajikan dan
sigap terhadap segala bentuk keta ’atan dan
keridhaan.
Tiada kelembutan dan keluluhan hati kepada Allah
Azza wa Jalla melainkan anda akan mendapati
pemiliknya sebagai orang yang paling menaruh
perhatian penuh terhadap segala bentuk ketaatan
dan kecintaan kepada Allah. Tiadalah ia diingatkan
melainkan segera sadar, dan tiadalah ia
diberitahukan melainkan segara mengerti.
Tidaklah kelembutan itu masuk ke dalam hati
melainkan anda akan mendapati pemiliknya
(senantiasa) berada dalam keadaan tentram
dengan berzikrullah (mengingat Allah), lidahnya
(senantiasa) basah dengan (ucapan) syukur dan
pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta ’ala.
Tiada hati yang lembut karena Allah Azza wa Jalla
melainkan anda akan menemukan pemiliknya
sebagai orang yang sangat jauh perilakunya dari
segala bentuk kedurhakaan kepada Allah Azza wa
Jalla.
Maka hati yang lembut merupakan hati yang
(senantiasa) merasa hina di hadapan keagungan
dan keperkasaan Allah Tabaraka wa Ta ’ala.
Tiada penyeru syaithan berusaha mencabutnya,
melainkan (hatinya tetap) luluh merasa khawatir
dan takut terhadap (keagungan) Ar-Rahman
Tabaraka wa Ta ’ala.
Dan tidaklah penyeru kesesatan dan hawa nafsu
datang kepadanya, melainkan menggigil
ketakutan (hati tersebut) dari ketakutan kepada Al-
Malik (Maha Raja) Subhanahu wa Ta ’ala.
Hati yang lembut, (mengindikasikan) pemiliknya
adalah seorang yang jujur, diatas segala bentuk
kredibilitas apapun.
Hati yang lembut (itulah sejatinya) kelembutan,
dan sebaik-baiknya kelembutan.
Namun (pertanyaannya) siapakah yang
mengkaruniakan kelembutan dan keluluhan hati?
Siapakah yang memperkenankan (rasa)
kekhusyuan dan kesadaran hati untuk kembali
kepada Rabbnya?
Siapakah yang sekiranya Ia berkehendak
membalikkan hati ini, sehingga menjadi yang
paling lembut untuk mengingat Allah Azza wa
Jalla, dan paling khusyuk saat mentadabburi ayat-
ayat dan keangungan-Nya?
Siapakah Dia? Maha suci Ia yang tiada Ilah Ilah
(tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Dia
(semata). Seluruh hati manusia diantara dua jari
dari jari-jari-Nya, Dialah yang membolak-balikan
hati sebagaimana yang Ia kehendaki. Maka (bisa
jadi) anda akan mendapati seorang hamba yang
sangat keras hatinya, namun Allah tidak
menghendaki selain merahmati, menyayangi,
mengkaruniai dan memuliakannya.
Sehingga datanglah sekelumit momentum yang
menakjubkan tersebut, menghujamkan iman
mengoyak keterpurukan hatinya tersebut, setelah
Allah berkenan memilih dan menetapkan pemilik
hati tersebut sebagai orang yang layak
mendapatkan rahmat-Nya.
Maka tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah)
melainkan Allah, dari kelompok orang-orang
sengsara kepada kelompok orang-orang bahagia.
Dari kalangan orang-orang yang keras hatinya
kepada kalangan orang-orang yang lembut
hatinya, setelah sebelumnya kasar tutur kata dan
perangkainya. Tidak mengenal kebajikan dan tidak
mengingkari kemungkaran, melainkan menuruti
hasrat hawa nafsunya. Saat ia bertawajjuh
(menghadap) kepada Allah dengan hati, dan Ia
mengubahnya.
Kalaulah dengan kondisi hati tersebut, yang
lancang atas batasan-batasan Allah Azza wa Jalla,
sehingga seluruh anggota tubuhnya pun
menurutinya dalam berbuat kelancangan
tersebut. Jika dengan situasi yang demikian,
dalam sekelumit saja dapat berubah keadaannya,
dan menjadi baik akibat dan efeknya, sehingga ia
menjadi sadar, mengetahui dimana ia harus
melangkahkan kakinya dalam perjalanannya.
Saudaraku yang kusayangi karena Allah :
Sesungguhnya ia adalah suatu kenikmatan yang
tidak akan anda jumpai di atas permukaan bumi
ini kenikmatan yang lebih besar dan agung
daripadanya, (yaitu) kenikmatan berupa
kelembutan hati dan kesadaran untuk kembali
kepada Allah Tabaraka wa Ta ’ala.
Sungguh Allah Azza wa Jalla telah memberitakan,
bahwa tidaklah hati yang terhalang dari
kenikmatan ini melainkan pemiliknya akan
diancam dengan adzab Allah, Dia Subhanahu
berfirman :
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن
ذِكْرِ اللَّهِ ﴿ سورة الزمر: 22 ﴾
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi
mereka yang telah membatu hatinya untuk
mengingat Allah. (QS.39:22).
Kecelakaan, siksaan dan bencana bagi hati-hati
yang keras dari mengingat Allah. Dan
kenikmatan, rahmat dan kebahagiaan serta
kesuksesan bagi hati yang luluh dan takut kepada
Allah Tabaraka wa Ta ’ala.
Karena itu -saudara-saudaraku seaqidah-, tiadalah
seorang mukmin yang jujur dalam keimanannya
melainkan ia senantiasa berpikir untuk mencari
jalan agar hatinya dapat menjadi lembut?
(Berpikir) bagaimana supaya saya dapat
memperoleh kenikmatan ini?
Maka saya mesti harus menjadi kekasih Allah
Azza wa Jalla, menjadi bagian dari para wali-wali-
Nya. (Yang) tiada mengenal istirahat dan
kesenangan melainkan mencintai dan menaati-
Nya Subhanahu wa Ta ’ala (saja). Karena ia
menyadari bahwa tiada terhalang kenikmatan ini,
melainkan (akan) terhalang (pula) dari segala
kebaikan yang banyak.
Karenanya, berapa banyak orang-orang baik
yang pada sebagian keadaan dan situasi yang
menimpanya, mereka membutuhkan kepada
orang yang dapat melembutkan hati-hati mereka.
Maka perkara hati ini merupakan perkara yang
menakjubkan, dan keadaannya asing (tidak dapat
diterka).
Terkadang hati merespon kebaikan, dan saat
keadaannya demikian ia sangat lembut terhadap
Allah Azza wa Jalla dan menyeru-nyeru kepada
Allah.
Seandainya (dalam keadaan tersebut) ia diminta
untuk menginfakkan seluruh hartanya karena
cinta kepada Allah, niscaya akan diberikannya.
Sekirannya diminta untuk menyerahkan jiwanya
di jalan Allah, niscaya akan dikorbankannya.
Sesungguhnya ia merupakan sekelumit
(momentum) saja, dimana Allah memenuhi hati-
hati tersebut dengan rahmat (kasih sayang)nya.
Sebaliknya terdapat (pula) sekelumit-sekelumit
momentum (lainnya) yang dapat merubah
keadaan orang beriman terhadap Allah Tabaraka
wa Ta ’ala, (yaitu) sekelumit-sekelumit momentum
yang mengeraskan (hati manusia). Tidaklah
seorang manusia sekiranya ia melewati situasi ini
(sekalipun hanya) sebentar saja, niscaya hatinya
akan mengeras dan merasa sakit di dalamnya,
sampai-sampai begitu sangat kerasnya bagaikan
batu. Al- ‘Iyadzu billah (berlindung kepada Allah
dari situasi semacam itu).
Ada beberapa faktor yang melembutkan
hati dan ada (pula) faktor-faktor yang dapat
mengeraskan hati :
Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mempersilahkan
dan mengutamakan (pembahasan ini) dengan
mengarahkan kepada penjelasan-penjelasan di
dalam al-Qur`an. Tidak ada (upaya
menghadirkan) kelembutan hati dengan cara
yang lebih agung dibanding (dengan) sebab iman
kepada Allah Tabaraka wa Ta ’ala.
Tiada seorang hamba (pun) yang telah mengenal
Rabbnya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
melainkan hatinya akan menjadi lembut terhadap
Allah Azza wa Jalla, dan (dengan sendirinya) ia
akan menegakkan batasan-batasan Allah. Tiadalah
ayat al-Qur`an dan hadits Rasulullah datang
kepadanya melainkan ia akan
mengimplementasikan dengan bahasa perangai
dan tutur:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ
رَبَّنَا وَإِلَيْكَ
الْمَصِيرُ ﴿285﴾ سورة البقرة
"Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka
berdo`a): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami
dan kepada Engkaulah tempat
kembali ’." (QS.2:285).
Maka tiadalah seorang hamba yang telah
mengenal Allah dengan nama-nama-Nya yang
baik dan telah mengenal Rabbnya -yang
ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu,
sementara Dialah yang melindungi, namun tiada
yang dapat dilindungi dari (siksa)-Nya-, melainkan
anda akan mendapatinya berpacu kepada
kebaikan, dan berpaling dari keburukan.
Faktor terpenting yang menjadikan hati lembut
terhadap Allah Azza wa Jalla dan luluh dari rasa
ketakutan yang timbul karena mengenal Allah
Tabaraka wa Ta ’ala, dimana seorang hamba telah
yang mengenal Rabbnya.
Yang Pertama :
Mengenal-Nya, bahwa tiadalah segala sesuatu di
alam semesta ini melainkan hal itu
mengingatkannya kepada Rabbnya. Pagi dan
petang mengingatkannya akan Rabb yang Maha
agung. Nikmat dan bencana mengingatkannya
kepada yang Maha Penyantun dan Mulia.
Kebaikan dan keburukan mengingatkannya
terhadap Yang dapat (mendatangkan) kebaikan
dan (menolak) keburukan, yaitu Subhanahu wa
Ta ’ala.
Maka barangsiapa yang mengenal Allah, hatinya
menjadi lembut karena takut akan keagungan
Allah Tabaraka wa Ta ’ala.
Sebaliknya, tidaklah anda mendapati hati yang
keras melainkan anda akan menjumpai
pemiliknya sebagai seorang hamba yang paling
bodoh (ajhal) mengenai Allah Azza wa Jalla, dan
sangat jauh untuk mengenal Allah mengenai
keperkasaan dan siksaan-Nya, dan ia merupakan
sepandir-pandirnya manusia mengenai nikmat
dan rahmat Allah Azza wa Jalla.
Sehingga sungguh anda akan menjumpai
sebagian orang-orang durhaka sudah sangat
berputus asa dari kasih sayang Allah, dan merasa
sangat pupus harapan dari rahmat-Nya. Kita
berlindung kepada Allah terhadap situasi
kebodohan mengenai Allah (al-jahl billah).
Lalu ketika ia jahil (bodoh) mengenai Allah, maka
ia akan bersikap lancang terhadap batasan-
batasan-Nya, lancang terhadap larangan-
larangan-Nya, dan ia tidak mengenal melainkan
pada malam dan siang harinya ia berbuat
kefasikan dan kedurhakaan. Demikianlah yang
diketahui dari kehidupannya, dan beginilah yang
dapat diprediksi berkenaan dengan target
keberadaan dan masa depannya.
Karena itu –Saudaraku yang kucintai karena
Allah-, mengenal Allah Azza wa Jalla merupakan
suatu cara (efektif) untuk dapat melembutkan hati.
Sebab itu setiap orang yang anda temui
memberikan pelajaran, mengekalkan tafakkur
akan kekuasaan Allah. Ketika anda mendapatkan
di dalam hatinya ada kelembutan, di saat itu pula
anda akan mendapati hatinya khusyu` dan luluh
kepada Allah Tabaraka wa Ta ’ala.
Faktor Kedua :
Yang meluluhkan dan melembutkan hati, dan
menolong seorang hamba atas kelembutan
hatinya dari rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla
adalah memperhatikan ayat-ayat al-Qur`an ini.
Perhatian dalam hal ini merupakan jalan yang
dapat mengantarkan kepada hidayah taufik dan
kebenaran. Menaruh perhatian penuuh terhadap
al-Qur`an telah dideskripsikan Allah dalam firman-
Nya :
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ
فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ
خَبِيرٍ ﴿1﴾ سورة هود
“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya
disusun dengan rapi serta dijelaskan secara
terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah)
yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.
(QS.11:1).
Tidaklah seorang hamba membaca ayat-ayat al-
Qur`an ketika membacanya dengan kehadiran
hati, sambil memikirkan dan merenungkan
melainkan matanya (menjadi) menangis, hatinya
(menjadi) khusyu`, jiwanya memancarkan iman
dari kedalamnya, hendak berjalan menuju Allah
Tabaraka wa Ta’ala. Sekiranya permukaan hati itu
berbalik setelah (berinteraksi dengan) ayat-ayat al-
Qur`an, menjadi lahan subur bagi kebaikan,
kecintaan dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Tidaklah seorang hamba membaca al-Qur`an dan
menyimak ayat-ayat Allah melainkan anda akan
mendapati pasca pembacaan dan perenungan,
sebuah kelembutan. Sungguh hati dan kulitnya
akan bergetar karena takut akan keagungan Allah
Tabaraka wa Ta ’ala. Firman-Nya Ta’ala :
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ
كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ
تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ
يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ
جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ
اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي
بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ
فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴿23﴾ سورة الزمر
“Allah telah menurunkan perkataan yang
paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa
(mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang,
gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi
tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah,
dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
disesatkan Allah, maka tidak ada
seorangpun pemberi petunjuk
baginya. ” (QS.39:23).
Inilah al-Qur`an yang mengagumkan, sebagian
sahabat dibacakan beberapa ayat-ayat al-Qur`an
maka (langsung) berbalik dari paganisme kepada
ketauhidan, dari menyekutukan Allah kepada
menyembah Rabbnya Subhanahu wa Ta ’ala
(hanya) dengan beberapa ayat-ayat sederhana.
Al-Qur`an ini merupakan nasehat dari Rabb
semesta alam, firman dari Tuhan umat-umat
terdahulu maupun generasi-generasi selanjutnya,
tiadalah seorang hamba membacanya melainkan
dimudahkan baginya mendapatkan tuntunan
(Ilahi) saat membacanya, karenanya Allah
berfirman dalam Kitab-Nya :
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ
لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿17
﴾ سورة القمر
017. Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka
adakah orang yang mengambil pelajaran?
(QS.Al-Qamar (54):17).
Apakah di sana ada orang yang hendak
mengambil pelajaran?
Apakah di sana ada orang yang menginginkan
(mendapatkan) pesan sempurna dan nasehat
yang tinggi? ... Inilah al-Qur`an kami.
Karenanya – saudara yang kucintai karena Allah-
tiada hati yang merasa ketagihan, dan tidak pula
seorang hamba yang ketagihan untuk membaca
al-Qur`an, menjadikan al-Qur`an selalu
bersamanya, sekiranya dia belum hapal maka ia
dapat membacanya sepanjang malam dan siang
hari, melainkan lembutlah hatinya karena rasa
takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Faktor Ketiga :
Diantara faktor-faktor yang membantu
melembutkan hati dan kesadaran untuk
senantiasa kembali kepada Allah Tabaraka wa
Ta ’ala, adalah seorang hamba sadar bahwa ia
akan kembali kepada Allah, senantiasa sadar
bahwa setiap permulaan (selalu ada) akhirnya.
Bahwa tidaklah setelah kematian yang merupakan
bagian perjalanan yang harus dilewati, dan tidak
pula setelah (menjalani) kehidupan dunia,
melainkan (kesudahannya) surga atau neraka.
Maka sekiranya seorang manusia sadar bahwa
kehidupan (dunia) akan berakhir, dan bahwa
(dunia) merupakan kesenangan (sementara) yang
akan binasa, bahwa ia sesuatu yang menipu dan
penghalang, Dia menjadikan -demi Allah- itu
semua sebagai kehinaan dunia dan merespon
Pemilik dunia ini dengan begitu responsif, rasa
kembali dan kejujuran, maka lembutlah hatinya.
Barangsiapa yang merenungi kubur, dan
merenungi keadan-keadaan penduduknya,
niscaya hatinya akan luluh, hatinya akan terbebas
dari segala kebekuan dan hal-hal yang menipu.
Kita mohon perlindungan kepada Allah dari hal-
hal demikian itu.
Karenanya anda tidak akan mendapati seorang
yang biasa berziarah kubur dengan bertafakkur,
merenungi, dan mentadabburi, ketika ia
mengingat orang-orang tua, saudara-saudari,
sahabat-sahabat, orang-orang yang dicintainya.
Ketika ia mengingat kedudukan-kedudukan
mereka, dan sadar bahwa waktunya sudah
sangat dekat keberadaannya di tengah-tengah
mereka, bahwa sebentar lagi ia akan menjadi
tetangga sebagian dengan sebagian lainnya. Telah
terputus kunjungan diantara mereka dengan
tetangganya. Dan bahwa mereka telah saling
berdekatan kuburnya, dan diantara keduanya
sebagaimana antara langit dan bumi, kenikmatan
(surga) dan (siksa) neraka.
Tidaklah seorang hamba mengingat kedudukan-
kedudukan yang dianjurkan oleh Nabi saw. untuk
mengingatnya, melainkan melembutkan hatinya
dari rasa takut akan keagungan Allah Tabaraka wa
Ta ’ala.
Barangsiapa yang berdiri di atas liang kubur yang
telah selesai digali, lalu ia memperkirakan dirinya,
sekiranya ialah yang akan dimasukkan liang kubur
tersebut. Dan tidaklah ia berdiri di hadapan liang
kubur, melihat tubuhnya sedang diturunkan ke
dalamnya, maka ia akan bertanya kepada dirinya
sendiri :
- Apa yang terjadi setelah ditutup
(kuburnya)?
- Siapakah (pribadi) yang ditutup kuburnya
(ini)?
- Atas dasar apa ditutup (kuburnya)?
- Apakah (kuburnya) ditutup atas (dasar)
ketaatan atau kemaksiatan(nya)?
- Apakah (kuburnya) ditutup atas siksa
(kubur) atau atas kenikmatan (kubur)?
Tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah)
melainkan Dia, Yang Maha mengetahui keadaan-
keadaan mereka yang sebenarnya, Dialah Yang
Maha menetapkan hukum lagi Maha adil yang
memisah-misahkan diantara mereka (sesuai
dengan perbuatannya).
Tiada seorang hamba melihat pemandangan-
pemandangan ini, dan tidak pula terkumpul
dalam dirinya renungan-renungan ini, melainkan
berguncang hatinya karena rasa takut dan
kengerian terhadap keagungan Allah Tabaraka wa
Ta ’ala. Berserah kepada Tabaraka wa Ta’ala
dengan penyerahan yang sejujurnya dan kembali
serta tekun (dalam ketaatan kepada-Nya).
(Saudaraku) yang kucintai karena Allah :
Separah-parahnya penyakit yang menimpa hati
adalah penyakit kebekuan hati, dan kita berlindung
atas keadaan yang demikian itu.
Dan faktor terbesar yang menyebabkan kerasnya
hati setelah kebodohan mengenai Allah Tabaraka
wa Ta ’ala adalah kecondongan kepada dunia dan
bangga akan status keduniaannya, serta terlalu
sibuk dengan ucapan-ucapan yang berlebihan.
Sesungguhnya ini merupakan bagian dari faktor
penyebab terbesar yang mengeraskan hati-hati,
wal ’iyadzu billah Tabaraka wa Ta’ala. Karena jika
seorang hamba telah disibukkan dengan perkara
mengambil dan menjual, dan disibukkan pula
dengan berbagai fitnah dan tribulasi yang
membinasakan, hal ini hanya mempercepat
proses pengerasan hatinya (saja). Karena semua
perkara tersebut, jauh dari (hal-hal yang dapat)
mengingatkan dirinya terhadap Allah Tabaraka wa
Ta ’ala.
Karena itu, sudah seyogyanya bagi setiap orang
yang hendak menerjuni (urusan-urusan) dunia
ini, untuk menerjuninya dengan penuh
kehalusan. Agama kita bukanlah agama para
rahib (pendeta), dan tidak (boleh) mengharamkan
yang telah dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta ’ala,
dan tidak membatasi kita dengan perkara-perkara
yang baik.
Namun dijalani dengan penuh seksama, maka
ketentuan-ketentuan takdir telah ditetapkan oleh
pena-Nya, dan ketentuan-ketentuan rezeki (juga)
telah ditetapkan. Manusia mengambilnya dengan
sebab-sebab usahanya, tanpa adanya benturan
dengan qadha` dan qadar.
Ia mengambil bagiannya dengan sikap yang
lembut dan penuh keridhaan dari Allah tabaraka
wa Ta ’ala sesuai yang dimudahkan baginya, lalu
mengucapkan pujian (hamdalah) dan bersyukur
kepada Sang Penciptanya, sehingga
mempercepat turunnya keberkahan padanya,
dan mampu mencegah terjadinya bencana
kebekuan (hati), kami memohon kepada Allah
keselamatan dari perkara tersebut.
Sebab itu, faktor terbesar yang menyebabkan
terjadinya kekerasan hati adalah kecenderungan
terhadap dunia. Anda akan mendapati para
pemilik hati yang keras kebanyakan mereka
memiliki kesibukkan dengan perkara-perkara
dunia, mereka mengorbankan segala sesuatu,
mengorbankan waktu-waktu mereka,
mengorbankan shalat-shalat mereka, mereka rela
terjerambat ke dalam perbuatan-perbuatan
senonoh dan membinasakan. Tetapi dunia ini
(malah) yang menarik mereka, tidak mungkin
seorang dari mereka berkorban (hanya) dengan
satu dinar atau dirham saja (untuk mencapai
kepentingan-kepentingan duniawi mereka),
karenanya dunia ini telah merasuk ke dalam
hatinya.
Dan dunia itu bercabang-cabang, dunia
bercabang-cabang, sekiranya seorang hamba
mengetahui hakikat percabangan ini, niscaya
pagi-petang lisannya akan terengah-engah kepada
Rabbnya :
“Ya Rabbku, selamatkan aku dari fitnah dunia ini,
sesungguhnya di dalam perkara dunia ini
(memiliki) berbagai cabang-cabang, dimana
tidaklah hati cenderung kepada salah satunya
melainkan ia akan bernafsu kepada cabang
berikutnya, kemudian yang berikutnya (lagi),
hingga ia jauh dari (mengingat) Allah Azza wa
Jalla. Kedudukannya menjadi merosot di sisi
Allah, dan Allah tidak peduli akan kebinasaan
dirinya (yang sedang terperangkap) di dalam satu
lembah dari lembah-lembah dunia yang ada. Wal
‘ iyadzu billah.
Hamba yang lupa akan Rabbnya ini, merespon
dunia ini dengan penuh hormat, maka ia
mengagungkan dengan sikap yang tidak
semestinya untuk diagungkan, mengacuhkan
siapa yang seharusnya dibesarkan, diagungkan
dan dimuliakan (yaitu) Subhanahu wa Ta ’ala.
Sebab itu ia layak mendapatkan akibat yang
terburuk sekalipun. Wal ‘iyadzu billah.
Dan diantara faktor penyebab kerasnya hati:
Bahkan termasuk faktor yang paling
menyebabkan kerasnya hati, duduk bersama
dengan orang-orang durhaka, dan bergaul
dengan orang yang tidak memiliki kebaikan dalam
interaksinya. Dengan demikian, tidaklah seorang
manusia menjalin pertemanan yang tidak
membawa kebaikan dalam pertemanannya itu
melainkan hatinya menjadi keras dari mengingat
Allah Tabaraka wa Ta ’ala. Dan tidaklah ia mencari
orang-orang yang baik, melainkan mereka
(membantu) melembutkan hatinya kepada Allah
yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan tidaklah ia
tamak terhadap majelis-mejelis mereka,
melainkan kelembutan akan datang kepadanya, ia
mau ataupun tidak. Datang kepadanya untuk
meneguhkan kelemahan hatinya, selanjutnya
mengeluarkannya sebagai seorang hamba shalih
yang sukses, yang merasa akherat berada
dihadapannya.
Karenanya sudah seyogyanya bagi setiap orang,
sekiranya harus berinteraksi dengan orang-orang
jahat (juga), agar bergaul dengan penuh
kewaspadaan, dan jadikanlah interaksinya itu
sebatas yang diperlukan, sehingga terselamatkan
agamanya, dan pokok kekayaan dunia ini adalah
agama.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon dengan
nama-nama-Mu yang baik, dan sifat-sifatmu
yang tinggi, agar berkenan mengkaruniakan hati-
hati yang lembut kepada kami agar (senantiasa)
mengingat dan bersyukur kepada-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-
Mu hati-hati yang tenang untuk mengingat-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-
Mu lisan-lisan yang senantiasa basah menyebut-
Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-
Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar,
hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, amal
shaleh yang diterima di sisi-Mu, wahai Yang Maha
Mulia.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-
Mu dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang
tersembunyi.
Subhana Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘Amma Yashifun,
wa salamun ‘ala mursalin walhamdulillahi Rabbil
‘Alamin.
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa
Barakatuh.
Saudaraku yang kucintai – semoga Allah
berkenan menjagamu.
Kami tidak bermaksud dalam penyebarluasan
materi ini hanya sekedar untuk dibaca atau
disimpan di komputer saja, bahkan kami
berharap adanya respon yang lebih jauh lagi dari
anda, diantara :
- Menyebarluaskan materi ini di situs-situs
internet lainnya.
- Mengeditnya, untuk kemudian mencetak
dan mengemasnya dengan cara yang menarik,
bagai hadiah yang akan diberikan kepada orang-
orang yang dicintai dan sahabat-sahabat lainnya.
- Syaikh penulis karya ini telah mengizinkan
bagi yang berniat mencetaknya, seperti buku
saku sebagai amal jariah bagi anda hingga hari
Kiamat.
Saudaraku yang kucintai, (semoga) kami diikut
sertakan dalam doa-doa anda, dikesendirian anda.
Mengenai usulan-usulan anda, pengarahan-
pengarahan anda untuk saudara anda, mungkin
anda dapat berpartisipasi dalam usaha amal besar
ini.
Ya Allah, jadikanlah amalan ini sebagai amalan
yang ikhlash demi wajah-Mu yang Mulia,
By: Asy-Syaikh Muhammad Mukhtar Ay-Syinqithi
No comments:
Post a Comment