Wednesday, November 10, 2010

Mengingat kematian dan menyiapkan Diri untuk menghadapinya

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap
makhluk yang bernyawa pasti akan mati, hanya
tidak ada di antara kita yang mengetahui kapan
kematian itu akan datang
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap
jiwa pasti akan merasakan mati…"
Karena kematian itu pasti akan tiba, maka
Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita
semua agar selalu mengingatnya dan
menyiapkan diri dengan bekal setelah kematian
itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat yang
memutuskan kenikmatan (maksudnya:
kematian)."
Dalam hadits ini Rasulullah SAW menganjurkan
kepada kita semua agar selalu mengingat yang
memutuskan atau mengalahkan atau
menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian yang
suatu saat pasti akan tiba, bahkan seringkali
datang tanpa terduga dan secara tiba-tiba. Ibnu
Umar RA berkata: "Aku sedang duduk bersama
Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari
golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada
Nabi seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, mukmin
yang seperti apa yang paling utama? Beliau
menjawab:
أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
'Yang paling baik akhlaknya.'
Ia bertanya lagi, 'Mukmin seperti apakah yang
paling cerdas? Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا
وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ
اسْتِعْدَادًا, أُولئِكَ اْلأَكْيَاسُ
"Yang paling banyak mengingat kematian dan
yang paling baik mempersiapkan diri untuk
sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang
yang cerdas."
Inilah standar kecerdasan yang sebenarnya, yaitu
tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti akan
tiba dan menyiapkan diri dengan sebenarnya
untuk hal itu. Tanpa adanya persiapan diri untuk
kematian itu, tentu hanya sekedar mengingat
tidak banyak berguna dan tidak bermanfaat. Oleh
karena itu, cobalah kita bercermin untuk melihat
diri kita sendiri, sebelum orang lain, apakah kita
sudah memulai untuk melaksanakan perintah
Rasulullah SAW ini? Kalau kita sudah memulainya,
kalau sudah, lalu bagaimana dengan orang-orang
terdekat kita?
Para ulama rahimahullah berkata: sabda
Rasulullah SAW yang berbunyi "Perbanyaklah
mengingat yang memutuskan kenikmatan
(maksudnya: kematian)." Merupakan kalimat
ringkas yang menggabungkan peringatan dan
nasehat, maka orang yang teringat kematian
dengan sebenarnya pasti akan mengurangi
nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan dan
menghalanginya berangan-angan yang tak
berujung, serta membuat dia bersikap zuhud
terhadap kenikmatan dunia yang semu. Akan
tetapi jiwa yang kosong dan hati yang lupa
membutuhkan nasehat yang panjang dan kalimat
yang indah. Jika tidak demikian, maka dalam
sabda Nabi "Perbanyaklah mengingat yang
memutuskan kenikmatan (maksudnya:
kematian)" dan firman Allah SWT:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…"
Sudah cukup sebagai nasehat yang utama.
Khalifah Umar bin Khaththab RA sering membuat
perumpamaan dengan bait-bait sya'ir berikut ini:
Tidak ada sesuatu yang engkau lihat tetap
keceriaannya
Tuhan tetap kekal sedangkan harta dan anak akan
binasa
Perbendaharaan harta yang dimiliki Hurmuz, tidak
bisa memberi manfaat kepadanya walau hanya
satu hari.
Dan keabadian yang diusahakan oleh kaum 'Aad,
maka mereka tetap tidak bisa kekal.
Tidak pula Nabi Sulaiman AS saat angin bertiup
untuknya
Sedang jin dan manusia datang di antaranya
Di manakah para raja yang karena kebesarannya
Setiap utusan datang kepadanya dari setiap
penjuru?
Telaga yang ada di sana pasti akan didatangi,
bukan dusta
Suatu hari pasti mendatanginya, sebagaimana
diriwayatkan
Apabila sudah jelas keterangan di atas, ketahuilah
bahwa mengingat mati mewariskan rasa gelisah
terhadap dunia yang fana ini dan setiap saat
memusatkan fikiran ke negeri akhirat yang kekal
abadi. Kemudian, setiap manusia tidak terlepas
dari dua sisi kehidupan: kesempitan hidup dan
keluasan, nikmat dan cobaan. Maka jika ia berada
dalam kesempitan dan cobaan, mengingat
kematian memudahkan dia menghadapi semua
itu. Sesungguhnya ia tidak kekal dan kematian
lebih susah dari hal itu, atau di saat kenikmatan
dan keluasan, maka mengingat mati menghalangi
dia dari terperdaya dengannya dan cenderung
kepadanya, karena ingat mati memutuskannya
dari semua kenikmatan itu. Alangkah indahkan
orang yang berkata:
Ingatlah kematian yang meruntuhkan kenikmatan
Dan persiapkan untuk kematian yang pasti akan
tiba
Yang lain berkata:
Dan ingatlah kematian niscaya engkau
mendapatkan ketenangan
Dalam mengingat kematian memutuskan angan-
angan.
Semua umat sepakat (konsensus) bahwa
kematian tidak mempunyai batasan umur yang
diketahui dan tidak pula zaman yang diketahui,
agar seseorang menyiapkan diri menghadapi hal
itu. Sebagian orang shalih berseru di malam hari
di pinggiran kota Madinah: Berangkat, berangkat.
Maka tatkala ia wafat, amir (gubernur) kota
Madinah bertanya tentang dia, maka dikabarkan
bahwa ia telah meninggal dunia, maka amir itu
berkata berkata:
Senantiasa ia melantunkan keberangkatan dan
mengingatkannya
Sehingga unta berhenti di depan pintunya
`Maka ia terjaga, bersungguh-sungguh
Bersiap-siap, tidak terlalaikan oleh angan-angan.
Yazid ar-Raqqasy rahimahullah berkata kepada
dirinya sendiri: 'Celakalah engkau wahai Yazid,
siapakah yang menshalatkan engkau setelah
meninggal dunia? Siapakah yang menggantikan
puasa engkau setelah mati? Siapakah yang
memohon keridhaan Rabb untukmu setelah
engkau wafat? Kemudian ia berkata, 'Wahai
manusia, apakah engkau tidak menangisi dan
meratapi dirimu sendiri di hari-harimu yang
masih tersisa? Siapa yang kematian mencarinya,
kubur sebagai rumahnya, tanah sebagai
kasurnya, ulat sebagai temannya, di samping itu
ia sedang menunggu kejutan terbesar,
bagaimanakah keadaannya?' Kemudian ia
menangis sehingga jatuh pingsan.
At-Taimi rahimahullah berkata, 'Dua perkara yang
memutuskan kenikmatan dunia dariku: Mengingat
mati dan mengingat posisi saat berada di
hadapan Allah SWT.' Khalifah Umar bin Abdul
Aziz rahimahullah mengumpulkan para ulama,
maka mereka saling mengingatkan mati, hari
kiamat dan akhirat, lalu mereka menangis
sehingga seolah-olah di hadapan mereka ada
jenazah.
Abu Nu'aim rahimahullah berkata: Apabila Sufyan
ats-Tsauri rahimahullah diingatkan mati, tidak bisa
diambil manfaat dengannya selama beberapa hari
(maksudnya: ia tidak bisa mengajar). Jika ia
ditanya tentang suatu masalah, ia berkata: Aku
tidak tahu, aku tidak tahu.' Asbath rahimahullah
berkata: Seorang laki-laki dipuji-puji di hadapan
Nabi , maka Rasulullah SAW bertanya:
"Bagaimana ingatnya terhadap mati?' Maka hal itu
tidak disebutkan darinya. Maka beliau bersabda:
'Dia tidak seperti yang kamu katakan."
Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Barangsiapa
yang benyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan
dengan tiga perkara: Segera bertaubat, hati
bersifat qana'ah, dan rajin dalam beribadah. Dan
barangsiapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa
dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat,
tidak ridha dengan menahan diri dari meminta,
dan malas dalam ibadah. Maka pikirkanlah -wahai
yang terperdaya- tentang mati dan saat sakaratul
maut, berat dan pahitnya. Wahai kematian,
sebuah janji yang pasti benar dan hakim yang
sangat adil. Cukuplah kematian yang melukai hati,
membuat mata menangis, memisahkan
kelompok, menghancurkan kenikmatan, dan
memutuskan angan-angan. Apakah engkau
sudah memikirkan wahai keturunan Adam di hari
kematianmu, berpindahmu dari tempatmu. Dan
apabila engkau telah dipindah dari tempat yang
luas ke tempat yang sempit, sahabat dan
rekanmu mengkhianatimu, saudara dan
temanmu meninggalkanmu, dan mereka
menutupimu dengan tanah setelah sebelumnya
engkau diselimuti kain yang lembut. Wahai yang
mengumpulkan harta dan bersungguh-sungguh
dalam bangunan, tidak ada sesuatu pun untukmu
selain kain kafan. Bahkan demi Allah hanya untuk
kehancuran dan sirna, dan tubuhmu untuk tanah
dan tempat kembali. Maka di manakah harta yang
engkau kumpulkan? Apakah bisa menyelamatkan
engkau dari huru hara? Sama sekali tidak, bahwa
engkau meninggalkannya kepada orang yang
tidak memujimu, engkau memberikan dengan
dosa-dosamu kepada orang yang tidak
memaafkanmu.
Alangkah indahnya orang yang berkata dalam
firman Allah SAW:
وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ
الآخرة
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, (QS.
al-Qashash:77)
Maksudnya Wallahu A'lam-: carilah di dalam
dunia yang diberikan Allah SWT kepadamu untuk
negeri akhirat, yaitu surga. Maka sesungguhnya
hak seorang mukmin bahwa ia memalingkan
dunia untuk yang berguna di akhirat, bukan pada
tanah, air, tindakan sombong dan zalim. Seolah-
olah mereka berkata: Jangan lupa bahwa engkau
akan meninggalkan semua hartamu kecuali untuk
kafan yang menjadi jatahmu. Dan seperti inilah
ungkapan seorang penyair:
Jatahmu dari semua yang engkau kumpulkan
Dua selendang yang dilipat dan pengawet
Dan yang lain berkata:
Ia adalah sifat qana'ah yang engkau tidak perlu
mencari gantinya
Mengandung kenikmatan dan ketenangan badan
Perhatikanlah kepada orang yang memiliki semua
dunia
Apakah ia merasakan ketenangan darinya selain
dengan kapas dan kafan?
Syaddad bin Aus RA berkata, 'Rasulullah SAW
bersabda:
اَلكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ
لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ
أَتْبَعَ نْفْسهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى
عَلَى اللهِ
"Orang yang cerdas adalah yang menghitung
dirinya dan beramal untuk masa setelah mati, dan
orang yang lemah adalah yang jiwanya
mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan
kepada Allah SWT."
Abu Ubaid rahimahullah berkata, 'Maksudnya:
menghinakannya dan memperbudaknya, maka ia
menghinakan dirinya dalam beribadah kepada
Allah SWT, sebagai amal ibadah yang
dipersiapkannya setelah mati dan untuk bertemu
Allah SWT. Dia juga menghisab dirinya terhadap
amal perbuatannya di masa lalu,
menggantikannya dengan amal shalihnya sebagai
penebus kesalahannya yang telah berlalu. Dia
berzikir kepada Allah SWT dan taat kepada-Nya di
segala tingkah lakunya. Inilah bekal sebenarnya
untuk hari kembali. Dan orang yang lemah adalah
orang kekurangan dalam semua perkara. Di
samping kekurangannya dalam ibadah kepada
Rabb-nya dan mengikuti hawa nafsunya, dia
masih berangan-angan kepada Allah SWT agar
mengampuninya. Inilah orang yang terperdaya.
Sesungguhnya Allah SWT menyuruh dan
melarangnya.
Al-Hasan al-Bashari berkata: Sesungguhnya suatu
kaum dilalaikan oleh angan-angan, sehingga ia
keluar dari dunia tanpa mempunyai amal
kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata:
Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-
ku. Dia bohong, jika ia benar-benar berbaik
sangka (husnuzh-zhann) tentu ia memperbaiki
amal perbuatan, dan ia membaca firman Allah
SWT:
وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم
بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم
مِّنَ الْخَاسِرِينَ
Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang
telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka
itu telah membinasakan kamu, maka jadilah
kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS.
Fuhshilat:23)
Sa'id bin Jubair rahimahullah berkata: Terperdaya
dengan Allah SWT bahwa seseorang terus
menerus melakukan maksiat dan berangan-
angan mendapat ampunan Allah SWT.
Baqiyyah bin al-Walid rahimahullah berkata: Abu
'Umair rahimahullah menulis kepada sebagian
saudara-saudaranya: 'Amma ba'du,
sesungguhnya engkau menjadi berharap banyak
kepada dunia dengan panjangnya usiamu dan
berangan-angan kepada Allah SWT dengan
buruknya perbuatanmu. Sesungguhnya engkau
hanyalah memukul besi yang dingin. Wassalam.'
Wallahu A'lam.
Dikutip dari kitab:
المرجع: التذكرة في أحوال الموتى وأمور
الآخرة للإمام القرطبي ، دار الحديث -
القاهرة تحقيق عصام الدين الصبابطي، ط 1
-1424 هـ
at-Tadzkiran fi ahwalil mauta wa umuril akhirah
(Peringatan tentang kondisi orang-orang yang
mati dan keadaan akhirat), bab: Dzikrul maut wal
isti'dad lahu (mengingat mati dan menyiapkan diri
untuknya).
oleh: Imam al-Qurthubi

No comments:

Post a Comment