Monday, November 22, 2010

AGAR KAMU LEBIH DICINTAI ALLAH SUBHANAHU WA TA ’ALAA

هريرة t قال : قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم : "
المؤمن القوي، خير وأحب إلى
الله من المؤمن الضعيف ، وفي
كل خير احرص على ما ينفعك ،
واستعن بالله ولا تعجز ، وإن
أصابك شيء ، فلا تقل لو أني
فعلت كان كذا وكذا ، ولكن قل
قدر الله وما شاء فعل ، فإن لو
تفتح عمل الشيطان " ) رواه
مسلم )
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu
meriwayatkan bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Seorang mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih
dicintai Allah daripada seorang
mukmin yang lemah, namun
pada masing-masingnya terdapat
kebaikan. Bersemangatlah untuk
meraih apa yang bermanfaat
bagimu, mintalah pertolongan
kepada Allah, dan jangan
bersikap lemah. Apabila sesuatu
menimpamu janganlah berkata,
‘ Seandainya dahulu aku berbuat
demikian niscaya akan begini dan
begitu. ’ Akan tetapi katakanlah,
‘Itulah ketetapan Allah dan
terserah Allah apa yang dia
inginkan maka tentu Dia
kerjakan. ’ Dikarenakan ucapan
’seandainya’ itu akan membuka
celah perbuatan syaitan.” (HR.
Muslim [2664] lihat Syarh
Nawawi, jilid 8 hal. 260).
Hadits yang mulia ini
menunjukkan beberapa hal:
Pertama:
Allah ta’ala memiliki sifat cinta
kepada sesuatu. Kecintaan Allah
kepada sesuatu bertingkat-
tingkat, kecintaan-Nya kepada
mukmin yang kuat lebih dalam
daripada kecintaan-Nya kepada
mukmin yang lemah.
Orang mukmin yang kuat adalah
orang yang menyempurnakan
dirinya dengan 4 hal;
[1] ilmu yang bermanfaat,
[2] beramal salih,
[3] saling mengajak kepada
kebenaran, dan
[4] saling menasihati kepada
kesabaran.
Adapun mukmin yang lemah
adalah yang belum bisa
menyempurnakan semua
tingkatan ini.
Kedua:
Kebaikan pada diri orang-orang
beriman itu bertingkat-tingkat.
Mereka terdiri dari tiga golongan
manusia.
Pertama - kaum As-Saabiqun ilal
Khairat, orang-orang yang
bersegera melakukan kebaikan-
kebaikan. Mereka adalah orang-
orang yang menunaikan amal
yang wajib maupun yang sunnah
serta meninggalkan perkara yang
haram dan yang makruh.
Kedua - kaum Al-Muqtashidun
atau pertengahan. Mereka itu
adalah orang yang hanya
mencukupkan diri dengan
melakukan kewajiban dan
meninggalkan keharaman.
Ketiga - Azh-Zhalimuna li
anfusihim. Mereka adalah orang-
orang yang mencampuri amal
kebaikan mereka dengan amal-
amal jelek.
Ketiga:
Perkara yang bermanfaat ada
dua macam; perkara keagamaan
dan perkara keduniaan.
Sebagaimana seorang hamba
membutuhkan perkara agama
maka ia juga membutuhkan
perkara dunia. Kebahagiaan
dirinya akan tercapai dengan
senantiasa bersemangat untuk
melakukan hal-hal yang
bermanfaat di dalam kedua
perkara tersebut.
Perkara yang bermanfaat dalam
urusan agama kuncinya ada 2;
ilmu yang bermanfaat dan
amal salih.
Ilmu yang bermanfaat adalah
ilmu yang membersihkan hati
dan ruh sehingga dapat
membuahkan kebahagiaan di
dunia dan di akhirat, yaitu ilmu
yang diajarkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
terdapat dalam ilmu hadits,
tafsir, dan fiqih serta ilmu-ilmu
lain yang dapat membantunya
seperti ilmu bahasa Arab dan
lain sebagainya.
Adapun amal salih adalah amal
yang memadukan antara niat
yang ikhlas untuk Allah serta
perbuatan yang selalu mengikuti
tuntunan Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam.
Sedangkan perkara dunia yang
bermanfaat bagi manusia adalah
dengan bekerja mencari rezeki.
Pekerjaan yang paling utama
bagi orang berbeda-beda
tergantung pada individu dan
keadaan mereka.
Batasan untuk itu adalah selama
hal itu benar-benar bermanfaat
baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengatakan,
“ Bersemangatlah untuk meraih
apa yang bermanfaat bagimu”
Keempat:
Dalam melakukan hal-hal yang
bermanfaat itu tidak sepantasnya
manusia bersandar kepada
kekuatan, kemampuan dan
kecerdasannya semata. Namun,
dia harus menggantungkan
hatinya kepada Allah ta’ala dan
meminta pertolongan-Nya
dengan harapan Allah akan
memudahkan urusannya.
Kelima:
Apabila seseorang menjumpai
perkara yang tidak
menyenangkan setelah dia
berusaha sekuat tenaga, maka
hendaknya dia merasa ridha
dengan takdir Allah ta ’ala. Tidak
perlu berandai-andai, karena
dalam kondisi semacam itu
berandai-andai justru akan
membuka celah bagi syaitan.
Dengan sikap semacam inilah
hati kita akan menjadi tenang
dan tentram dalam menghadapi
musibah yang menimpa.
Keenam:
Di dalam hadits yang mulia ini
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menggabungkan antara
keimanan kepada takdir dengan
melakukan usaha yang
bermanfaat.
Kedua pokok ini telah
ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab
maupun As-Sunnah dalam
banyak tempat. Agama
seseorang tidak akan sempurna
kecuali dengan kedua hal itu.
Sabda Nabi, “Bersemangatlah
untuk melakukan apa yang
bermanfaat bagimu ” merupakan
perintah untuk menempuh
sebab-sebab agama maupun
dunia, bahkan di dalamnya
terkandung perintah untuk
bersungguh-sungguh dalam
melakukannya, membersihkan
niat dan membulatkan tekad,
mewujudkan hal itu dan
mengaturnya dengan sebaik-
baiknya. Sedangkan sabda Nabi,
“ Dan mintalah pertolongan
kepada Allah” merupakan
bentuk keimanan kepada takdir
serta perintah untuk bertawakal
kepada Allah ketika mencari
kemanfaatan dan menghindar
dari kemudharatan dengan
penuh rasa harap kepada Allah
ta’ala agar urusan dunia dan
agamanya menjadi sempurna.
Diringkas dari buku: Bahjat Al-
Qulub Al-Abrar wa Qurratu
‘ Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’
Al-Alkhbar karya Syaikh
Abdurrahman bin Nashir As-
Sa ’di rahimahullahu ta’ala,
cetakan Darul Kutub Ilmiyah,
hal. 40-46.
oleh: Syaikh Abdurrahman bin
Nashir As-Sa ’di rahimahullah

No comments:

Post a Comment