Tuesday, October 26, 2010

MenyambungSillaturrahmi danShalat Malam

Ajakannya tak pernah mereka lupakan. Karena,
ajakan itu senantiasa membawa kebahagiaan,
kemuliaan, dan kuatnya ikatan persaudaraan. Tak
ingin kehidupannya, dipenuhi dengan benih-benih
yang menimbulkan retaknya persaudaraan.
Persaudaraan diantara mereka. Sampai terbersit
cahaya Islam, yang begitu indah, menghiasa
kehidupan umat manusia.
Suatu ketika, Abu Yusuf Abdullah bin Salam
mengatakan, bhwa ia mendengar Rasalulullah
shallahu alaihi was salam, bersabda, “ Wahai
manusia, sebarkanlah salam, berilah makan,
sambunglah silaturahmi, dan shalatlah pada
malam hari, ketika orang-orang sedang tidur,
agar kalian masuk surge dengan selamat ”. (HR.at-
Tirmidzi)
Dan, ketika itu, orang-orang di Madinah, begitu
menengadahkan wajahnya, dan memandang
Rasulullah shallahu alaihi wassalam, saat beliau
menyampaikan khotbahnya, “Tebarkanlah
salam”. Lalu, para shahabat memahami bahwa
jadikanlah salam tersebar diantara mereka.
Maksudnya, agar salam itu, saling menyebar
diantara para shahabat dalam semua
perjumpaan, sekaligus sebagai tanda atau bukti
kesatuan hati diantara mereka. Sehingga,
keamanan dan kedamaian merata diantara
penduduk di kota Madinah.
Abu Yusuf Abdullah mengingatkan kepada para
shahabat lainnya, betapa pentingnya salam itu,
dan begitu juga menyebarkan kepada seluruh
kaum mu ’minin. Shahabat itu, juga
mengingatkan, bahwa Allah itu juga disebut
sebagai ‘as-Salam’, dan surga adalah Daarus-
Salam, begitu ujar Yusuf Abdullah, yang
senantiasa mengingat apa yang disampaikan
Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta ’ala berfirman : “ Apabila kamu diberi
penghormatan dengan sesuatu penghormatan,
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih
baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu
(dengan yang serupa) ..(an-Nisa ’ : 86)
Maka, Abdullah bin Amru ibnul Ash, menuturkan
bahwa seorang pria menanyai Rasululullah
shallahu alaihi wassalam, “Apa yang terbaik
dalam Islam?”. Kemudian beliau
menjawab,”Kamu member makan dan
mengucapkan salam kepada orang yang kamu
kenal atau tidak kamu kenal ”. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Maksud berilah makan adalah jadilah orang yang
dermawan, jangan menjadi orang yang bakhil,
karena sebagaimana sabda Rasululullah shallahu
alaihi wassalam, “Orang dermawan itu dekat
dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat
dengan surga, dan jauh dari neraka, sedangkan
orang bakhil jah dari Allah, jauh dari manusia,
jauh dari surga, dan dekat dengan neraka ”.
Karena itu, shahabat Addi bin Hatim, pernah
menyampaikan, bahwa Rasululullah pernah
bersabda, “HIndarilah neraka dengan sebutir
kurma”. (HR.Bukhari Muslim). Begitulah Islam.
Dan, semua ajaran Islam itu, diamalkan oleh para
shahabat dengan ikhlas. Adi bin Hatim tak pernah
melewatkan dirinya, setiap hari dari sedekah. Ia
usai shalat Shubuh berkeliling mencari orang-
orang yang fuqara ’, lalu ia memberikan
sedekahnya. Ketika, ia dapat memberikan sedekah
kepada fakir miskin, ia seperti mendapatkan
sebuah kebahagiaan, yang tak terhingga,
wajahnya berseri ketika ia bertemu dengan para
fakir miskin dan ia dapat menyedekahi mereka.
Subhanallah.
Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda
Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua malaikat
turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah
ganti untuk orang yang berinfak”. Malaikat yang
lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk
orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Karena itu, ketika baginda Rasululullah shallahu
alaihi wassalam, wafat, tak ada sisa harta yang
dimilikinya, semua beliau berikan kepada jalan
da ’wah, dan para fuqara dan masakin. Hal ini,
diikuti para shahabat, seperti Abu Bakar, Umar,
Ustman, dan Ali. Mereka saling berlomba
menginfaqkan harta mereka dijalan Allah.
Suatu ketika Rasululullah shallahu alaihi wassalam,
menegur Abu Bakar, yang menginfaqkan seluruh
hartanya, ketika menjelang perang Badr.
Lalu,Rasululullah shallahu alaihi wassalam,
bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar,
mengapa seluruh harta milikmu engkau infaqkan?
Sedangkan apa yang akan engkau berikan untuk
keluargamu ?”. Dan, Abu Bakar menjawabnya,
“Aku masih mempunyai Allah dan Rasul”, jawab
Abu Bakar.
Begitulah generasi Shalaf terdahulu, bagaimana
mereka mensikapi terhadap harta, yang mereka
miliki, dan mereka tidak terpengaruh oleh harta
mereka. Dan, seluruh harta mereka gunakan
untuk fi sabilillah. Wallahu ‘alam.
sumber: eramuslim

No comments:

Post a Comment