Tuesday, October 26, 2010

Hukum Dan Keutamaan Lailatul Qodar

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak
diibadahi selain Allah semata, yang tidak memiliki
sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan rasul-Nya.
Salawat dan salam serta berkah senantiasa
tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para
sahabatnya.
Adapun selanjutnya:
Pada kehidupan setiap umat terdapat kejadian
yang selalu dikenang, hari-hari baik yang
membuat hati tertambat dan jiwa menjadi kelu.
Sesungguhnya umat ini telah dimuliakan dengan
kejadian-kejadian besar, hari-hari dan malam-
malam yang sempurna.
Di antara nikmat yang diberikan Sang Pencipta
kepada umat ini adalah malam yang disifati
sebagai malam penuh berkah karena banyaknya
keberkahan, kebaikan dan keutamaan. Ia adalah
malam Lailatul Qodr. Ia memiliki kedudukan yang
agung, padanya terdapat kemuliaan dan pahala
yang berlebih.
Pada malam itu Allah turunkan al-Quran. Allah -
subhanahu wata'âla- berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al
Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qodr),
dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan
(lailatul Qodr) itu?" (QS.al-Qodar: 1-2)
Firman-Nya pula:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada
suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya
Kami-lah yang memberi peringatan." (QS. Ad-
Dukhân: 3)
Malam ini terdapat pada bulan Ramadhan yang
penuh berkah dan bukan pada bulan yang lain.
Allah -ta'âla- berfirman:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran..." (QS. Al-Baqarah: 185)
Malam ini dinamakan malam Lailatul Qodr karena
Allah mengqadar (menentukan) rizki dan ajal,
seluruh kejadian alam, menentukan siapa yang
hidup dan mati, yang selamat dan yang celaka,
yang bahagia dan yang sengsara, yang kaya dan
melarat, yang mulia dan yang terhina, musim
kemarau dan musim panen serta segala yang
Allah inginkan pada tahun itu, kemudian
mengabarkannya kepada malaikat untuk
merealisasikannya, sebagaimana firman Allah -
ta'âla-:
"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang
penuh hikmah." (QS. Ad-Dukhân: 4)
Itu adalah takdir tahunan dan takdir khusus.
Adapun takdir umum, lima puluh ribu tahun
sebelum penciptaan langit dan bumi telah lebih
dulu ditetapkan sebagaimana yang terdapat
dalam hadits-hadits sahih.
Allah telah menyitir kemuliaan malam ini dan
menunjukkan keagungannya. Allah -azzawajalla-
berfirman:
"Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan
(lailatul Qodr) itu? Malam kemuliaan (lailatul Qodr)
itu lebih baik dari seribu bulan." (QS.al-Qadr: 2-3)
Siapa yang ibadahnya di waktu itu diterima,
menyamai ibadah selama 1000 tahun, setara
kurang lebih 83 tahun 4 bulan. Ini adalah pahala
yang besar, dan balasan yang agung atas amal
yang ringan dan sedikit.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah, Nabi -shalallahu alaihi wasalam-
bersabda:
"Siapa yang shalat pada malam lailatul Qodr
dengan iman dan mengharap pahala, diampuni
dosanya yang telah lalu."
[HR. Al-Bukhari di dalam sahihnya no. 1901]
Menghidupkan malamnya karena percaya dengan
janji pahala dan mengharap balasan, bukan
karena hal lain. Penentunya adalah kesungguhan
dan ikhlas, sama saja mengetahuinya atau tidak
mengetahuinya.
Hendaknya engkau bersungguh-sungguh wahai
saudaraku yang mulia untuk shalat dan berdoa
pada malam itu. Sesungguhnya ia merupakan
malam yang berbeda dari malam lain sepanjang
tahun. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya,
waspadai kelezatan tidur dan kesenangan hidup.
Adapun waktu dan persisnya, terdapat berita dari
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- ia adalah
malam ke 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam
Ramadhan.
Imam Syafi’i -rahimahullah- berkata:
"Menurutku –wallahu a’lam- bahwa Nabi -
shalallahu alaihi wasallam- menjawab sesuai
dengan apa yang ditanyakan. Ketika ditanyakan
kepadanya: 'Apakah kita menantikannya pada
malam demikian?' Beliau menjawab: 'Nantikanlah
pada malam demikian'." [1]
Ulama berbeda pendapat dalam menentukan
malam Lailatul Qodr hingga terdapat 40
pendapat. Hal itu disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu
Hajar di dalam kitabnya Fathul Bâri. Pendapat
tersebut sebagiannya lemah, sebagian lagi ganjil
dan sebagian lagi batil.
Yang sahih dalam hal ini adalah hari-hari ganjil
pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, 21, 23,
25, 27 dan 29 sebagaimana hadits Aisyah -
radiallahu'anha-, dia berkata:
“Dahulu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-
menantikan Lailatul Qodr pada hari ganjil di
sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan bersabda:
"Upayakan malam Lailatul Qodr pada hari ganjil di
sepuluh hari terakhir Ramadhan."
[HR. Al-Bukhari no. 2017]
Bilamana seseorang lelah dan melemah
kesungguhannya, hendaknya mengupayakannya
pada tujuh hari ganjil terakhir, 25, 27, 29
sebagaimana hadits Abdullah Ibn Umar -
radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- bersabda:
“Nantikanlah Lailatul Qodr pada sepuluh hari
terakhir, jika lemah dan tidak sanggup, jangan
terluput 7 hari yang tersisa."
[HR Muslim no.2822 dan Ahmad II/44,75]
Dengan perincian ini hadits-hadits tersebut
menjadi saling mendukung dan tidak
bertentangan. Yang lebih dekat kepada dalil
bahwa malam Lailatul Qodr berpindah-pindah,
tidak tetap pada satu malam tertentu setiap
tahunnya. Sekali waktu terjadi pada malam 21,
pada waktu lain 23, 25, 27, 29, dan tidak dapat
dipastikan. Pembuat syariat yang Maha Bijaksana
telah merahasiakan waktunya agar kita tidak
hanya bergantung pada malam tertentu saja dan
meninggalkan amal serta ibadah pada sisa
malam-malam Ramadhan yang lain. Dengan
demikian dihasilkan kesungguhan pada seluruh
malam hingga dia mendapatkan malam itu.
Yang benar adalah bahwa tidak disyaratkan
mendapatkan malam itu dengan melihat atau
mendengar sesuatu. Tidak musti mereka yang
mendapatkannya tidak akan mendapat pahala
hingga menyaksikan segala sesuatu bersujud,
atau melihat cahaya, atau mendengar ucapan
salam, atau bisikan dari malaikat. Tidak benar
bahwa malam Lailatul Qodr tidak didapat kecuali
jika melihat hal-hal di luar kewajaran, akan tetapi
keutamaan Allah itu luas.
Tidak benar juga siapa yang tidak mendapatkan
tanda-tanda Lailatul Qodr berarti dia tidak
mendapatkannya. Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- tidak membatasi alamatnya dan tidak
menafikan karomah.
Ibnu Taimiyah berkata:
“Terkadang Allah memperlihatkan kepada
sebagian manusia dalam tidur atau dengan sadar
sehingga dia melihat cahayanya, atau mendengar
ada yang berbicara kepadanya bahwa malam itu
adalah Lailatul Qodar. Terkadang dibukakan
hatinya menyaksikan apa-apa yang menjelaskan
terjadinya malam itu. ”
An-Nawawi berkata:
“Sesungguhnya dia diperlihatkan. Allah telah
memperlihatkan kepada siapa saja dari bani
Adam dengan kehendak-Nya setiap tahun di
bulan Ramadhan, sebagaimana diperlihatkan
kejadian-kejadian dan dikhabarkan oleh orang-
orang saleh tentangnya. Kesaksian mereka yang
telah melihatnya tidak sedikit. Adapun perkataan
al-Qodhi Iyadh dari al-Muhlib Ibn Abi Shofroh:
"Tidak mungkin melihatnya secara hakiki"
Merupakan kekeliruan pendapat yang buruk,, aku
mengingatkan hal ini agar tidak tertipu
karenanya."
Al-Hafidz Ibn Hajar menukilkan, bahwa siapa
yang melihat malam Lailatul Qodar disukai untuk
merahasiakannya dan tidak mengabarkannya
kepada seorang pun, hikmahnya bahwa hal itu
adalah karomah, dan karomah sepatutnya
dirahasiakan tanpa khilaf.
Lailatul Qodr tidak khusus untuk umat ini, akan
tetapi umum, untuk umat Muhammad dan umat
terdahulu seluruhnya. Dalam hadits Abu Dzar -
radiallahu'anhu- dia bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah malam lailatul qodr
terjadi ketika ada nabi, dan jika wafat malam itu
diangkat (ditiadakan)?"
"Tidak, bahkan ia terjadi sampai hari kiamat."
Jawab Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- .
[HR. Ahmad dan selainnya. Dan haditsnya sahih]
Di antara tanda Lailatul Qodr yang bisa diketahui,
sebagaimana hadits Ubay Ibn Ka'ab -
radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi
wasalam- bersabda:
"Matahari terbit pada pagi malam Lailatul Qodr
cahayanya putih tidak terik." [HR. Muslim ]
Maksudnya adalah hal itu terjadi karena
banyaknya Malaikat pada malam itu yang turun
naik ke langit sehingga cahaya terik matahari
tertutupi oleh sayap-sayap dan tubuh mereka." –
selesai perkataannya-
Adapun tanda-tanda lain, tidak ada hadits sahih
yang menetapkannya, seperti: malam yang
tenang, tidak panas dan tidak dingin, bintang tidak
terlihat atau setan tidak sanggup keluar dengan
terbitnya matahari di hari itu.
Terdapat tanda yang tidak ada dasarnya sama
sekali dan tidak sahih, seperti: pohon yang
bersujud ke bumi kemudian kembali posisinya
semula, air asin akan berubah menjadi manis,
anjing tidak menggonggong dan cahaya ada di
mana-mana.
Malam Lailatul Qodar tidak khusus bagi mereka
yang sedang shalat saja, tetapi juga bagi wanita
yang sedang nifas dan haid, musafir dan mukim.
Dhohak –-rahimahullah- berkata:
"Mereka semua memiliki bagian pada malam
Lailatul Qodr. Siapa saja yang diterima amalannya
akan Allah beri dia bagiannya dari malam Lailatul
Qodr itu."
Hendaknya seseorang itu menyibukkan
kebanyakan waktunya dengan doa dan shalat.
Imam Syafi'i -rahimahullah- berkata:
"Disukai memulai kesungguhannya di siang hari
seperti kesungguhannya di malam hari."
Sufyan ats-Tsauri -rahimahullah- berkata:
"Berdoa pada malam hari lebih aku sukai dari
shalat, dan doa di malam Lailatul Qodr masyhur
dan terkenal di antara para sahabat. Hendaknya
engkau bersungguh-sungguh wahai saudara dan
saudariku yang mulia untuk memilih doa-doa
simpel yang terdapat di dalam al-Quran, yang
dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasalam- berdoa
dengannya atau menganjurkannya. Perlu kita
semua tahu bahwa tidak ada doa khusus pada
malam Lailatul Qodr yang tidak dibaca selain ia
saja, akan tetapi setiap muslim berdoa dengan
yang sesuai keadaannya. Dari doa yang terbaik
yang dipanjatkan pada malam yang penuh
berkah ini adalah apa yang dikeluarkan oleh an-
Nasai dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah dari
Aisyah -radiallahu'anha- dia berkata:
"Seandainya aku tahu kapan malam Lailatul Qodr
itu, niscaya doa yang banyak aku panjatkan
adalah meminta pengampunan dan keafiatan."
Demikianlah setiap muslim berupaya untuk
berdoa dengan doa yang jâmiah (simpel) dari
doa-doa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- yang
terekam dalam banyak situasi dan kondisi, yang
khusus maupun umum.
An-Nawawi berkata:
"Disukai memperbanyak doa bagi kepentingan
kaum muslimin pada malam itu, dan ini adalah
syiar orang-orang saleh, dan hamba-hamba-Nya
yang mengetahui."
–selesai perkataannya-
Demikianlah wahai kaum muslimin,
sesungguhnya kalian memiliki saudara-saudara
yang tertindas di barat dan di timur dari belahan
bumi ini, kalian memiliki saudara-saudara yang
mengorbankan diri untuk meninggikan kalimat
Allah di muka bumi, janganlah bakhil untuk
mendoakan mereka.
Wahai Allah, yang telah menciptakan manusia
dan menumbuhkannya, yang menciptakan lisan
dan memfungsikannya, wahai Zat yang tiada
menolak doa, berilah setiap kami apa yang
diharapkannya, dan sampaikan mereka kepada
negeri abadi. Wahai Allah, ampuni segala
kesalahan kami, tutupi segala kesalahan kami,
berilah kelonggaran kepada kami pada hari
pertanyaan, berilah manfaat seluruh kaum
muslimin dari apa yang telah engkau turunkan
dari kitab-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang.
Salawat dan salam tercurah kepada Muhammad,
keluarga dan seluruh sahabatnya.
___________
Referensi:
1) Arba'un Darsan Liman Adroka Romadhan,
oleh Abdul Malik al-Qossam hal.126.
2) Al-Mawahib al-Hissan Fi Wadzoif Shahru
Ramadhan, oleh Nashir al-Harbi hal. 203-204.
3) Ithaf Ahlul Iman Bidurûs Shahri Ramadhan,
oleh Soleh al-Fauzan hal. 68
4) Durus Ramadhan, oleh Audah hal.87.
5) Syarh as-Sodr Bizikri Lailatil Qodr, oleh al-Irâqi
hal. 45.
6) Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar IV/319, 333-341.
7) Shifatus Soum Nabi -shalallahu alaihi
wasalam- Fi Ramadhan, oleh al-Hilali dan Ali
Hasan hal.686-90.
8) Majmu al-Fatawa, oleh Ibnu Taimiyah II/286.
9) Syarh an-Nawawi terhadap kitab Sahih
Muslim VI/289 no. 762, VII/314, VIII/312 no.1762,
VIII/313
10) Musnad Ahmad XV/547 no.21391.
11) Wadzâif Ramadhan, oleh Ibnu Qôsim
hal.62,68-69.
12) Al-Adzkar, oleh an-Nawawi hal.247 no.582.
13) Ithâful Khibroh, oleh Labushiri III/130-131 no.
2369.
14) Mawârid adz-Dzomân Ila Zawaid Ibni
Hibbân, oleh Lhaitsami III/131 no. 926.
15) Amalul Yaum wal Lailah, oleh an-Nasai
hal.499-500 no.782-878.
16) Al-'Alwân Syarh al-Bulugh (manuskrip).
[1] Maksudnya: ketika si penanya menyebutkan
hari tertentu, Nabi –salallahu alaihi wasalam pun
menjawabnya dengan hari yang ditanyakan itu. –
pent.

No comments:

Post a Comment