Tuesday, October 26, 2010

Antara Ajal dan Rizki

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam
semoga tetap tercurahkan kepada baginda
Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan
yang berhak disembah dengan sebenarnya selain
Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Rasulullah
saw memberitahukan kepada kita dan beliau
adalah orang yang jujur lagi terpercaya:
Sesungguhnya salah seorang di antara kalian
dikumpulkan penciptaannya di dalam perut
ibunya selama empat puluh hari, kemudian
berubah menjadi segumpal darah seperti itu,
kemudian menjadi segumpal daging dalam masa
seperti itu kemudian diutus kepadanya malaikat
lalu dia meniupkan ruh padanya dan
diperintahkan baginya untuk menulis empat
perkara: Diperintahkan baginya untuk menulis
rizkinya, ajal dan amalnya serta apakah dia
bahagia atau sengsara.[1]
Di dalam hadits ini disebutkan empat perkara gaib
yang wajib diimani, diyakini dengan keyakinan
yang kuat dan dibenarkan, dan penjelasanku pada
tulisan ini terbatas pada dua bagian saja, yaitu:
masalah ajal dan rizki.
Nash-nash di dalam Al-Qur’an dan Sunnah
menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan
masalah ajal dan rizki, dia tidak akan bertambah
disebabkan oleh perhatian orang yang
bersungguh-sungguh padanya dan tidak pula
akan terhalang oleh orang yang benci.
Dari Abdullah bin Amru Bin Ash abhwa Nabi saw
bersabda: Allah telah menetapkan takdir setiap
makhluk pada masa lima puluh ribu tahun
sebelum Dia menciptakan seluruh langit dan
bumi, dan ArsyNya di atas air ”.[2]
Dan swt telah menegaskan tentang hakekat ini
pada beberapa ayat di dalam Al-Qur ’an. Allah swt
berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ
بِإِذْنِ الله كِتَابًا مُّؤَجَّلاً وَمَن
يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ
مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي
الشَّاكِرِينَ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati
melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan
yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa
menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan
kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula)
kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur. QS. Ali Imron: 145
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء
أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً
وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka
apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak
dapat (pula) memajukannya. Maksudnya: tiap-tiap
bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau
keruntuhan. QS. Al-A ’raf: 34
Sebagian orang-orang munafiq menyangka
bahwa jika mereka tidak ikut serta berjihad di
jalan Allah dan pengecut dalam menghadapi
musuh akan menjadi penghalang antara dirinya
dengan kematian, maka Allah membantah
prasangka tersebut dengan firmanNya:
ثُمَّ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ
الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ
كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم
مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ
كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّا
قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي
بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ
عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى
مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا
فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي
قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ
الصُّدُورِ
Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?"
Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu
seluruhnya di tanganAllah". Mereka
menyembunyikan dalam hati mereka apa yang
tidak mereka terangkan kepadamu; mereka
berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu
(hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya
kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini".
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu,
niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan
mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka
terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk
menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk
membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah
Maha Mengetahui isi hati. QS. Ali Imron: 154
Oleh karena itulah, pada realitanya membuktikan
bahwa orang-orang yang terbunuh karena lari
dari peperangan lebih banyak daripada orang-
orang yang terbunuh karena berani menghadapi
peperangan. Seorang penyair berkata:
Aku mundur guna berlomba mencari hidup
namun tidak ku dapatkan
Bagi diriku kehidupan seperti kehidupan maju
menghadapi tantangan
Perkara rizki sama seperti perkara ajal, rizki apa
yang dituliskan bagi seseorang akan pasti
didiapatkannya. Allah swt berfirman:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ
عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ
فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan
Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis
dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). QS. Hud: 6
Allah swt berfirman:
وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا
تُوعَدُونَ فَوَرَبِّ السَّمَاء
وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا
أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan
terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.
Maka demi Tuhan langit dan bumi,
sesungguhnya yang dijanjikanitu adalah benar-
benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu
ucapkan. QS. Al-Dzaryat: 22-23
Dari Abi Umamah ra bahwa Nabi saw bersabda:
Sesungguhnya ruh kudus telah meniupkan di
dalam jiwaku bahwa satu jiwa tidak akan mati
sehingga dia mengambil rizkinya secara
sempurna dan menyempurnakan ajal yang telah
ditentukan baginya, takulah kepada Allah,
bertindak baiklah dalam meminta, dan janganlah
keterlambatan datangnya rizki mendorong
sesorang untuk menuntutnya dengan cara
bermaksiat, sesungguhnya apa yang ada di sisi
Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan
ketaatan kepada Allah ”.[3]
Maka rizki apa yang telah ditetapkan bagi seorang
hamba pasti didapatkannya sebelum kematianya.
Dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda:
Seandainya manusia berlari menjauh dari rizkinya
sama seperti dirinya menjauhi berlari menjauhi
keamtian maka dia pasti medapatkan rizkinya
sebgaimana ajal menjemputnya”.[4]
Renungkannah hadits ini, menjelaskan tentang
adab erbdo ’a di mana dia menegaskan tentang
hakekat ini.
Dari Ummu Habibah ra berkata: Ya Allah
berikanlah kenikmatan bagi dengan suamiku
Rasulullah saw, dan dengan bapakku Abi Supyan,
dan dengan saudaraku Mu ’awiyah. Maka
Rasulullah saw bersabda kepadanya: Sungguh
dirimu telah meminta kepada Allah suatu ajal
yang telah ditetapkan, jejak-jejak yang telah
ditapaki dan rizki yang telah dibagi-bagi, janganlah
salah seorang di antara kalian tergesa-gesa
denganya sebelum waktunya tiba, dan jangan
pulah berharap mengundurkannya setelah
datang, dan seandainya engkau meminta kepada
Allah agar terjaga dari api neraka dan azab kubur
maka hal itu lebih baik ”.[5]
Dari penjelasan di atas mengetengahkan dua hal:
Pertama: Mngimani bahwa ajal dan rizki telah
terbagi dan diketahui, tidak akan didapatkan
karena usaha orang yang bersungguh-sungguh
dan tidak menahannya kebencian orang yang
benci.
Kedua: Hal ini bukan berarati meniggalkan segala
sebab-sebab yang telah disyari ’atkan oleh Allah.
Allah swt berfirman:
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ
تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى
التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ
اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah,
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik. QS. Al-baqarah: 195
Ketiga: Hadits Umamah di atas mengisyaratkan
dua perkara:
a-Seorang hamba harus berusaha mencari rizki
yang halal, dan menjauhi hal yang haram dan
usaha-usaha yang mengarah kepadanya.
b-Tidak menuntut rizikinya dengan motifasi
tamak dan rakus, hendaklah dia menyadarai
hadits Rasulullah saw: Barangsiapa yang
menjadikan akherat sebagai tujuannnya maka
Allah akan memberikan kekayaan di dalam
hatinya, dan Allah akan memberikan kekuatan
untuknya dan dunia akan mendatanginya
sekalipun dengan terpaksa, dan barangsiapa yang
menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah
akan menjadikan kemiskinannya di antara kedua
matanya dan akan mencerai-beraikan
kekuatannya, serta dunia tidak datang kepadanya
kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”.[6]
Keempat: Sebab-sebab yang bisa
mendatangkan rizki dan menolak hal-hal yang
dibenci sangat banyak, dan sebagaiannya
dijelaskan di dalam pembahasan ini.
A-Bertawakkal kepada Allah. Dari Umar Ibnul
khattab ra bahwa Nabi saw bersabda: Seandinya
kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-
benar tawakal maka dia pasti memberikan rizki
kepada kalian sama Dia telah memberi rizki
kepada seekor burung yang pergi pada waktu
pagi dengan perut yang kosong dan pulang
waktu sorenya dengan perut yang kenyang”.[7]
B-Istiqomah di dalam sayri’at Allah Azza Wa Jalla.
Allah swt berfirman:
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى
الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء
غَدَقًا
“Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan
lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar
Kami akan memberi minum kepada mereka air
yang segar (rezeki yang banyak ”. QS. Al-Jin: 16
Allh swt berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3)
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. QS. Al-Thalaq: 2-3.
Allah swt berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ
وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم
بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, QS.
Al-A ’raf: 96
C-Selalu beristigfar dan bertaubat. Allah swt
berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ
إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ
السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل
لَّكُمْ أَنْهَارًا
maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah
ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun, (11) niscaya Dia akan
mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
(12)dan membanyakkan harta dan anak-anakmu,
dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-
sungai. QS. Nuh: 10-11
D- Bersilaturrahmi. Dari Anas bin Malik ra bahwa
Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang suka untuk
diluaskan dalam rizkinya dan dipanjangkan
umurnya maka hendaklah dia menyambung
silaturrahmi ”.[8]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,
semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan
kepada Nabi kita Muhammad dan kepada
keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
[1] Shahih Bukhari: 4/396 no: 7454 dan Muslim:
4/2036 no: 2631
[2] Shahih Muslim: 4/2044 no: 2652
[3] Hilyatul Auliya’: 10/27 dan dishahihkan oleh
Albani di dalam shahihul jami’is shagir: 1/420 no:
2085
[4] Hilyatul Auliya’: 7/90dan dishahihkan oleh
Albani di dalam Asilsilah As-Shahihah: 1/672 no:
752
[5] Shahih Muslim: 4/2051 no: 2663
[6] Sunan Turmudzi: 4/642 no: 2465 dan
dishahihkan oleh Albani di dalam shahih Al-jami’
Al-Sagir: 2/1111 no: 6516
[7] Musnad Imam Ahmad: 1/30
[8] Shahih Muslim: 4/1982 no: 2557
Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

No comments:

Post a Comment