َمنْ جَعَلَ الْهُمُوْمَ هَمًّا وَاحِدًا
هَمَّ الْمَعَادِ كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ
هُمُوْمِهِ
"Barangsiapa yang menjadikan semua tujuan
menjadi satu, yaitu tujuan hari kembali, niscaya
Allah S.W.T. mencukupkan kepadanya semua
tujuannya"
Seorang mukmin yang menjadi da'i akan
menjalani hidup dengan banyak tujuan, dan
terkadang banyaknya tujuan menjadi penyebab
terpecahnya konsentrasi dari tujuan utama dan
memalingkan tujuan kepada kesibukan ahli dunia
(orang-orang yang tujuan hidupnya hanya dunia
semata) dengan segala tujuan mereka, maka
sirnalah karakteristik, hilanglah perbedaan, dan
kacaulah timbangan.
Sesungguhnya di antara hinanya perkara dunia
bahwa Allah S.W.T. menjadikannya tidak abadi
untuk seseorang:
إِنَّ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ
لاَيَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ
الدُّنْيَا إِلاَّ وَضَعَهُ
"Sesungguhnya menjadi hak Allah S.W.T. bahwa
Dia tidak meninggikan sesuatu dari perkara dunia
kecuali Dia merendahkannya."
Sesungguhnya dunia adalah hari-hari yang Allah
S.W.T. putar di antara manusia, maka Dia
meninggikan suatu kaum dan merendahkan yang
lain, memuliakan suatu kaum dan menghinakan
yang lain, agar menjadi realita hikmah Allah
S.W.T. dalam menguji hamba-Nya.
Sesungguhnya Allah S.W.T. memberikan dunia
kepada orang yang beriman dan orang yang
kafir, dan Dia tidak memberikan agama kecuali
kepada orang yang dicintai-Nya. Rasulullah
S.A.W. merasa heran terhadap Abdullah bin
'Amar rahimahullah, saat beliau melihatnya
memperbaiki dan menambah tanah pada dinding
rumahnya, maka beliau S.A.W. ingin
mengosongkan hatinya dari ketergantungan
terhadap dunia dan beliau S.A.W. ingin
mengingatkannya dengan sudah dekatnya ajal
supaya menyiapkan diri untuknya, maka beliau
bersabda:
مَا أَرَى اْلأَمْرَ إِلاَّ أعْجل مِنْ
ذلِكَ
"Aku tidak melihat perkara kecuali mempercepat
dari hal itu."
Supaya akhirat menjadi tujuannya dan
kesibukannya adalah menyiapkan diri untuk hal
itu. Maka apabila seseorang berlebihan dalam
berpaling dari dunia dan berusaha padanya, maka
ia perlu menoleh dari sisi yang lain:
ولاَتَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi (QS. al-Qashahsh:77)
supaya ia tetap berada di atas garis
keseimbangan.
Sesungguhnya hamba yang diliputi kenikmatan,
terkadang diberikan tambahan tanggung jawab
dan siksa, sedangkan dia tidak mengetahui:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ
مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ
مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا
ذلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ
"Apabila engkau melihat Allah S.W.T.
memberikan kepada hamba apa yang disukainya
dari dunia, sedangkan dia bergelimang perbuatan
maksiat, sesungguhnya hal itu adalah istidraj dari-
Nya."
Maka janganlah engkau berduka cita terhadap
kehilangan dunia dan janganlah engkau
mengulurkan pandangan matamu kepada dunia
yang diberikan kepada manusia, karena hal itu
menjadi bencana bila hak-haknya tidak ditunaikan.
Dan yang berbahaya adalah bahwa kenikmatan
ini hanya merupakan balasan di dunia, agar dia
tidak mendapatkan pahala di akhirat, di saat dia
sangat membutuhkannya untuk menambah
daun timbangan kebaikannya. Karena itulah,
Rasulullah S.A.W. memberikan ketentraman
kepada para sahabatnya, saat mereka
menyebutkan kenikmatan bangsa Romawi dan
Persia, beliau bersabda:
أُولئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ
طَيِّبَاتُهُمْ فِى الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
"Mereka adalah satu kaum yang disegerakan
kenikmatan mereka dalam kehidupan dunia."
Dan mayoritas kondisi manusia adalah seperti
yang digambarkan oleh Rasulullah S.A.W.:
أَكْثَرُ النَّاسِ شَبَعًا فِى الدُّنْيَا
أَطْوَلُهُمْ جُوْعًا فِى اْلآخِرَةِ
"Manusia yang paling banyak kenyang di dunia
adalah yang paling lama kelaparan di akhirat."
Penyebab hal itu adalah sedikitnya orang-orang
yang bersyukur, dan sebagaimana firman Allah
S.W.T.:
مَّنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ
عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَانَشَآءُ لِمَن
نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ
يَصْلاَهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang
(duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia
itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang
Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya
neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam
keadaan tercela dan terusir. (QS. al-Isra:18)
Dan semua nikmat, sekecil apapun adanya, di
atasnya ada perhitungan (hisab) dan tanggung
jawab (mas`uliyah). Maka orang miskin adalah
orang yang tidak melaksanakan haknya, bukan
orang yang tidak mendapatkannya semasa hidup
di dunia:
إِنَّ أَوَّلَ مَايُسْأَلُ عَنْهُ
الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ
النَّعِيْمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ
نُصَحِّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرَوِّيكَ مِنَ
الْمَاءِ الْبَارِدِ
"Sesungguhnya pertanyaan pertama yang
diajukan kepada hamba di hari kiamat tentang
nikmat bahwa dikatakan kepadanya: Bukankah
Kami memberikan kesehatan kepada tubuhmu
dan melepaskan dahagamu dengan air dingin?'
Karena itulah, termasuk tanda jalan ke surga
bahwa ia dipenuhi dengan cobaan, dan cobaan
tidak menjadi mudah kecuali bagi orang yang
menjadikan akhirat sebagai tujuannya:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِاْلمَكَارِهِ
وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
"Surga diliputi dengan segala yang dibenci dan
neraka diliputi dengan nafsu syahwat."
Sesungguhnya tanggung jawab seorang muslim
yang mengagungkan Allah S.W.T. dengan
sebenarnya adalah bahwa ia menyatukan
tujuannya, dan ia berfikir tentang persoalan yang
akan datang dan tempat kembali (akhirat), bukan
memalingkan segala kesungguhan, fikiran, dan
waktunya dalam perkara-perkara hina dan
rendah. Dan sekadar apa yang ada bagi Allah
S.W.T. dalam hati hamba berupa penghormatan,
pengagungan dan rasa takut, seperti itulah pahala
dan kedudukan bagi hamba di sisi Allah S.W.T.:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْلَمَ مَا لَهُ
عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ مَا ِ للهِ
عِنْدَهُ
"Barangsiapa yang ingin mengetahui apa-apa
untuknya di sisi Allah S.W.T., maka hendaklah ia
memperhatikan apa-apa yang ada di sisinya
untuk Allah S.W.T."
Barangsiapa yang selalu memikirkan ridha Allah
S.W.T., maka dia tidak disibukkan oleh
kenikmatan dan tidak dibutakan oleh bala
musibah. Dan barangsiapa yang selalu bersama
Allah S.W.T. di saat senang, tentu Allah S.W.T.
bersamanya di saat susah:
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِى الرَّخَاءِ
يَعْرِفْكَ فىِ الشِّدَّةِ
"Kenalilah Allah S.W.T. di saat senang, pasti Allah
S.W.T. mengenalimu (menolongmu) di saat
susah."
Dan kondisi seperti ini menuntut seorang
mukmin agar selalu muraqabah kepada Allah
S.W.T. dan merasa malu dari-Nya, melebihi sifat
hati-hati dan rasa malu dari manusia:
مَاكَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ
فَلاَتَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ إِذَا
خَلَوْتَ
"Apapun yang engkau tidak suka manusia
melihatnya darimu, maka janganlah engkau
melakukannya saat dalam kesendirianmu."
وَاعْبُدِ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Dan sembahlah Allah S.W.T. seolah-olah engkau
melihat-Nya, maka jika engkau tidak bisa seolah-
olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia S.W.T.
melihatmu."
Dan orang yang mengutamakan akhirat, apabila
dia diingatkan dengan kesalahannya, ia cepat
kembali:
إِذَا ذُكِّرْتُمْ بِاللهِ فَانْتَهُوْا
'Apabila kamu diingatkan kepada Allah S.W.T.,
maka berhentilah.'
Dan orang yang takut kepada Allah S.W.T. di
dunia, takut melakukan maksiat kepada-Nya dan
berhati-hati untuk perkara akhiratnya, dialah
orang yang aman di akhirat:
قَالَ اللهُ تَعَالى: وَعِزَّتِي
وَجَلاَلِي لاَأَجْمَعُ بَيْنَ
أَمْنَيْنِ وَلاَخَوْفَيْنِ. إِنْ هُوَ
أَمِنَنِي فِى الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ
يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي وَإِنْ هُوَ
خَافَنِي فِى الدُّنْيَا أمنتُهُ فِى
اْلآخِرَةِ
"Allah S.W.T. berfirman: Demi kemuliaan dan
kebesaran-Ku, aku tidak menggabungkan untuk
hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika
dia merasa aman terhadap-Ku di dunia niscaya
Aku membuatnya ketakutan di hari Aku
mengumpulkan hamba-hamba-Ku. Dan jika dia
takut kepada-Ku di dunia, niscaya Aku
menjadikan dia merasa aman di hari Aku
mengumpulkan hamba-hamba-Ku."
Dan orang yang mengutamakan akhiratnya
berfikir tentang sesuatu yang mendekatkannya ke
surga dan menjauhkan dirinya dari neraka, dan
Allah S.W.T. menjadikan lingkaran tanggung
jawab berdasarkan dorongan keinginan manusia
kepada taat atau maksiat, karena itulah Nabi
S.A.W. bersabda:
الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ
مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ
ذلِكَ
"Surga lebih dekat kepada salah seorang darimu
dari pada tali sendalnya, dan neraka juga seperti
itu."
Dan apabila seseorang benar dalam melawan
hawa nafsunya, niscaya Allah S.W.T.
memudahkan jalan baginya:
وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا
هُدًى
Dan Allah akan menambah petunjuk kepada
mereka yang telah mendapat petunjuk. (QS.
Maryam:76)
Dan orang yang mengutamakan akhiratnya tidak
melihat dunia sebagai negeri tempat tinggal,
karena ia merasa sudah dekatnya
keberangkatannya ke negeri yang abadi.
Nabi S.A.W. bersabda:
قَالَ لِي جِبْرِيْلُ: يَامُحَمَّدُ عِشْ
مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَأَحْبِبْ
مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ
وَاعْمَلْ مَاشِئْتَ فَإِنَّكَ
مُلاَقِيْهِ
"Jibril A.S. berkata kepadaku, hiduplah sesukamu,
maka sesungguhnya engkau akan mati. Dan
cintailah siapapun yang engkau kehendaki, maka
sungguh engkau akan meninggalkannya. Dan
lakukanlah apa yang engkau kehendaki, maka
sungguh engkau akan menemui-Nya."
Karena itulah, yang membuat Rasulullah S.A.W.
merasa heran adalah terbukanya pintu-pintu
kebaikan dan lalainya manusia darinya, fitnah-
fitnah yang mengejar seseorang dan tidak
berlarinya dia darinya:
مَارَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ
هَارِبُهَا وَلاَمِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ
طَالِبُهَا
"Aku tidak melihat seperti neraka yang tidur orang
yang berlari darinya, dan tidak pula seperti surga
yang tidur orang yang mencarinya."
Di mana orang yang mengutamakan akhirat
sangat bersemangat menjauhi kemungkaran dan
bersegera dalam kebaikan.
Dan keadaan orang yang mengutamakan
akhiratnya adalah mengurangi hubungan dan
bersikap zuhud dalam pengeluaran:
كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ
أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
"Beradalah kamu di dunia seperti orang asing atau
orang yang melewati jalanan (musafir)."
Dan kesungguhan dalam kehidupan menjadi ciri
utama bagi orang yang berharap (surga) serta
takut (dari neraka):
لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَاأَعْلَمُ
لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ
كَثِيْرًا
"Jika kamu mengetahui seperti yang kuketahui
niscaya kamu sedikit tertawa dan banyak
menangis."
Dan semangat dalam beramal menjadi tanda
kebenaran persiapan untuk akhirat dan takut
kepada Allah S.W.T., dan hal itulah yang
digambarkan oleh Rasulullah S.A.W. dalam
sabdanya:
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ
بَلَغَ الْمَنْزِلَ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ
اللهِ غَالِيَةٌ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ
اللهِ الْجَنَّةُ
"Barangsiapa yang takut niscaya ia berjalan di
permulaan malam, dan barangsiapa yang
berjalan di permulaan malam niscaya ia sampai
ke rumah. Ketahuilah, sesungguhnya barang
berharga Allah S.W.T. itu sangat mahal,
ketahuilah, sesungguhnya barang berharga Allah
S.W.T. itu adalah surga."
Adapun orang yang perjalanannya jauh dan
berangkatnya terlambat, gerakannya pelan, dan
semangatnya lemah, maka ia tidak akan
mencapai maksudnya dan ia tidak pernah sampai
ke tujuannya.
Dan di antara pendorong untuk mengutamakan
akhirat yang terpenting adalah bahwa Allah
S.W.T. menghilangkan dari hatinya sisa-sisa
keinginan, supaya hatinya bersih kepada Allah
S.W.T., sekalipun ia berada di lautan cobaan. Nabi
S.A.W. bersabda:
مَنْ جَعَلَ الْهُمُوْمَ هَمًّا وَاحِدًا
هَمَّ الْمَعَادِ كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ
هُمُوْمِهِ, وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ
الْهُمُوْمُ مِنْ أَحْوَالِ الدُّنْيَا
لَمْ يُبَالِ اللهُ فِى أَيِّ
أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ
"Barangsiapa yang menjadikan semua tujuan
menjadi satu, yaitu tujuan hari kembali, niscaya
Allah S.W.T. mencukupkan kepadanya semua
tujuannya. Dan barangsiapa yang semua tujuan
bercabang-cabang padanya dari segala keadaan
dunia, niscaya Allah S.W.T. tidak perduli
kepadanya, di jurang manapun ia binasa."
مَنْ كَانَتِ اْلآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ
اللهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ
شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ
رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا
هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ
عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ
وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ
مَا قَدْ قُدِرَ لَهُ .
"Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya,
niscaya Allah S.W.T. menjadikan kekayaannya di
dalam hatinya dan menggabungkan
persatuannya, serta dunia mendatanginya,
sedangkan ia merasa enggan. Dan barangsiapa
yang dunia menjadi tujuannya, niscaya Allah
S.W.T. menjadikan kemiskinan di depan
matanya, memisahkan persatuannya, dan dunia
tidak datang kepadanya kecuali yang sudah
ditaqdirkan untuknya."
Maka perdagangan akhirat tidak akan merugi dan
berdesak-desakan terhadap dunia tidak merubah
takdir.
Kesimpulan:
Termasuk sunnatullah dalam urusan dunia
bahwa ia pasang dan surut.
Di antara kehinaan dunia terhadap Allah S.W.T.
bahwa Dia memberikannya kepada orang kafir.
Setiap kali nikmat bertambah niscaya bertambah
besar pula tanggung jawab.
Terkadang nikmat merupakan upah yang
didahulukan kepada pemiliknya.
Di antara tanda jalan menuju surga bahwa ia
diliputi segala cobaan.
Orang yang mengutamakan akhirat:
a. Mengenal Allah S.W.T. di saat senang dan
susah.
b. Segera kembali apabila bersalah.
c. Berfikir terhadap apa yang mendekatkan ke
surga dan menjauhkan dari neraka.
d. Tidak memandang dunia sebagai tempat
tinggal yang abadi.
e. Bersikap ringan dari dunia dan zuhud.
f. Semangat yang kuat dan takut kepada Allah
S.W.T.
g. Menjadikan semua tujuannya menjadi satu,
yaitu tujuan tempat kembali (akhirat).
h. Kaya hati.
Oleh: Mahmud Muhammad al-Khazandar
__._,_.___
No comments:
Post a Comment