Wednesday, October 27, 2010

" AIR MATA RINDU TUK SANGKEKASIH ILAHI TERCINTA"

M Sofyan Langit Madinah kala itu
mendung . Bukan mendung biasa, tetapi
mendung yang kental dengan kesuraman
dan kesedihan . Seluruh manusia bersedih ,
burung- burung enggan berkicau , daun dan
mayang kurma enggan melambai , angin
enggan berhembus , bahkan matahari
enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam
menangis, kehilangan sosok manusia yang
diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di
salah satu sudut Masjid Nabawi , sesosok
pria yang legam kulitnya menangis tanpa
bisa menahan tangisnya .
---- -
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah ,
pria legam itu , beranjak menunaikan
tugasnya yang biasa : mengumandangkan
adzan.
Allahu Akbar , Allahu Akbar .
Suara beningnya yang indah nan lantang
terdengar di seantero Madinah . Penduduk
Madinah beranjak menuju masjid . Masih
dalam kesedihan , sadar bahwa pria yang
selama ini mengimami mereka tak akan
pernah muncul lagi dari biliknya di sisi
masjid .
Asyhadu anla ilaha illallah , Asyhadu anla
ilaha ilallah .
Suara bening itu kini bergetar. Penduduk
Madinah bertanya -tanya , ada apa gerangan .
Jamaah yang sudah berkumpul di masjid
melihat tangan pria legam itu bergetar tak
beraturan .
Asy. . . hadu. . an . . na . .
M . . Mu . . mu . . hammmad . . .
Suara bening itu tak lagi terdengar jelas .
Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar
hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak
beraturan , seakan -akan ia tak sanggup
berdiri dan bisa roboh kapanpun juga.
Wajahnya sembab . Air matanya mengalir
deras, tidak terkontrol. Air matanya
membasahi seluruh kelopak , pipi , dagu ,
hingga jenggot . Tanah tempat ia berdiri kini
dipenuhi oleh bercak -bercak bekas air
matanya yang jatuh ke bumi . Seperti tanah
yang habis di siram rintik -rintik air hujan.
Ia mencoba mengulang kalimat adzannya
yang terputus . Salah satu kalimat dari dua
kalimat syahadat . Kalimat persaksian bahwa
Muhammad bin Abdullah adalah Rasul
ALLAH .
Asy. . . ha. . du. . annna . . .
Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh.
Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang
tanggap menghampirinya , memeluknya dan
meneruskan adzan yang terpotong .
Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi
seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid
Nabawi , bahkan yang tidak berada di masjid
ikut menangis. Mereka semua merasakan
kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk
selama- lamanya. Semua menangis, tapi
tidak seperti Bilal . Tangis Bilal lebih deras
dari semua penduduk Madinah . Tak ada
yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu ,
tapi Abu Bakar ash -Shiddiq ra. tahu. Ia pun
membebastugaskan Bilal dari tugas
mengumandangkan adzan.
Saat mengumandangkan adzan, tiba -tiba
kenangannya bersama Rasulullah SAW
berkelabat tanpa ia bisa membendungnya .
Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW
memuliakannya di saat ia selalu terhina,
hanya karena ia budak dari Afrika . Ia
teringat bagaimana Rasulullah SAW
menjodohkannya. Saat itu Rasulullah
meyakinkan keluarga mempelai wanita
dengan berkata, ” Bilal adalah pasangan dari
surga , nikahkanlah saudari perempuanmu
dengannya . " Pria legam itu terenyuh
mendengar sanjungan Sang Nabi akan
dirinya, seorang pria berkulit hitam , tidak
tampan, dan mantan budak .
Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang
begitu lembut pada dirinya berkejar -
kejaran saat ia mengumandangkan adzan .
Ingatan akan sabda Rasul , ”Bilal ,
istirahatkanlah kami dengan shalat . ” lalu ia
pun beranjak adzan, muncul begitu saja
tanpa ia bisa dibendung . Kini tak ada lagi
suara lembut yang meminta istirahat
dengan shalat .
Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi
menuju bilik Nabi yang berdampingan
dengan Masjid Nabawi setiap mendekati
waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul ,
Bilal berkata, ”Saatnya untuk shalat , saatnya
untuk meraih kemenangan . Wahai
Rasulullah , saatnya untuk shalat . ” Kini tak
ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang
akan keluar dengan wajah yang ramah dan
penuh rasa terima kasih karena sudah
diingatkan akan waktu shalat .
Bilal teringat, saat shalat ’Ied dan shalat
Istisqa’ ia selalu berjalan di depan
Rasulullah dengan tombak di tangan
menuju tempat diselenggarakan shalat .
Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja
Habasyah kepada Rasulullah SAW . Satu
diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab
ra. , satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia
berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu
saja yang masih ada, tanpa diiringi pria
mulia yang memberikannya tombak
tersebut. Hati Bilal makin perih .
Seluruh kenangan itu bertumpuk -tumpuk,
membuncah bercampur dengan rasa rindu
dan cinta yang sangat pada diri Bilal . Bilal
sudah tidak tahan lagi . Ia tidak sanggup lagi
untuk mengumandangkan adzan .
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal . Saat
Bilal meminta izin untuk tidak
mengumandankan adzan lagi, beliau
mengizinkannya . Saat Bilal meminta izin
untuk meninggalkan Madinah , Abu Bakar
kembali mengizinkan . Bagi Bilal, setiap
sudut kota Madinah akan selalu
membangkitkan kenangan akan Rasul , dan
itu akan semakin membuat dirinya merana
karena rindu . Ia memutuskan meninggalkan
kota itu . Ia pergi ke Damaskus bergabung
dengan mujahidin di sana . Madinah
semakin berduka. Setelah ditinggal al -
Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam
mantan budak tetapi memiliki hati
secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat
terdekat Muhammad SAW, khalifah
pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi.
Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi
penggantinya. Umat Muslim menaruh
harapan yang besar kepadanya .
Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus ,
Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal
dan membujuknya untuk
mengumandangkan adzan kembali . Setelah
dua tahun yang melelahkan; berperang
melawan pembangkang zakat, berperang
dengan mereka yang mengaku Nabi , dan
berupaya menjaga keutuhan umat; Umar
berupaya menyatukan umat dan
menyemangati mereka yang mulai lelah
akan pertikaian . Umar berupaya
mengumpulkan semua muslim ke masjid
untuk bersama - sama merengkuh kekuatan
dari Yang Maha Kuat . Sekaligus kembali
menguatkan cinta mereka kepada Rasul -
Nya . Umar membujuk Bilal untuk kembali
mengumandangkan adzan.
Bilal menolak , tetapi bukan Umar namanya
jika khalifah kedua tersebut mudah
menyerah. Ia kembali membujuk dan
membujuk . ” Hanya sekali”, bujuk Umar .
”Ini semua untuk umat . Umat yang dicintai
Muhammad , umat yang dipanggil
Muhammad saat sakaratul mautnya . Begitu
besar cintamu kepada Muhammad , maka
tidakkah engkau cinta pada umat yang
dicintai Muhammad ?”
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk
kembali mengumandangkan adzan. Hanya
sekali, saat waktu Subuh. .
Hari saat Bilal akan mengumandangkan
adzan pun tiba . Berita tersebut sudah
tersiar ke seantero negeri . Ratusan hingga
ribuan kaum muslimin memadati masjid
demi mendengar kembali suara bening
yang legendaris itu .
Allahu Akbar , Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah , Asyhadu anla
ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h
Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan
dirinya. Kumandang adzan kali itu
beresonansi dengan kerinduan Bilal akan
Sang Rasul , menghasilkan senandung yang
indah lebih indah dari karya maestro
komposer ternama masa modern mana
pun jua. Kumandang adzan itu begitu
menyentuh hati , merasuk ke dalam jiwa ,
dan membetot urat kerinduan akan Sang
Rasul . Seluruh yang hadir dan
mendengarnya menangis secara spontan .
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h
Kini getaran resonansinya semakin kuat.
Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di
kolam rindu yang tak berujung. Tangis
rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab
kala itu kembali basah akan air mata.
Hayya ’ alash-shalah , hayya ’alash -shalah
Tak ada yang tak mendengar seruan itu
kecuali ia berangkat menuju masjid .
Hayya ‘ alal-falah, hayya ‘ alal-falah
Seruan akan kebangkitan dan harapan
berkumandang . Optimisme dan harapan
kaum muslimin meningkat dan
membuncah.
Allahu Akbar , Allahu Akbar
Allah- lah yang Maha Besar, Maha Perkasa
dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut
kepada selain-Nya ? Masihkah kau berani
menenetang perintah-Nya ?
La ilaha illallah
Tiada tuhan selain ALLAH . Jika engkau
menuhankan Muhammad , ketahuilah bahwa
ia telah wafat . ALLAH Maha Hidup dan tak
akan pernah mati .
----
Tahun 20 Hijriah . Bilal terbaring lemah di
tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun.
Sang istri di sampingnya tak bisa menahan
kesedihannya . Ia menangis, menangis dan
menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta
akan segera menemui Rabbnya.
” Jangan menangis, ” katanya kepada istri .
”Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah
SAW dan sahabat- sahabatku yang lain. Jika
ALLAH mengizinkan , aku akan bertemu
kembali dengan mereka esok hari . ”
Esoknya ia benar- benar sudah dipanggil ke
hadapan Rabbnya . Pria yang suara langkah
terompahnya terdengar sampai surga saat
ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan
yang sangat. Ia bisa kembali bertemu
dengan sosok yang selama ini ia rindukan .
Ia bisa kembali menemani Rasulullah ,
seperti sebelumnya saat masih di dunia.
---- ) ( --- -
Moga selalu bisa diambil hikmahnya . . .

No comments:

Post a Comment