Wednesday, October 27, 2010

" AIR MATA RINDU TUK SANGKEKASIH ILAHI TERCINTA"

M Sofyan Langit Madinah kala itu
mendung . Bukan mendung biasa, tetapi
mendung yang kental dengan kesuraman
dan kesedihan . Seluruh manusia bersedih ,
burung- burung enggan berkicau , daun dan
mayang kurma enggan melambai , angin
enggan berhembus , bahkan matahari
enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam
menangis, kehilangan sosok manusia yang
diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di
salah satu sudut Masjid Nabawi , sesosok
pria yang legam kulitnya menangis tanpa
bisa menahan tangisnya .
---- -
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah ,
pria legam itu , beranjak menunaikan
tugasnya yang biasa : mengumandangkan
adzan.
Allahu Akbar , Allahu Akbar .
Suara beningnya yang indah nan lantang
terdengar di seantero Madinah . Penduduk
Madinah beranjak menuju masjid . Masih
dalam kesedihan , sadar bahwa pria yang
selama ini mengimami mereka tak akan
pernah muncul lagi dari biliknya di sisi
masjid .
Asyhadu anla ilaha illallah , Asyhadu anla
ilaha ilallah .
Suara bening itu kini bergetar. Penduduk
Madinah bertanya -tanya , ada apa gerangan .
Jamaah yang sudah berkumpul di masjid
melihat tangan pria legam itu bergetar tak
beraturan .
Asy. . . hadu. . an . . na . .
M . . Mu . . mu . . hammmad . . .
Suara bening itu tak lagi terdengar jelas .
Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar
hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak
beraturan , seakan -akan ia tak sanggup
berdiri dan bisa roboh kapanpun juga.
Wajahnya sembab . Air matanya mengalir
deras, tidak terkontrol. Air matanya
membasahi seluruh kelopak , pipi , dagu ,
hingga jenggot . Tanah tempat ia berdiri kini
dipenuhi oleh bercak -bercak bekas air
matanya yang jatuh ke bumi . Seperti tanah
yang habis di siram rintik -rintik air hujan.
Ia mencoba mengulang kalimat adzannya
yang terputus . Salah satu kalimat dari dua
kalimat syahadat . Kalimat persaksian bahwa
Muhammad bin Abdullah adalah Rasul
ALLAH .
Asy. . . ha. . du. . annna . . .
Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh.
Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang
tanggap menghampirinya , memeluknya dan
meneruskan adzan yang terpotong .
Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi
seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid
Nabawi , bahkan yang tidak berada di masjid
ikut menangis. Mereka semua merasakan
kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk
selama- lamanya. Semua menangis, tapi
tidak seperti Bilal . Tangis Bilal lebih deras
dari semua penduduk Madinah . Tak ada
yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu ,
tapi Abu Bakar ash -Shiddiq ra. tahu. Ia pun
membebastugaskan Bilal dari tugas
mengumandangkan adzan.
Saat mengumandangkan adzan, tiba -tiba
kenangannya bersama Rasulullah SAW
berkelabat tanpa ia bisa membendungnya .
Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW
memuliakannya di saat ia selalu terhina,
hanya karena ia budak dari Afrika . Ia
teringat bagaimana Rasulullah SAW
menjodohkannya. Saat itu Rasulullah
meyakinkan keluarga mempelai wanita
dengan berkata, ” Bilal adalah pasangan dari
surga , nikahkanlah saudari perempuanmu
dengannya . " Pria legam itu terenyuh
mendengar sanjungan Sang Nabi akan
dirinya, seorang pria berkulit hitam , tidak
tampan, dan mantan budak .
Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang
begitu lembut pada dirinya berkejar -
kejaran saat ia mengumandangkan adzan .
Ingatan akan sabda Rasul , ”Bilal ,
istirahatkanlah kami dengan shalat . ” lalu ia
pun beranjak adzan, muncul begitu saja
tanpa ia bisa dibendung . Kini tak ada lagi
suara lembut yang meminta istirahat
dengan shalat .
Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi
menuju bilik Nabi yang berdampingan
dengan Masjid Nabawi setiap mendekati
waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul ,
Bilal berkata, ”Saatnya untuk shalat , saatnya
untuk meraih kemenangan . Wahai
Rasulullah , saatnya untuk shalat . ” Kini tak
ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang
akan keluar dengan wajah yang ramah dan
penuh rasa terima kasih karena sudah
diingatkan akan waktu shalat .
Bilal teringat, saat shalat ’Ied dan shalat
Istisqa’ ia selalu berjalan di depan
Rasulullah dengan tombak di tangan
menuju tempat diselenggarakan shalat .
Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja
Habasyah kepada Rasulullah SAW . Satu
diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab
ra. , satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia
berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu
saja yang masih ada, tanpa diiringi pria
mulia yang memberikannya tombak
tersebut. Hati Bilal makin perih .
Seluruh kenangan itu bertumpuk -tumpuk,
membuncah bercampur dengan rasa rindu
dan cinta yang sangat pada diri Bilal . Bilal
sudah tidak tahan lagi . Ia tidak sanggup lagi
untuk mengumandangkan adzan .
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal . Saat
Bilal meminta izin untuk tidak
mengumandankan adzan lagi, beliau
mengizinkannya . Saat Bilal meminta izin
untuk meninggalkan Madinah , Abu Bakar
kembali mengizinkan . Bagi Bilal, setiap
sudut kota Madinah akan selalu
membangkitkan kenangan akan Rasul , dan
itu akan semakin membuat dirinya merana
karena rindu . Ia memutuskan meninggalkan
kota itu . Ia pergi ke Damaskus bergabung
dengan mujahidin di sana . Madinah
semakin berduka. Setelah ditinggal al -
Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam
mantan budak tetapi memiliki hati
secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat
terdekat Muhammad SAW, khalifah
pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi.
Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi
penggantinya. Umat Muslim menaruh
harapan yang besar kepadanya .
Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus ,
Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal
dan membujuknya untuk
mengumandangkan adzan kembali . Setelah
dua tahun yang melelahkan; berperang
melawan pembangkang zakat, berperang
dengan mereka yang mengaku Nabi , dan
berupaya menjaga keutuhan umat; Umar
berupaya menyatukan umat dan
menyemangati mereka yang mulai lelah
akan pertikaian . Umar berupaya
mengumpulkan semua muslim ke masjid
untuk bersama - sama merengkuh kekuatan
dari Yang Maha Kuat . Sekaligus kembali
menguatkan cinta mereka kepada Rasul -
Nya . Umar membujuk Bilal untuk kembali
mengumandangkan adzan.
Bilal menolak , tetapi bukan Umar namanya
jika khalifah kedua tersebut mudah
menyerah. Ia kembali membujuk dan
membujuk . ” Hanya sekali”, bujuk Umar .
”Ini semua untuk umat . Umat yang dicintai
Muhammad , umat yang dipanggil
Muhammad saat sakaratul mautnya . Begitu
besar cintamu kepada Muhammad , maka
tidakkah engkau cinta pada umat yang
dicintai Muhammad ?”
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk
kembali mengumandangkan adzan. Hanya
sekali, saat waktu Subuh. .
Hari saat Bilal akan mengumandangkan
adzan pun tiba . Berita tersebut sudah
tersiar ke seantero negeri . Ratusan hingga
ribuan kaum muslimin memadati masjid
demi mendengar kembali suara bening
yang legendaris itu .
Allahu Akbar , Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah , Asyhadu anla
ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h
Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan
dirinya. Kumandang adzan kali itu
beresonansi dengan kerinduan Bilal akan
Sang Rasul , menghasilkan senandung yang
indah lebih indah dari karya maestro
komposer ternama masa modern mana
pun jua. Kumandang adzan itu begitu
menyentuh hati , merasuk ke dalam jiwa ,
dan membetot urat kerinduan akan Sang
Rasul . Seluruh yang hadir dan
mendengarnya menangis secara spontan .
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h
Kini getaran resonansinya semakin kuat.
Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di
kolam rindu yang tak berujung. Tangis
rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab
kala itu kembali basah akan air mata.
Hayya ’ alash-shalah , hayya ’alash -shalah
Tak ada yang tak mendengar seruan itu
kecuali ia berangkat menuju masjid .
Hayya ‘ alal-falah, hayya ‘ alal-falah
Seruan akan kebangkitan dan harapan
berkumandang . Optimisme dan harapan
kaum muslimin meningkat dan
membuncah.
Allahu Akbar , Allahu Akbar
Allah- lah yang Maha Besar, Maha Perkasa
dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut
kepada selain-Nya ? Masihkah kau berani
menenetang perintah-Nya ?
La ilaha illallah
Tiada tuhan selain ALLAH . Jika engkau
menuhankan Muhammad , ketahuilah bahwa
ia telah wafat . ALLAH Maha Hidup dan tak
akan pernah mati .
----
Tahun 20 Hijriah . Bilal terbaring lemah di
tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun.
Sang istri di sampingnya tak bisa menahan
kesedihannya . Ia menangis, menangis dan
menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta
akan segera menemui Rabbnya.
” Jangan menangis, ” katanya kepada istri .
”Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah
SAW dan sahabat- sahabatku yang lain. Jika
ALLAH mengizinkan , aku akan bertemu
kembali dengan mereka esok hari . ”
Esoknya ia benar- benar sudah dipanggil ke
hadapan Rabbnya . Pria yang suara langkah
terompahnya terdengar sampai surga saat
ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan
yang sangat. Ia bisa kembali bertemu
dengan sosok yang selama ini ia rindukan .
Ia bisa kembali menemani Rasulullah ,
seperti sebelumnya saat masih di dunia.
---- ) ( --- -
Moga selalu bisa diambil hikmahnya . . .

Tuesday, October 26, 2010

MenyambungSillaturrahmi danShalat Malam

Ajakannya tak pernah mereka lupakan. Karena,
ajakan itu senantiasa membawa kebahagiaan,
kemuliaan, dan kuatnya ikatan persaudaraan. Tak
ingin kehidupannya, dipenuhi dengan benih-benih
yang menimbulkan retaknya persaudaraan.
Persaudaraan diantara mereka. Sampai terbersit
cahaya Islam, yang begitu indah, menghiasa
kehidupan umat manusia.
Suatu ketika, Abu Yusuf Abdullah bin Salam
mengatakan, bhwa ia mendengar Rasalulullah
shallahu alaihi was salam, bersabda, “ Wahai
manusia, sebarkanlah salam, berilah makan,
sambunglah silaturahmi, dan shalatlah pada
malam hari, ketika orang-orang sedang tidur,
agar kalian masuk surge dengan selamat ”. (HR.at-
Tirmidzi)
Dan, ketika itu, orang-orang di Madinah, begitu
menengadahkan wajahnya, dan memandang
Rasulullah shallahu alaihi wassalam, saat beliau
menyampaikan khotbahnya, “Tebarkanlah
salam”. Lalu, para shahabat memahami bahwa
jadikanlah salam tersebar diantara mereka.
Maksudnya, agar salam itu, saling menyebar
diantara para shahabat dalam semua
perjumpaan, sekaligus sebagai tanda atau bukti
kesatuan hati diantara mereka. Sehingga,
keamanan dan kedamaian merata diantara
penduduk di kota Madinah.
Abu Yusuf Abdullah mengingatkan kepada para
shahabat lainnya, betapa pentingnya salam itu,
dan begitu juga menyebarkan kepada seluruh
kaum mu ’minin. Shahabat itu, juga
mengingatkan, bahwa Allah itu juga disebut
sebagai ‘as-Salam’, dan surga adalah Daarus-
Salam, begitu ujar Yusuf Abdullah, yang
senantiasa mengingat apa yang disampaikan
Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta ’ala berfirman : “ Apabila kamu diberi
penghormatan dengan sesuatu penghormatan,
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih
baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu
(dengan yang serupa) ..(an-Nisa ’ : 86)
Maka, Abdullah bin Amru ibnul Ash, menuturkan
bahwa seorang pria menanyai Rasululullah
shallahu alaihi wassalam, “Apa yang terbaik
dalam Islam?”. Kemudian beliau
menjawab,”Kamu member makan dan
mengucapkan salam kepada orang yang kamu
kenal atau tidak kamu kenal ”. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Maksud berilah makan adalah jadilah orang yang
dermawan, jangan menjadi orang yang bakhil,
karena sebagaimana sabda Rasululullah shallahu
alaihi wassalam, “Orang dermawan itu dekat
dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat
dengan surga, dan jauh dari neraka, sedangkan
orang bakhil jah dari Allah, jauh dari manusia,
jauh dari surga, dan dekat dengan neraka ”.
Karena itu, shahabat Addi bin Hatim, pernah
menyampaikan, bahwa Rasululullah pernah
bersabda, “HIndarilah neraka dengan sebutir
kurma”. (HR.Bukhari Muslim). Begitulah Islam.
Dan, semua ajaran Islam itu, diamalkan oleh para
shahabat dengan ikhlas. Adi bin Hatim tak pernah
melewatkan dirinya, setiap hari dari sedekah. Ia
usai shalat Shubuh berkeliling mencari orang-
orang yang fuqara ’, lalu ia memberikan
sedekahnya. Ketika, ia dapat memberikan sedekah
kepada fakir miskin, ia seperti mendapatkan
sebuah kebahagiaan, yang tak terhingga,
wajahnya berseri ketika ia bertemu dengan para
fakir miskin dan ia dapat menyedekahi mereka.
Subhanallah.
Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda
Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua malaikat
turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah
ganti untuk orang yang berinfak”. Malaikat yang
lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk
orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Karena itu, ketika baginda Rasululullah shallahu
alaihi wassalam, wafat, tak ada sisa harta yang
dimilikinya, semua beliau berikan kepada jalan
da ’wah, dan para fuqara dan masakin. Hal ini,
diikuti para shahabat, seperti Abu Bakar, Umar,
Ustman, dan Ali. Mereka saling berlomba
menginfaqkan harta mereka dijalan Allah.
Suatu ketika Rasululullah shallahu alaihi wassalam,
menegur Abu Bakar, yang menginfaqkan seluruh
hartanya, ketika menjelang perang Badr.
Lalu,Rasululullah shallahu alaihi wassalam,
bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar,
mengapa seluruh harta milikmu engkau infaqkan?
Sedangkan apa yang akan engkau berikan untuk
keluargamu ?”. Dan, Abu Bakar menjawabnya,
“Aku masih mempunyai Allah dan Rasul”, jawab
Abu Bakar.
Begitulah generasi Shalaf terdahulu, bagaimana
mereka mensikapi terhadap harta, yang mereka
miliki, dan mereka tidak terpengaruh oleh harta
mereka. Dan, seluruh harta mereka gunakan
untuk fi sabilillah. Wallahu ‘alam.
sumber: eramuslim

MenyambungSillaturrahmi danShalat Malam

Ajakannya tak pernah mereka lupakan. Karena,
ajakan itu senantiasa membawa kebahagiaan,
kemuliaan, dan kuatnya ikatan persaudaraan. Tak
ingin kehidupannya, dipenuhi dengan benih-benih
yang menimbulkan retaknya persaudaraan.
Persaudaraan diantara mereka. Sampai terbersit
cahaya Islam, yang begitu indah, menghiasa
kehidupan umat manusia.
Suatu ketika, Abu Yusuf Abdullah bin Salam
mengatakan, bhwa ia mendengar Rasalulullah
shallahu alaihi was salam, bersabda, “ Wahai
manusia, sebarkanlah salam, berilah makan,
sambunglah silaturahmi, dan shalatlah pada
malam hari, ketika orang-orang sedang tidur,
agar kalian masuk surge dengan selamat ”. (HR.at-
Tirmidzi)
Dan, ketika itu, orang-orang di Madinah, begitu
menengadahkan wajahnya, dan memandang
Rasulullah shallahu alaihi wassalam, saat beliau
menyampaikan khotbahnya, “Tebarkanlah
salam”. Lalu, para shahabat memahami bahwa
jadikanlah salam tersebar diantara mereka.
Maksudnya, agar salam itu, saling menyebar
diantara para shahabat dalam semua
perjumpaan, sekaligus sebagai tanda atau bukti
kesatuan hati diantara mereka. Sehingga,
keamanan dan kedamaian merata diantara
penduduk di kota Madinah.
Abu Yusuf Abdullah mengingatkan kepada para
shahabat lainnya, betapa pentingnya salam itu,
dan begitu juga menyebarkan kepada seluruh
kaum mu ’minin. Shahabat itu, juga
mengingatkan, bahwa Allah itu juga disebut
sebagai ‘as-Salam’, dan surga adalah Daarus-
Salam, begitu ujar Yusuf Abdullah, yang
senantiasa mengingat apa yang disampaikan
Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta ’ala berfirman : “ Apabila kamu diberi
penghormatan dengan sesuatu penghormatan,
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih
baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu
(dengan yang serupa) ..(an-Nisa ’ : 86)
Maka, Abdullah bin Amru ibnul Ash, menuturkan
bahwa seorang pria menanyai Rasululullah
shallahu alaihi wassalam, “Apa yang terbaik
dalam Islam?”. Kemudian beliau
menjawab,”Kamu member makan dan
mengucapkan salam kepada orang yang kamu
kenal atau tidak kamu kenal ”. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Maksud berilah makan adalah jadilah orang yang
dermawan, jangan menjadi orang yang bakhil,
karena sebagaimana sabda Rasululullah shallahu
alaihi wassalam, “Orang dermawan itu dekat
dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat
dengan surga, dan jauh dari neraka, sedangkan
orang bakhil jah dari Allah, jauh dari manusia,
jauh dari surga, dan dekat dengan neraka ”.
Karena itu, shahabat Addi bin Hatim, pernah
menyampaikan, bahwa Rasululullah pernah
bersabda, “HIndarilah neraka dengan sebutir
kurma”. (HR.Bukhari Muslim). Begitulah Islam.
Dan, semua ajaran Islam itu, diamalkan oleh para
shahabat dengan ikhlas. Adi bin Hatim tak pernah
melewatkan dirinya, setiap hari dari sedekah. Ia
usai shalat Shubuh berkeliling mencari orang-
orang yang fuqara ’, lalu ia memberikan
sedekahnya. Ketika, ia dapat memberikan sedekah
kepada fakir miskin, ia seperti mendapatkan
sebuah kebahagiaan, yang tak terhingga,
wajahnya berseri ketika ia bertemu dengan para
fakir miskin dan ia dapat menyedekahi mereka.
Subhanallah.
Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda
Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua malaikat
turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah
ganti untuk orang yang berinfak”. Malaikat yang
lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk
orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Karena itu, ketika baginda Rasululullah shallahu
alaihi wassalam, wafat, tak ada sisa harta yang
dimilikinya, semua beliau berikan kepada jalan
da ’wah, dan para fuqara dan masakin. Hal ini,
diikuti para shahabat, seperti Abu Bakar, Umar,
Ustman, dan Ali. Mereka saling berlomba
menginfaqkan harta mereka dijalan Allah.
Suatu ketika Rasululullah shallahu alaihi wassalam,
menegur Abu Bakar, yang menginfaqkan seluruh
hartanya, ketika menjelang perang Badr.
Lalu,Rasululullah shallahu alaihi wassalam,
bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar,
mengapa seluruh harta milikmu engkau infaqkan?
Sedangkan apa yang akan engkau berikan untuk
keluargamu ?”. Dan, Abu Bakar menjawabnya,
“Aku masih mempunyai Allah dan Rasul”, jawab
Abu Bakar.
Begitulah generasi Shalaf terdahulu, bagaimana
mereka mensikapi terhadap harta, yang mereka
miliki, dan mereka tidak terpengaruh oleh harta
mereka. Dan, seluruh harta mereka gunakan
untuk fi sabilillah. Wallahu ‘alam.
sumber: eramuslim

Hukum Dan Keutamaan Lailatul Qodar

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak
diibadahi selain Allah semata, yang tidak memiliki
sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan rasul-Nya.
Salawat dan salam serta berkah senantiasa
tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para
sahabatnya.
Adapun selanjutnya:
Pada kehidupan setiap umat terdapat kejadian
yang selalu dikenang, hari-hari baik yang
membuat hati tertambat dan jiwa menjadi kelu.
Sesungguhnya umat ini telah dimuliakan dengan
kejadian-kejadian besar, hari-hari dan malam-
malam yang sempurna.
Di antara nikmat yang diberikan Sang Pencipta
kepada umat ini adalah malam yang disifati
sebagai malam penuh berkah karena banyaknya
keberkahan, kebaikan dan keutamaan. Ia adalah
malam Lailatul Qodr. Ia memiliki kedudukan yang
agung, padanya terdapat kemuliaan dan pahala
yang berlebih.
Pada malam itu Allah turunkan al-Quran. Allah -
subhanahu wata'âla- berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al
Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qodr),
dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan
(lailatul Qodr) itu?" (QS.al-Qodar: 1-2)
Firman-Nya pula:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada
suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya
Kami-lah yang memberi peringatan." (QS. Ad-
Dukhân: 3)
Malam ini terdapat pada bulan Ramadhan yang
penuh berkah dan bukan pada bulan yang lain.
Allah -ta'âla- berfirman:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran..." (QS. Al-Baqarah: 185)
Malam ini dinamakan malam Lailatul Qodr karena
Allah mengqadar (menentukan) rizki dan ajal,
seluruh kejadian alam, menentukan siapa yang
hidup dan mati, yang selamat dan yang celaka,
yang bahagia dan yang sengsara, yang kaya dan
melarat, yang mulia dan yang terhina, musim
kemarau dan musim panen serta segala yang
Allah inginkan pada tahun itu, kemudian
mengabarkannya kepada malaikat untuk
merealisasikannya, sebagaimana firman Allah -
ta'âla-:
"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang
penuh hikmah." (QS. Ad-Dukhân: 4)
Itu adalah takdir tahunan dan takdir khusus.
Adapun takdir umum, lima puluh ribu tahun
sebelum penciptaan langit dan bumi telah lebih
dulu ditetapkan sebagaimana yang terdapat
dalam hadits-hadits sahih.
Allah telah menyitir kemuliaan malam ini dan
menunjukkan keagungannya. Allah -azzawajalla-
berfirman:
"Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan
(lailatul Qodr) itu? Malam kemuliaan (lailatul Qodr)
itu lebih baik dari seribu bulan." (QS.al-Qadr: 2-3)
Siapa yang ibadahnya di waktu itu diterima,
menyamai ibadah selama 1000 tahun, setara
kurang lebih 83 tahun 4 bulan. Ini adalah pahala
yang besar, dan balasan yang agung atas amal
yang ringan dan sedikit.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah, Nabi -shalallahu alaihi wasalam-
bersabda:
"Siapa yang shalat pada malam lailatul Qodr
dengan iman dan mengharap pahala, diampuni
dosanya yang telah lalu."
[HR. Al-Bukhari di dalam sahihnya no. 1901]
Menghidupkan malamnya karena percaya dengan
janji pahala dan mengharap balasan, bukan
karena hal lain. Penentunya adalah kesungguhan
dan ikhlas, sama saja mengetahuinya atau tidak
mengetahuinya.
Hendaknya engkau bersungguh-sungguh wahai
saudaraku yang mulia untuk shalat dan berdoa
pada malam itu. Sesungguhnya ia merupakan
malam yang berbeda dari malam lain sepanjang
tahun. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya,
waspadai kelezatan tidur dan kesenangan hidup.
Adapun waktu dan persisnya, terdapat berita dari
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- ia adalah
malam ke 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam
Ramadhan.
Imam Syafi’i -rahimahullah- berkata:
"Menurutku –wallahu a’lam- bahwa Nabi -
shalallahu alaihi wasallam- menjawab sesuai
dengan apa yang ditanyakan. Ketika ditanyakan
kepadanya: 'Apakah kita menantikannya pada
malam demikian?' Beliau menjawab: 'Nantikanlah
pada malam demikian'." [1]
Ulama berbeda pendapat dalam menentukan
malam Lailatul Qodr hingga terdapat 40
pendapat. Hal itu disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu
Hajar di dalam kitabnya Fathul Bâri. Pendapat
tersebut sebagiannya lemah, sebagian lagi ganjil
dan sebagian lagi batil.
Yang sahih dalam hal ini adalah hari-hari ganjil
pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, 21, 23,
25, 27 dan 29 sebagaimana hadits Aisyah -
radiallahu'anha-, dia berkata:
“Dahulu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-
menantikan Lailatul Qodr pada hari ganjil di
sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan bersabda:
"Upayakan malam Lailatul Qodr pada hari ganjil di
sepuluh hari terakhir Ramadhan."
[HR. Al-Bukhari no. 2017]
Bilamana seseorang lelah dan melemah
kesungguhannya, hendaknya mengupayakannya
pada tujuh hari ganjil terakhir, 25, 27, 29
sebagaimana hadits Abdullah Ibn Umar -
radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- bersabda:
“Nantikanlah Lailatul Qodr pada sepuluh hari
terakhir, jika lemah dan tidak sanggup, jangan
terluput 7 hari yang tersisa."
[HR Muslim no.2822 dan Ahmad II/44,75]
Dengan perincian ini hadits-hadits tersebut
menjadi saling mendukung dan tidak
bertentangan. Yang lebih dekat kepada dalil
bahwa malam Lailatul Qodr berpindah-pindah,
tidak tetap pada satu malam tertentu setiap
tahunnya. Sekali waktu terjadi pada malam 21,
pada waktu lain 23, 25, 27, 29, dan tidak dapat
dipastikan. Pembuat syariat yang Maha Bijaksana
telah merahasiakan waktunya agar kita tidak
hanya bergantung pada malam tertentu saja dan
meninggalkan amal serta ibadah pada sisa
malam-malam Ramadhan yang lain. Dengan
demikian dihasilkan kesungguhan pada seluruh
malam hingga dia mendapatkan malam itu.
Yang benar adalah bahwa tidak disyaratkan
mendapatkan malam itu dengan melihat atau
mendengar sesuatu. Tidak musti mereka yang
mendapatkannya tidak akan mendapat pahala
hingga menyaksikan segala sesuatu bersujud,
atau melihat cahaya, atau mendengar ucapan
salam, atau bisikan dari malaikat. Tidak benar
bahwa malam Lailatul Qodr tidak didapat kecuali
jika melihat hal-hal di luar kewajaran, akan tetapi
keutamaan Allah itu luas.
Tidak benar juga siapa yang tidak mendapatkan
tanda-tanda Lailatul Qodr berarti dia tidak
mendapatkannya. Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- tidak membatasi alamatnya dan tidak
menafikan karomah.
Ibnu Taimiyah berkata:
“Terkadang Allah memperlihatkan kepada
sebagian manusia dalam tidur atau dengan sadar
sehingga dia melihat cahayanya, atau mendengar
ada yang berbicara kepadanya bahwa malam itu
adalah Lailatul Qodar. Terkadang dibukakan
hatinya menyaksikan apa-apa yang menjelaskan
terjadinya malam itu. ”
An-Nawawi berkata:
“Sesungguhnya dia diperlihatkan. Allah telah
memperlihatkan kepada siapa saja dari bani
Adam dengan kehendak-Nya setiap tahun di
bulan Ramadhan, sebagaimana diperlihatkan
kejadian-kejadian dan dikhabarkan oleh orang-
orang saleh tentangnya. Kesaksian mereka yang
telah melihatnya tidak sedikit. Adapun perkataan
al-Qodhi Iyadh dari al-Muhlib Ibn Abi Shofroh:
"Tidak mungkin melihatnya secara hakiki"
Merupakan kekeliruan pendapat yang buruk,, aku
mengingatkan hal ini agar tidak tertipu
karenanya."
Al-Hafidz Ibn Hajar menukilkan, bahwa siapa
yang melihat malam Lailatul Qodar disukai untuk
merahasiakannya dan tidak mengabarkannya
kepada seorang pun, hikmahnya bahwa hal itu
adalah karomah, dan karomah sepatutnya
dirahasiakan tanpa khilaf.
Lailatul Qodr tidak khusus untuk umat ini, akan
tetapi umum, untuk umat Muhammad dan umat
terdahulu seluruhnya. Dalam hadits Abu Dzar -
radiallahu'anhu- dia bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah malam lailatul qodr
terjadi ketika ada nabi, dan jika wafat malam itu
diangkat (ditiadakan)?"
"Tidak, bahkan ia terjadi sampai hari kiamat."
Jawab Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- .
[HR. Ahmad dan selainnya. Dan haditsnya sahih]
Di antara tanda Lailatul Qodr yang bisa diketahui,
sebagaimana hadits Ubay Ibn Ka'ab -
radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi
wasalam- bersabda:
"Matahari terbit pada pagi malam Lailatul Qodr
cahayanya putih tidak terik." [HR. Muslim ]
Maksudnya adalah hal itu terjadi karena
banyaknya Malaikat pada malam itu yang turun
naik ke langit sehingga cahaya terik matahari
tertutupi oleh sayap-sayap dan tubuh mereka." –
selesai perkataannya-
Adapun tanda-tanda lain, tidak ada hadits sahih
yang menetapkannya, seperti: malam yang
tenang, tidak panas dan tidak dingin, bintang tidak
terlihat atau setan tidak sanggup keluar dengan
terbitnya matahari di hari itu.
Terdapat tanda yang tidak ada dasarnya sama
sekali dan tidak sahih, seperti: pohon yang
bersujud ke bumi kemudian kembali posisinya
semula, air asin akan berubah menjadi manis,
anjing tidak menggonggong dan cahaya ada di
mana-mana.
Malam Lailatul Qodar tidak khusus bagi mereka
yang sedang shalat saja, tetapi juga bagi wanita
yang sedang nifas dan haid, musafir dan mukim.
Dhohak –-rahimahullah- berkata:
"Mereka semua memiliki bagian pada malam
Lailatul Qodr. Siapa saja yang diterima amalannya
akan Allah beri dia bagiannya dari malam Lailatul
Qodr itu."
Hendaknya seseorang itu menyibukkan
kebanyakan waktunya dengan doa dan shalat.
Imam Syafi'i -rahimahullah- berkata:
"Disukai memulai kesungguhannya di siang hari
seperti kesungguhannya di malam hari."
Sufyan ats-Tsauri -rahimahullah- berkata:
"Berdoa pada malam hari lebih aku sukai dari
shalat, dan doa di malam Lailatul Qodr masyhur
dan terkenal di antara para sahabat. Hendaknya
engkau bersungguh-sungguh wahai saudara dan
saudariku yang mulia untuk memilih doa-doa
simpel yang terdapat di dalam al-Quran, yang
dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasalam- berdoa
dengannya atau menganjurkannya. Perlu kita
semua tahu bahwa tidak ada doa khusus pada
malam Lailatul Qodr yang tidak dibaca selain ia
saja, akan tetapi setiap muslim berdoa dengan
yang sesuai keadaannya. Dari doa yang terbaik
yang dipanjatkan pada malam yang penuh
berkah ini adalah apa yang dikeluarkan oleh an-
Nasai dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah dari
Aisyah -radiallahu'anha- dia berkata:
"Seandainya aku tahu kapan malam Lailatul Qodr
itu, niscaya doa yang banyak aku panjatkan
adalah meminta pengampunan dan keafiatan."
Demikianlah setiap muslim berupaya untuk
berdoa dengan doa yang jâmiah (simpel) dari
doa-doa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- yang
terekam dalam banyak situasi dan kondisi, yang
khusus maupun umum.
An-Nawawi berkata:
"Disukai memperbanyak doa bagi kepentingan
kaum muslimin pada malam itu, dan ini adalah
syiar orang-orang saleh, dan hamba-hamba-Nya
yang mengetahui."
–selesai perkataannya-
Demikianlah wahai kaum muslimin,
sesungguhnya kalian memiliki saudara-saudara
yang tertindas di barat dan di timur dari belahan
bumi ini, kalian memiliki saudara-saudara yang
mengorbankan diri untuk meninggikan kalimat
Allah di muka bumi, janganlah bakhil untuk
mendoakan mereka.
Wahai Allah, yang telah menciptakan manusia
dan menumbuhkannya, yang menciptakan lisan
dan memfungsikannya, wahai Zat yang tiada
menolak doa, berilah setiap kami apa yang
diharapkannya, dan sampaikan mereka kepada
negeri abadi. Wahai Allah, ampuni segala
kesalahan kami, tutupi segala kesalahan kami,
berilah kelonggaran kepada kami pada hari
pertanyaan, berilah manfaat seluruh kaum
muslimin dari apa yang telah engkau turunkan
dari kitab-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang.
Salawat dan salam tercurah kepada Muhammad,
keluarga dan seluruh sahabatnya.
___________
Referensi:
1) Arba'un Darsan Liman Adroka Romadhan,
oleh Abdul Malik al-Qossam hal.126.
2) Al-Mawahib al-Hissan Fi Wadzoif Shahru
Ramadhan, oleh Nashir al-Harbi hal. 203-204.
3) Ithaf Ahlul Iman Bidurûs Shahri Ramadhan,
oleh Soleh al-Fauzan hal. 68
4) Durus Ramadhan, oleh Audah hal.87.
5) Syarh as-Sodr Bizikri Lailatil Qodr, oleh al-Irâqi
hal. 45.
6) Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar IV/319, 333-341.
7) Shifatus Soum Nabi -shalallahu alaihi
wasalam- Fi Ramadhan, oleh al-Hilali dan Ali
Hasan hal.686-90.
8) Majmu al-Fatawa, oleh Ibnu Taimiyah II/286.
9) Syarh an-Nawawi terhadap kitab Sahih
Muslim VI/289 no. 762, VII/314, VIII/312 no.1762,
VIII/313
10) Musnad Ahmad XV/547 no.21391.
11) Wadzâif Ramadhan, oleh Ibnu Qôsim
hal.62,68-69.
12) Al-Adzkar, oleh an-Nawawi hal.247 no.582.
13) Ithâful Khibroh, oleh Labushiri III/130-131 no.
2369.
14) Mawârid adz-Dzomân Ila Zawaid Ibni
Hibbân, oleh Lhaitsami III/131 no. 926.
15) Amalul Yaum wal Lailah, oleh an-Nasai
hal.499-500 no.782-878.
16) Al-'Alwân Syarh al-Bulugh (manuskrip).
[1] Maksudnya: ketika si penanya menyebutkan
hari tertentu, Nabi –salallahu alaihi wasalam pun
menjawabnya dengan hari yang ditanyakan itu. –
pent.

KEUTAMAAN HARI JUM ’AT DAN SUNNAH- SUNNAHNYA

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata'ala,
shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan
kepada baginda Rasulullah shalallahu'alaihi
wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan
yang berhak disembah dengan sebenarnya selain
Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba ’du:
Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala telah
mengkhususkan umat Nabi Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam dan mengistimewakan
mereka dari umat-umat yang lainnya dengan
berbagai keistimewaan. Diantaranya adalah Allah
subhanahu wata'ala memilihkan bagi mereka hari
yang agung yaitu hari jum’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Abi Hurairah dan Hudzaifah
radhiallahu anhum berkata: Allah subhanahu
wata'ala telah merahasiakan hari jum’at
terhadap umat sebelum kita, maka orang-
orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-
orang Nashrani hari ahad, maka Allah
subhanahu wata'ala mendatangkan umat ini,
lalu Dia menunjukan kita hari jum ’at ini,
maka Dia menjadikan urutannya menjadi
jum ’at, sabtu ahad, demikian pula mereka
akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita
adalah umat terakhir di dunia ini namun yang
pertama di hari kiamat, yang akan
diputuskan perkaranya sebelum makhluk
yang lain ”.
(Shahih Muslim no: 856 dan diriwayatkan oleh Al-
Bukhari dengan maknanya dari Abi Hurairah ra
no: 876).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu
bahwa Nabi Muhammad shalallahu'alaihi
wasallam bersabda: Hari terbaik terbitnya
matahari adalah pada hari jum ’at, pada hari itu
Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan
ke dalam surga dan pada hari itu tersebut dia
dikeluarkan dari surga ” (HR. Muslim: no: 854)
Di antara keutamaan hari ini adalah Allah
subhanahu wata'ala menjadikan hari ini sebagai
hari ‘ied bagi kaum muslimin. Diriwayatkan oleh
Ibnu Majah di dalam sunannya dari Ibnu Abbas
radhhiyallahu a'nhu bahwa Nabi Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, Allah
menjadikannya istimewa bagi kaum muslimin,
maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat
jum’at maka hendaklah dia mandi”. (Ibnu Majah
no: 1098)
Pada hari ini terdapat saat terkabulnya do’a, yaitu
saat di mana tidaklah seorang hamba meminta
kepada Allah subhanahu wata'ala padanya kecuali
dia akan dikabulkan permohonannya. Diriwyatkan
oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi
Hurairah radhhiyallahu a'nhu bahwa Nabi
Muhammad shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu
saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya
dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta
kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah
memberikannya, dan dia menunjukkan dengan
tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit.
( HR. Muslim no: 852 dan Al-Bukhari no: 5294)
Para ulama berbeda pendapat tentang
waktu terjadinya dan pendapat yang paling
kuat adalah dua pendapat:
Pertama : Yaitu saat duduknya imam sehingga
shalat selesai, dan alasan ulama yang
berpendapat seperti ini adalah apa yang
diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Abi Barrah bin Abi Musa bahwa
Abdullah bin Umar berkata kepadanya: Apakah
engkau pernah mendengar bapakmu
membacakan sebuah hadist yang berhubungan
dengan saat mustajab pada hari jum ’at?. Dia
berkata: Ya aku pernah mendengarnya berkata:
Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu'alaihi
wasallam bersabda: Dia terjadi saat antara imam
duduk sehingga shalat selesai ditunaikan ”.
Kedua: Dia terjadi setelah asar, dan pendapat
inilah yang paling kuat di antara dua pendapat
tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Nasa’i
dari Jabir radhhiyallahua'nhu bahwa Nabi
Muhammad shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
Hari jum ’at itu dua belas jam, tidaklah seorang
hamba yang muslim memohon kepada Allah
sesuatu pada hari itu kecuali Dia akan
memperkenankan permohonan hamab -Nya itu,
maka carilah dia pada akhir waktu asar ” (HR. An-
Nasa’i: no: 1389).
Pendapat inilah yang dipegang oleh sebagian
besar golongan salaf, dan telah didukung oleh
berbagai hadits. Adapun tentang hadits riwayat
Abi Musa yang sebelumnya maka hadits tersebut
memiliki banyak cacat dan telah disebutkan oleh
Al-hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari.
Di antara keutamaannya adalah bahwa hari itu
adalah hari dihapuskannya dosa-dosa.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahua'nhu
bahwa Nabi Muhammad shalallahu'alaihi
wasallam bersabda: Shalat lima waktu, jum ’at ke
jum’at yang lainnya dan ramadhan ke ramadhan
yang lain adalah penghapus dosa antara
keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”.
Di antara adab-adab jum’at yang perlu dijaga
oleh orang yang beriman adalah:
Pertama: Disunnahkan bagi imam untuk
membaca ( الم تنزيل ) yaitu surat as-sajdah dan
surat Al-Insan pada saat shalat fajar pada hari
jum ’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari hadits riwayat Ibnu Abbas
radhhiyallahua'nhu bahwa Nabi Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam membaca pada waktu
shalat fajar pada hari jum ’at ( الم تنزيل ) as-
sajdah dan ( هل أتى على الإنسان حين من الدهر )
Kedua: Disunnahkan memperbanyak shalawat
kepada Nabi Muhammad shalallahu'alaihi
wasallam pada hari jum ’at atau pada waktu
malamnya, berdasarkan sabda Nabi dalam
riwayat An-Nasa ’i dari Aus bin Aus: Hari terbaik
kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam
diciptakan, pada hari itu dicabut nyawanya, pada
hari itu akan terjadi tiupan sangkakala, pada hari
itu dimatikannya seluruh makhluk pada hari
kiamat, maka perbanyaklah membaca shalawat
bagiku sebab shalawat kalian didatangkan
kepadaku ”.
Mereka bertanya wahai Rasulullah bagiamana
shalawat kami didatangkan kepadamu padahal
dirimu telah menjadi tulang belulang yang telah
remuk?. Atau mereka berkata: Engkau telah
remuk mejadi tanah?. Maka Nabi Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala telah
mengharamkan kepada bumi memakan jasad
para Nabi alaihimus shalatu was salam ”. ( An—
Nasa’I no: 1374)
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab
sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi
Muhammad shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
Perbanyaklah membaca shalawat bagiku pada
ahari jum ’at dan malam jum’at, sebab
barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku
satu shalawat saja maka Allah subhanahu
wata'ala akan membaca shalawat kepadanya
sepuluh kali shalawat ”.
Ketiga: Perintah untuk mandi jum’at dan
masalah ini sangat ditekankan, bahkan sebagian
ulama mengatakan wajib. Diriwayatkn oleh Al-
Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari
Abi Sa ’id Al-Khudri radhhiyallahua'nhu berkata:
Aku bersaksi bahwa Rasulullah shalallahu'alaihi
wasallam bersabda: Mandi pada hari Jum ’at
diwajibkan bagi orang yang telah mencapai usia
balig dan menjalankan shalat sunnah dan
memakai minyak wangi jika ada ”.
Keempat: Disunnahkan menggunakan minyak
wangi dan siwak, memakai pakaian yang terbaik.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab
musnadnya dari Abi Sa ’id AL-Khudri dan Abi
Hurairah radhhiyallahua'nhu bahwa Nabi
Muhammad shalallahu'alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa yang mandi pada hari jum ’at,
memakai siwak, memakai pakaian yang terbaik,
memakai minyak wangi jika dia memilikinya,
memakai pakaian yang terbaiknya kemudan
mendatangi mesjid sementara dia tidak
melangkahi punak-pundak orang lain sehingga
dia ruku ’ (shalat) sekehendaknya, kemudian
mendengarkan imam pada saat dia berdiri untuk
berkhutbah sehingga selesai shalatnya maka hal
itu sebagai penghapus dosa-dosa yang terjadi
antara jum ’at ini dengan hari jum’at sebelumnya
( Imam Ahmad: 3/81)
Kelima: Mambaca surat Al-Khafi. Diriwayatkan
oleh Al-Hakim dari hadits Abi Said Al-Khudri
radhhiyallahua'nhu bahwa Nabi Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa
yang membaca surat Al-kahfi pada hari jum ’at
maka akan maka sinar akan memancar
meneranginya antara dua jum ’at”. (Al-Hakim:
3/81)
Keenam: Disunnahkan bersegera menuju shalat
jum’at. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di
dalam musnadnya dari Aus Al-Tsaqofi dari
Abdullah bin Amru Radhiyallahu 'anhu berkata:
Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu'alaihi
wasallam bersabda: Barangsiapa yang
memandikan dan mandi, lalu bergegas menuju
mesjid, mendekat kepada posisi imam,
mendengar dan memperhatikan khutbah maka
baginya dengan setiap langkah yang
dilangkahkannya akan mendapat pahala satu
tahun termasuk puasanya ”. ( Imam Ahmad di
dalam kitab musnadnya: 2/209)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalak
kitab shahihnya dari Abu Hurairah
radhhiyallahua'nhu bahwa Nabi Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa
yang mandi pada hari jum ’at yang sama seperti
mandi janabah kemudian bersegera pergi ke
mesjid maka dirinya seakan telah berkurban
dengan seekor unta yang gemuk, dan
barangsiapa yang pergi pada masa ke dua maka
dia seakan berkurban dengan seekor sapi, dan
barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang
ke tiga maka dia seakan telah berkurban dengan
seekor kambing yang bertanduk, dan
barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang
keempat maka dia seakan telah berkurban dengan
seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi ke
mesjid pada saat yang ke empat maka dia seakan
telah berkurban dengan sebutir telur, dan apabila
imam telah datang maka para malaikat hadir
mendengarkan zikir (khutbah). ”
Dan bersegera menuju masjid untuk shalat
jum ’at termasuk perbuatan sunnah yang agung
nilainya, namun banyak dilalaikan oleh banyak
masyarakat, dan semoga hadits-hadits yang telah
disebutkan di atas bisa memberikan motifasi dan
memperkuat tekad, serta mengasah semangat
untuk bersegera meraih nilai yang utama ini. Allah
subhanahu wata'ala berfirman:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa, (QS. Ali imron: 133)
Segala puji bagi Allah subhanahu wata'ala Tuhan
semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap
tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad
shalallahu'alaihi wasallam dan kepada keluarga,
shahabat serta seluruh pengikut beliau.
oleh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

Keutamaan Shalat Subuh

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda
Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada
tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya
selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -
Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan -Nya.
Amma Ba’du:
Seusungguhnya nikmat yang diberikan oleh Allah
SWT kepada kita tidak terhitung dan tidak
terhingga. Allah SWT berfirman:
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللهِ لاَ
تُحْصُوهَا
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah
dapat kamu menghinggakannya. (QS. Ibrahim:
34)
Allah SWT berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka
dari Allah-lah (datangnya), (QS. Al-Nahl: 53). Di
antara nikamat yang diberikan oleh Allah SWT
adalah nikmat tidur yang telah disebut oleh Allah
SWT pada hamba -Nya. Allah SWT berfirman:
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ
اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا
فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan karena rahmat -Nya, Dia jadikan untukmu
malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada
malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian
dari karunia -Nya (pada siang hari) dan agar kamu
bersyukur kepada -Nya. (QS. Al-Qoshos: 73).
Allah SWT
berfirman:
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
“dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, (QS.
Al-Naba: 9)
Maka beristirahatnya seorang muslim beberapa
jam dari malam setelah bekerja secara kontinyu
akan membantu kehidupannya dan akan
menstabilkan perkembangan dan kreatifitasnya,
agar dia selalu mampu menunaikan segala tugas
yang berikan oleh Allah SWT sebagai tujuan
penciptaannya. Di antara tugas ini adalah
menjalankan shalat fajar secara berjama ’ah di
mesjid, dan dia adalah shalat yang memiliki nilai
keutamaan yang tinggi. Aku akan
mengetengahkan kehadapanmu beberapa kabar
gembira dan keutamaan agung yang diberikan
kepada orang yang menunaikan shalat fajar
secara berjama ’ah:
Pertama: Dia berada di dalam penjagaan Allah
SWT, atau jaminan Allah SWT, pengawasan -Nya
dan pemeliharaan Allah SWT di dunia dan
akherat. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Jundub bin Abdullah bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang
shalat subuh maka dia berada di dalam jaminan
Allah, maka jangan sampai Allah menuntut kamu
dengan sesuatu yang berada di dalam jaminan -
Nya, sebab barangsiapa yang dituntut oleh Allah
dengan sesuatu dari apa yang ada pada jaminan -
Nya maka dia pasti akan merasakan akibatnya,
lalu Allah akan mencampakkan dia di atas
wajahanya di dalam neraka Jahannam ”.[1]
Kedua: Menjalankan shalat fajar akan
menyelamatkan seseorang dari api neraka.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Ammarah bin Ruwaibah berkata:
Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“ Tidak akan pernah masuk neraka orang yang
menjalankan shalat sebelum terbitnya matahari
dan sebelum tenggelamnya, yaitu shalat fajar dan
asar ”.[2]
Ketiga: Menjalankan shalat fajar sebagai sebab
masuk surga. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim dari Abi Musa Al-Asya ’ari bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang
shalat dua waktu yang dingin maka dia akan
masuk surga ”.[3]
Keempat: Malaikat menyaksikan shalat ini. Allah
SWT berfirman:
وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ
الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“…dan (dirikanlah pula salat) subuh.
Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat )”. (QS. Al-Isro’: 78)
Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abi
Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Saling berdatangan menghampiri
kalian malaikat malam dan malaikat siang, lalu
mereka berkumpul pada shalat fajar dan asar,
kemudian naiklah malaikat yang mendatangi
kalian pada waktu malam, lalu Allah SWT
bertanya kepada mereka dan Dia Maha
Mengetahui tentang keadaan mereka:
Bagaimanakah kalian meninggalkan hamba-
hamba -Ku?. Maka mereka berkata: Kami
meninggalkan mereka dalam keadaan mendirikan
shalat dan mendatangi mereka dalam keadaan
mendirikan shalat ”.[4]
Kelima: Orang yang mendirikan shalat fajar akan
mendapat cahaya yang sempurna pada hari
kiamat. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam
kitab sunannya dari Sahl bin Sa ’d Al-Sa’idi bahwa
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berikanlah
kabar gembira bagi mereka yang berjalan pada
kegelapan menuju mesjid bahwa mereka
mendapat cahaya yang sempurna pada hari
kiamat ”.[5]
Keenam: Akan ditulis baginya bangun semalam
suntuk. Diriwayatkan oleh Muslim dari Utsman
bin Affan bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Barangsiapa yang shalat isya’ secara
berjama’ah maka sungguh dia seakan-akan
bangun setengah malam dan barangsiapa yang
shalat subuh secara berjama ’ah maka seakan-
akan dia shalat semalam suntuk”.[6]
Ketujuh: Aman dari sifat kemunafikan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi
Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling
berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat
isya dan shalat fajar, seandainya mereka
mengetahui keutamaan yang terdapat padanya
niscaya mereka pasti mendatanginya dengan cara
merangkak, sungguh aku ingin untuk mendirikan
shalat, kemudian aku memerintahkan seorang
lelaki untuk mengimami shalat, kemudian aku
pergi bersama sekelompok orang yang
membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak
menghadiri shalat berjama ’ah untuk membakar
rumah mereka dengan api”.[7]
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Ibnu Mas ’ud RA berkata: Sungguh
aku telah melihat dari golongan kami dan tidaklah
ada orang yang meninggalkan shalat jama ’ah
kecuali orang yang munafiq, yang telah diketahui
kemunafiqannya. Sungguh seorang lelaki dibawa
menuju shalat jama ’ah dengan diapit di antara
dua lelaki sehingga dia bisa tegak di dalam shaf”.
[8]
Ibnu Umar berkata: Sungguh apabila kita tidak
melihat seseorang menghadiri shalat isya ’ dan
fajar maka kami berprasangka buruk
terhadapnya ”.[9]
Kedelapan: Dua rekaat sebelum fajar lebih baik
dari dunia dan seisinya. Diriwayatkan oleh Muslim
di dalam kitab shahihnya dari Aisyah RA bahwa
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Dua rekaat
shalat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya”.[10]
Kalaulah sunnah fajar saja lebih baik dari dunia
dan seisinya, berupa harta, istana, sungai-sungai,
istri-istri dan lain-lain baik segala kebutuhan yang
disenangi manusia dan kelezatannya, lalu
bagaimanakah dengan shalat fajar itu sendiri?.
Kesembilan: Melihat Allah SWT, dan inilah
tujuan utama yang dikejar oleh mereka yang
berusaha dengan bersungguh-sungguh dan
manusia berlomba-lomba untuk
mendapatkannya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dan Muslim dari Jarir Al-Bajali RA berkata: Kami di
sisi Nabi Muhammad SAW dan pada suatu
malam beliau melihat ke arah bulan purnama lalu
beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan
melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian mampu
melihat bulan purnama ini, kalian tidak akan
merasa susah melihatnya, seandainya kalian
mampu untuk tidak dikalahkan dalam
melaksanakan shalat sebelum terbit dan sebelum
tenggelamnya matahari, maka lakukanlah,
kemudian beliau membaca sebuah ayat:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ
طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“…dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu
sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam
(nya )”. (QS. Qaf: 39[11])
Kesepuluh: Orang yang selalu menjaga shalat
fajar adalah orang yang paling baik dalam
kehidupannya, orang yang paling kreatif, dan
berhati paling lembut. Diriwayatkan oleh Al-
Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Setan mengikat
tengkuk kepala salah seorang di antara kalian pada
saat tidurnya dengan tiga ikatan, dia memukul
setiap ikatan dengan mengatakan bagimu malam
yang panjang maka tidurlah. Lalu apabila dia
bangun dan menyebut nama Allah maka
terlepaslah satu ikatan, lalu jika dia berwudhu ’
maka terlepaslah ikatan ke dua, dan jika dia
mendirikan shalat maka terlepaslah ikatan yang
ketiga, maka dia akan mengawali pagi dengan
jiwa yang kreatif dan berjiwa baik, namun jika
tidak maka dia akan menjadi berjiwa buruk dan
pemalas ”.[12]
Terdapat banyak riwayat yang melarang
meremehkan shalat fajar. Di antara riwayat
tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA
bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
Sungguh aku ingin untuk mendirikan shalat,
kemudian aku memerintahkan seorang lelaki
untuk mengimami shalat, kemudian aku pergi
bersama sekelompok orang yang membawa
kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri
shalat berjama ’ah untuk membakar rumah
mereka dengan api”.[13]
Sebagian ulama berkata; Sesungguhnya Nabi
Muhammad SAW tidak ingin melakukan hal yang
demikian itu kecuali karena orang yang
meninggalkan shalat jama ’ah ini telah melakukan
dosa yang agung dan kesalahan yang besar.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari
Ibnu Mas ’ud berkata: Disebutkan di sisi Nabi
Muhammad SAW seorang lelaki yang tertidur
pada waktu malamnya hingga pagi harinya,
maka Nabi Muhammad SAW bersabda, “Itulah
lelaki yang dikencingi oleh setan pada kedua
telinganya atau beliau bersabda: Pada telinganya”.
[14]
Cukup itu sebagai kerugian dan kekecewaan serta
keburukan.
Di antara akibat meremehkan shalat subuh secara
berjama ’ah adalah dihadapkannya seseorang
pada ancaman siksa Allah SWT di dalam
kuburnya dan di hari kiamat. Allah SWT
berfirman:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا
الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ
فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang
jelek) yang menyia-nyiakan salat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka
kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59)
Di dalam shahihul Bukhari di dalam kisah mimpi
Nabi Muhammad SAW yang panjang, disebutkan
di dalam kisah tersebut bahwa seorang lelaki
yang memecah kepalanya dengan sebuah batu,
lalu Nabi Muhammad SAW bertanya tentang
masalah itu maka dikatakan kepadanya, “Itulah
orang yang mengambil Al-Qur’an lalu
menolaknya dan tertidur dari melaksanakan shalat
yang diwajibkan ”.[15]
Dan majlis fatwa ulama Saudi Arabia ditanyakan
(fatwa nomor: 5130) tentang seseorang yang
tidak shalat subuh kecuali setelah matahari terbit,
bagaimanakah hukum shalatnya?. Apakah hal itu
akan memberikan pengaruh pada puasanya?.
Maka jawabannya adalah: jika dia meninggalkan
shalat subuh bukan karena ketiduran atau lupa
namun hanya karena kemalasan sehingga
mengerjakannya setelah matahari terbit maka dia
telah kufur dengan kekufuran yang besar,
berdasarkan pendapat yang shahih dari perkataan
para ulama. Berdasarkan pendapat ini maka
puasanya tidak sah.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,
semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan
kepada Nabi kita Muhammad dan kepada
keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
[1] HR. Muslim di dalam kitab shahihnya: 657
[2] Shahih Muslim: no: 634
[3] Al-Bukhari: 574 dan Muslim: no: 635
[4] Al-Bukhari: 555 dan Muslim: no: 632
[5] Sunan Ibnu Majah: no: 781
[6] HR. Muslim: no: 656
[7] Al-Bukhari: 657 dan Muslim: no: 651
[8] Shahih Muslim: no: 654
[9] Shahih Ibnu Hibban: 5/455 no: 2099
[10] HR. Muslim: no: 725
[11] Al-Bukhari: 554 dan Muslim: no: 633
[12] Al-Bukhari: 1142 dan Muslim: no: 773
[13] Al-Bukhari: 657 dan Muslim: no: 651
[14] Al-Bukhari: 1144 dan Muslim: no: 774
[15] HR. Al-Bukhari: no: 7047
Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

Antara Ajal dan Rizki

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam
semoga tetap tercurahkan kepada baginda
Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan
yang berhak disembah dengan sebenarnya selain
Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Rasulullah
saw memberitahukan kepada kita dan beliau
adalah orang yang jujur lagi terpercaya:
Sesungguhnya salah seorang di antara kalian
dikumpulkan penciptaannya di dalam perut
ibunya selama empat puluh hari, kemudian
berubah menjadi segumpal darah seperti itu,
kemudian menjadi segumpal daging dalam masa
seperti itu kemudian diutus kepadanya malaikat
lalu dia meniupkan ruh padanya dan
diperintahkan baginya untuk menulis empat
perkara: Diperintahkan baginya untuk menulis
rizkinya, ajal dan amalnya serta apakah dia
bahagia atau sengsara.[1]
Di dalam hadits ini disebutkan empat perkara gaib
yang wajib diimani, diyakini dengan keyakinan
yang kuat dan dibenarkan, dan penjelasanku pada
tulisan ini terbatas pada dua bagian saja, yaitu:
masalah ajal dan rizki.
Nash-nash di dalam Al-Qur’an dan Sunnah
menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan
masalah ajal dan rizki, dia tidak akan bertambah
disebabkan oleh perhatian orang yang
bersungguh-sungguh padanya dan tidak pula
akan terhalang oleh orang yang benci.
Dari Abdullah bin Amru Bin Ash abhwa Nabi saw
bersabda: Allah telah menetapkan takdir setiap
makhluk pada masa lima puluh ribu tahun
sebelum Dia menciptakan seluruh langit dan
bumi, dan ArsyNya di atas air ”.[2]
Dan swt telah menegaskan tentang hakekat ini
pada beberapa ayat di dalam Al-Qur ’an. Allah swt
berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ
بِإِذْنِ الله كِتَابًا مُّؤَجَّلاً وَمَن
يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ
مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي
الشَّاكِرِينَ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati
melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan
yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa
menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan
kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula)
kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur. QS. Ali Imron: 145
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء
أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً
وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka
apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak
dapat (pula) memajukannya. Maksudnya: tiap-tiap
bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau
keruntuhan. QS. Al-A ’raf: 34
Sebagian orang-orang munafiq menyangka
bahwa jika mereka tidak ikut serta berjihad di
jalan Allah dan pengecut dalam menghadapi
musuh akan menjadi penghalang antara dirinya
dengan kematian, maka Allah membantah
prasangka tersebut dengan firmanNya:
ثُمَّ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ
الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ
كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم
مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ
كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّا
قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي
بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ
عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى
مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا
فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي
قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ
الصُّدُورِ
Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?"
Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu
seluruhnya di tanganAllah". Mereka
menyembunyikan dalam hati mereka apa yang
tidak mereka terangkan kepadamu; mereka
berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu
(hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya
kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini".
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu,
niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan
mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka
terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk
menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk
membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah
Maha Mengetahui isi hati. QS. Ali Imron: 154
Oleh karena itulah, pada realitanya membuktikan
bahwa orang-orang yang terbunuh karena lari
dari peperangan lebih banyak daripada orang-
orang yang terbunuh karena berani menghadapi
peperangan. Seorang penyair berkata:
Aku mundur guna berlomba mencari hidup
namun tidak ku dapatkan
Bagi diriku kehidupan seperti kehidupan maju
menghadapi tantangan
Perkara rizki sama seperti perkara ajal, rizki apa
yang dituliskan bagi seseorang akan pasti
didiapatkannya. Allah swt berfirman:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ
عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ
فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan
Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis
dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). QS. Hud: 6
Allah swt berfirman:
وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا
تُوعَدُونَ فَوَرَبِّ السَّمَاء
وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا
أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan
terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.
Maka demi Tuhan langit dan bumi,
sesungguhnya yang dijanjikanitu adalah benar-
benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu
ucapkan. QS. Al-Dzaryat: 22-23
Dari Abi Umamah ra bahwa Nabi saw bersabda:
Sesungguhnya ruh kudus telah meniupkan di
dalam jiwaku bahwa satu jiwa tidak akan mati
sehingga dia mengambil rizkinya secara
sempurna dan menyempurnakan ajal yang telah
ditentukan baginya, takulah kepada Allah,
bertindak baiklah dalam meminta, dan janganlah
keterlambatan datangnya rizki mendorong
sesorang untuk menuntutnya dengan cara
bermaksiat, sesungguhnya apa yang ada di sisi
Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan
ketaatan kepada Allah ”.[3]
Maka rizki apa yang telah ditetapkan bagi seorang
hamba pasti didapatkannya sebelum kematianya.
Dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda:
Seandainya manusia berlari menjauh dari rizkinya
sama seperti dirinya menjauhi berlari menjauhi
keamtian maka dia pasti medapatkan rizkinya
sebgaimana ajal menjemputnya”.[4]
Renungkannah hadits ini, menjelaskan tentang
adab erbdo ’a di mana dia menegaskan tentang
hakekat ini.
Dari Ummu Habibah ra berkata: Ya Allah
berikanlah kenikmatan bagi dengan suamiku
Rasulullah saw, dan dengan bapakku Abi Supyan,
dan dengan saudaraku Mu ’awiyah. Maka
Rasulullah saw bersabda kepadanya: Sungguh
dirimu telah meminta kepada Allah suatu ajal
yang telah ditetapkan, jejak-jejak yang telah
ditapaki dan rizki yang telah dibagi-bagi, janganlah
salah seorang di antara kalian tergesa-gesa
denganya sebelum waktunya tiba, dan jangan
pulah berharap mengundurkannya setelah
datang, dan seandainya engkau meminta kepada
Allah agar terjaga dari api neraka dan azab kubur
maka hal itu lebih baik ”.[5]
Dari penjelasan di atas mengetengahkan dua hal:
Pertama: Mngimani bahwa ajal dan rizki telah
terbagi dan diketahui, tidak akan didapatkan
karena usaha orang yang bersungguh-sungguh
dan tidak menahannya kebencian orang yang
benci.
Kedua: Hal ini bukan berarati meniggalkan segala
sebab-sebab yang telah disyari ’atkan oleh Allah.
Allah swt berfirman:
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ
تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى
التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ
اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah,
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik. QS. Al-baqarah: 195
Ketiga: Hadits Umamah di atas mengisyaratkan
dua perkara:
a-Seorang hamba harus berusaha mencari rizki
yang halal, dan menjauhi hal yang haram dan
usaha-usaha yang mengarah kepadanya.
b-Tidak menuntut rizikinya dengan motifasi
tamak dan rakus, hendaklah dia menyadarai
hadits Rasulullah saw: Barangsiapa yang
menjadikan akherat sebagai tujuannnya maka
Allah akan memberikan kekayaan di dalam
hatinya, dan Allah akan memberikan kekuatan
untuknya dan dunia akan mendatanginya
sekalipun dengan terpaksa, dan barangsiapa yang
menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah
akan menjadikan kemiskinannya di antara kedua
matanya dan akan mencerai-beraikan
kekuatannya, serta dunia tidak datang kepadanya
kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”.[6]
Keempat: Sebab-sebab yang bisa
mendatangkan rizki dan menolak hal-hal yang
dibenci sangat banyak, dan sebagaiannya
dijelaskan di dalam pembahasan ini.
A-Bertawakkal kepada Allah. Dari Umar Ibnul
khattab ra bahwa Nabi saw bersabda: Seandinya
kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-
benar tawakal maka dia pasti memberikan rizki
kepada kalian sama Dia telah memberi rizki
kepada seekor burung yang pergi pada waktu
pagi dengan perut yang kosong dan pulang
waktu sorenya dengan perut yang kenyang”.[7]
B-Istiqomah di dalam sayri’at Allah Azza Wa Jalla.
Allah swt berfirman:
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى
الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء
غَدَقًا
“Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan
lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar
Kami akan memberi minum kepada mereka air
yang segar (rezeki yang banyak ”. QS. Al-Jin: 16
Allh swt berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3)
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. QS. Al-Thalaq: 2-3.
Allah swt berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ
وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم
بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, QS.
Al-A ’raf: 96
C-Selalu beristigfar dan bertaubat. Allah swt
berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ
إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ
السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل
لَّكُمْ أَنْهَارًا
maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah
ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun, (11) niscaya Dia akan
mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
(12)dan membanyakkan harta dan anak-anakmu,
dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-
sungai. QS. Nuh: 10-11
D- Bersilaturrahmi. Dari Anas bin Malik ra bahwa
Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang suka untuk
diluaskan dalam rizkinya dan dipanjangkan
umurnya maka hendaklah dia menyambung
silaturrahmi ”.[8]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,
semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan
kepada Nabi kita Muhammad dan kepada
keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
[1] Shahih Bukhari: 4/396 no: 7454 dan Muslim:
4/2036 no: 2631
[2] Shahih Muslim: 4/2044 no: 2652
[3] Hilyatul Auliya’: 10/27 dan dishahihkan oleh
Albani di dalam shahihul jami’is shagir: 1/420 no:
2085
[4] Hilyatul Auliya’: 7/90dan dishahihkan oleh
Albani di dalam Asilsilah As-Shahihah: 1/672 no:
752
[5] Shahih Muslim: 4/2051 no: 2663
[6] Sunan Turmudzi: 4/642 no: 2465 dan
dishahihkan oleh Albani di dalam shahih Al-jami’
Al-Sagir: 2/1111 no: 6516
[7] Musnad Imam Ahmad: 1/30
[8] Shahih Muslim: 4/1982 no: 2557
Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

Monday, October 25, 2010

Wara’

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda
Rasulullah Muhammad saw, dan aku bersaksi
bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah
dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa
dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -
Nya.
Amma Ba’du:
Di antara sifat terpuji yang dianjurkan dan
diperintahkan oleh syara ’ adalah bersikap wara’.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata,
“Adapun wara’ adalah menahan diri dari perkara
yang terkadang bisa memudharatkan, termasuk
di dalam perkara ini adalah perkara-perkara yang
diharamkan dan yang syubhat, sebab bisa
berdampak negatif, dan orang yang menjaga
perkara yang syubhat maka dia telah menjaga
agama dan kehormatan dirinya dan orang yang
terjebak ke dalam perkara yang syubhat maka dia
telah terjatuh pada perkara yang diharamkan,
sama seperti seorang penggembala yang
menggembalakan gembalaannya di sekitar
perbatasan, hampir saja dia melewati batasnya ”.
[1]
Syekh Ibnu Utsaimin berkata, “Wara adalah
meninggalkan apa-apa yang membahayakan, hal
itu terwujud dengan meninggalkan segala
sesuatu yang hukumnya belum jelas dan belum
jelas pula hakekatnya.
Pertama: sesuatu yang belum jelas hukumnya
apakah dia halal atau haram. Dan yang kedua
adalah samar dalam keadaannya ”.[2]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari
Nu ’man bin Basyir RA berkata: Aku telah
mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,
“ Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas
dan perkara yang haram itu telah jelas dan di
antara keduanya terdapat perkara-perkara yang
masih samar yang tidak diketahui oleh sebagian
besar orang, maka barangsiapa yang menjaga
dirinya dari perkara-perkara yang syubhat maka
dia telah menjaga agama dan kehormatan dirinya
dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara
yang syubhat maka sungguh dia telah terjatuh
dalam perkara yang haram, sama seperti
penggembala yang menggembala di sekitar
perbatasan yang hampir saja memasuki ladang
orang lain dan ketahuilah bahwa setiap raja itu
memiliki batas-batas dan batasan-batasan Allah
adalah segala perkara yang diharamkannya ”.[3]
Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Hudzaifah bin Al-
Yaman bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
“ Keutamaan ilmu itu lebih baik dari keutamaan
ibadah dan cara terbaik untuk menjaga agamamu
adalah bersikap wara ’”. [4]
Diriwayatkan oleh Al-Nasa’I dari hadits Hasan bin
Ali, dia berkata, “Aku telah mendengar dari Nabi
Muhammad SAW, “Tinggalkanlah apa-apa yang
meragukanmu kepada apa yang tidak
meragukannmu ”.[5]
Di dalam shahih Muslim dari Nawwas bin Sam’an
berkata: Aku telah bertanya kepada Nabi
Muhammad SAW tentang kebaikan dan dosa,
maka beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak
yang baik dan dosa adalah apa yang telah
merasuk ke dalam hati namun engkau tidak suka
jika orang lain melihat hal tersebut ”.[6] Di dalam
hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad: “ Sekalipun banyak orang yang
memberikan fatwa kepadamu”.[7]
Sikap wara’ ini memiliki jangkauan yang cukup
luas, yaitu meliputi pandangan, pendengaran,
lisan, perut, kemaluan, jual beli dan yang lain-lain.
Banyak orang yang terjebak ke dalam perkara-
perkara yang diharamkan dan syubhat karena
meremehkan tiga perkara ini, yaitu bersikap wara ’
dalam menjaga lisan, perut dan pandangan. Allah
SWT berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ
عَنْهُ مَسْؤُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya ”. (QS. Al-Isro’: 36).
Allah SWT berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا
تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat)
dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Gafir:
19)
Imam Ahmad bin Hambal berkata: Seorang lelaki
yang berada pada suatu kaum lalu seorang
wanita lewat dan pandangannya mengikuti
langkah wanita tersebut ”.[8]
Dalam ash-shahihaini dari Abi Hurairah RA bahwa
Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara
dengan suatu kata yang maknanya tidak
dipikirkan oleh dirinya, akibatnya dia terjatuh ke
dalam jurang neraka yang dalamnya lebih dari
jarak antara timur dan barat ”.[9]. Arti sabda
Rasulullah Muhammad SAW: ( ما يتبين ) adalah
dia tidak memikirkan tentang kejelasan maknanya
dan tidak pula merenungkannya apakah dia baik
atau buruk.
Di dalam hadits riwayat Aisyah RA tentang berita
bohong yang menimpa dirinya: Sesungguhnya
Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Zainab
binti Jahsy RA dan dia berkata, “Aku menjaga
pendengaran dan penglihatanku, dan diriku tidak
mengetahui kecuali kebaikan ”. Aisyah berkata:
Dialah dari sekian istri-istri Nabi Muhammad SAW
yang selalu menyaingiku maka Allahpun menjaga
dirinya dengan sikap wara ’.[10]
Wuhaib bin Wurd berkata, “Seandainya engkau
berada di dalam kelompok pasukan perang ini
maka tidak ada yang memberikan manfaat
apapun bagimu sehingga engkau meneliti apa-
apa yang masuk ke dalam perutmu apakah dia
halal atau haram.
Nabi Muhammad SAW adalah tauladan dalam
bersikap wara ’, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim di dalam kitab shahihnya dari Anas
bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Aku
pergi kepada keluargaku, lalu mendapatkan sebiji
buah yang terbuang di atas ranjangku, maka aku
mengambilnya untuk memakannya, kemudian
aku khawatir kalau dia berasal dari buah yang
disedekahkan maka akupun membuangnya ”.[11]
Sebab sedeqah tersebut diharamkan bagi diri
beliau dan keluarga beliau Muhammad SAW. Dan
para shahabat mengikuti jejak Nabi Muhammad
SAW ini, mengikuti sunnah beliau. Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari
Aisyah RA berkata, “Abu Bakr memiliki seorang
pembantu yang yang selalu memberikannya
makanan dari pajak, dan pada suatu hari
pembantunya datang memberinya makanan dan
Abu Bakr pun memakannya, lalu pembantunya
berkata kepadanya: Tahukan anda apakah ini?.
Maka Abu Bakr bertanya: Dari manakah asal
makanan ini?. Pembantunya berkata: Aku, di
masa jahiliyah telah meramal seseorang, padahal
diriku bukan peramal yang baik, hanya saja aku
telah menipunya, lalu dia memberikan upah
bagiku dengan makanan ini, dan makanan yang
kamu makan ini adalah bagian darinya, maka Abu
Bakr pun memasukkan tangannya ke dalam
mulutnya sehingga dia memuntahkan apa-apa
yang ada di dalam perutnya ”.[12]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab
shahihnya dari Nafi ’, yaitu dari Ibnu Umar dari
Umar bin Khattab berkata, “Bahwa telah
ditetapkan bagi kaum muhajirin generasi pertama
empat ribu, dan ditetapkan bagi Ibnu Umar tiga
ribu lima ratus. Lalu dia ditanya: dia termasuk
orang muhajirin lalu mengapa engkau
mengurangi bagiannya dari empat ribu?. Maka
Umar menjawab: Sesungguhnya dia telah
dihijrahkan oleh bapaknya, dia berkata: Bukan
seperti orang yang hijrah dengan sendirinya ”.[13]
Umar RA berkata, “Kami meninggalkan sembilan
persepuluh yang halal karena khawatir terhadap
riba ”.[14]
Abdullah bin Mubarok berkata, “Sungguh
mengembalikan satu dirham yang berasal dari
harta yang syubhat lebih baik bagiku daripada
bersedeqah dengan seratus ribu dirham ”. Dan
Umar bin Abdul Aziz dinyalakan baginya sebuah
lilin untuk menunaikan tugas menyelesaikan
perkara kaum muslimin, lalu jika dia telah selesai
maka diapun memadamkan lampu lilin tersebut
lalu dia menyalakan lampunya sendiri. Suatu hari,
dia pernah berkata kepada istrinya: Apakah
engkau memiliki satu dirham untuk membeli
anggur?. Istrinya menjawab: Aku tidak memiliki
uang. Dia bertanya kembali: Apakah engkau
memiliki satu keping uang?. Istrinya menjawab:
Aku tidak punya, dan engkau sebagai amirul
mu ’minin apakah engkau tidak memiliki uang satu
dirham saja?. Dia menjawab: Perkara ini lebih
mudah daripada melepaskan diri dari ikatan rantai
di dalam neraka jahannam ”.
Telah disebutkan sebelumnya tentang perkataan
syekh Utsaimin bahwa kesamaran tersebut bisa
terjadi dalam beberapa hal, yaitu kesamaran
dalam hukum, dan seorang mu ’min tidak
mengetahui apakah dia termasuk di dalam
perkara halal dengan jelas atau di dalam perkara
yang haram dengan jelas. Perkara ini memiliki
contoh yang sangat banyak, sebab perbedaannya
didasarkan pada perbedaan pemahaman para
ulama, di antara mereka ada yang menganggap
halal dan sebagian yang lain berkata haram, hal ini
terlihat dalam sebagian aqad transaksi dan cara
jual beli yang banyak berkembang di masa
sekarang ini ”.[15]
Kedua: Samar dalam keadaan. Perkara ini tampak
pada hukum tentang daging ayam yang diimpor
dari luar, sebagian ulama ada yang mengatakan
bahwa daging itu halal sebab termasuk dalam
kategori makanan ahli kitab.
Allah SWT berfirman:
وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ
حِلٌّ لَّكُمْ
Makanan )sembelihan) orang-orang yang diberi Al
Kitab itu halal bagimu, (QS. Al-Maidah: 5)
Dan sungguh telah jelas terbukti bagi sebagian
penuntut ilmu bahwa banyak daging ayam impor
disembelih dengan menggunakan strum listrik
atau cara lain yang tidak sesuai dengan cara
penyembelihan yang syar ’i. Maka perkara ini
termasuk perkara yang samar dari sisi keadaan
sehingga orang yang wara ’ seharusnya
meninggalkannya.
Dan hal yang perlu diingatkan bagi orang yang
meninggalkan dan menjauhi perkara syubhat
bahwa Allah SWT akan memberikan ganti
baginya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa
yang telah terlewat. Diriwayatkan oleh Imam
Ahmad di dalam musnadnya dari Abi Qotadah
dan Abi Dahma’ bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau
meninggalkan sesuatu karena Allah SWT kecuali
Dia akan memberikan ganti bagimu dengan yang
lebih baik darinya ”.[16]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,
semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan
kepada Nabi kita Muhammad saw dan kepada
keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
Oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi
[1] Majmu ’ Fatawa: 10/615
[2] Syarah riyadhus Shalihin: 6/168
[3] Shahih Muslim: no: 1599 dan shahih Muslim:
no; 52
[4] Kasyful Astar: 1/85 no: 139 dan dishahihkan
oleh Albani pada kitab shahihul Jami ’ no: 4214
[5] An-Nasa’i: no: 5711
[6] Shahih Muslim: no: 2553
[7] Shahih Muslim: 4/227
[8] Al-Wara’, karangan Al-Marwazi, halaman: 111
[9] Shahih Muslim: no: 988 dan shahih Bukhari:
no: 6477
[10] Shahih Bukhari: no: 4750 dan Shahih Muslim:
no: 2770
[11] Al-Bukhari: no: 2432 dan Muslim: 1070
[12] Al-Bukhari: no: 3842
[13] Al-Bukhari: 3912
[14] Mushannaf Abdur Razzaq: 8/152 no: 14683
[15] Lihat kitab: Al-Ashum Al-Mukhatalitah,
karangan syekh shaleh Al-Ushaimi
[16] Musnad Imam Ahmad: 5/363 dan Al-
Hutsaimi berkata di dalam kitab: Majma ’uz
Zawa’id: 10/296 diriwayatkan oleh Ahmad dengan
sanad-sanadnya dan rijalnya yang merawikannya
adalah rijal dalam kategori shahih. Dan AlBani
berkata di dalam di dalam silsilah Al-Dahifah: 1/62
dan sanadnya shahih dengan syarat muslim
__._,_.___

Sunday, October 24, 2010

Kunci keberhasilan sebuah usaha

Kunci Keberhasilan Perusahaan Besar
7 Keys to the winning team
1.Strong Leadership
2.Clear Vision
3.Sharp Mission
4.Living Core Value
5.Clear Job Description
6.Consequence
7.100% Participant

Dan tentunya do'a jadi yang paling utama,selain sukses Dunia tapi juga sukses Akhirat,amin

Trik bikin cewek yang kita sayang agar selalu senang dan tersenyum bahagia

Inilah 30 cara yang dapat membuat wanita
tersenyum bahagia. Pasti kamu
semua ingin melihat wanita yang kalian sayangi
tersenyum bahagia
kan..?? Kalo enggak berarti kalian nggak sayang
sama cewek kalian.
Hayo jujur, ngaku pada sayang nggak sama
pacar nya..?? Buka sama pacar
aja, jika lagi pdkt juga perlu lho praktekin 30 hal
penting dibawah
ini. Cekidot langsung aja ke point nya.
Tips
bagaimana membuat wanita
tersenyum :
1. Jangan memeluk temannya atau
temanmu dimana hal itu bisa
membuatnya merasa ditinggalkan.
2. Pegang
tangannya pada setiap
kesempatan... Meskipun hanya sedetik saja.
3. Peluk dia dari
belakang.
4. Tinggalkan pesan suara untuk dia
untuk membangunkan dia
dari tidurnya.
5. Bercanda -canda dengan
dia.
6. Jangan pergi jalan-jalan
dengan mantanmu jika dia sedang tidak bersama
kamu, kamu mungkin tidak
mengetahui betapa menyakitkannya hal itu bagi
dia.
7. Jika kamu sedang
berbicara dengan seorang cewe, setelah kamu
selesai berbicara,
berjalanlah dan peluklah dia serta ciumlah dia...
Tunjukkan pada dia
bahwa dia milikmu dan mereka bukan apa-apa.
8. Tuliskan dia sebuah
catatan atau telepon dia hanya untuk sekedar
menyapanya... Dan tidak
hanya pada saat malam hari setelah kamu
bepergian dengan cewe-cewe
lain.
9. Perkenalkan dia pada teman-temanmu...
Sebagai kekasihmu.
10. Bermain dengan rambutnya.
11. Gendong dia.
12. Merasa kesal apabila ada
cowo lain memegang-megang dia dan dia tidak
menyukainya.
13. Buat dia
tertawa, jika kamu bisa membuat dia tertawa.
Kamu bisa membuat dia
melakukan apa saja.
14. Biarkan dia tertidur lelap di
dalam
pelukanmu.
15. Jika dia marah padamu, cium
dia.
16. Jika kamu sayang
pada dia, katakan.
17. Setiap cowo harus
memberikan cewe mereka 3
benda: boneka binatang (dia akan membawanya
dan memeluknya setiap kali
dia akan tidur), perhiasan (dia akan
menyimpannya dengan baik-baik
untuk selamanya), dan baju yang dimiliki sang
cowo (dia akan
memakainya ketika tidur).
18. Perlakukanlah dia
sebagaimana biasanya,
meskipun sedang berkumpul dengan teman-
teman.
19. Tataplah kedua
matanya dan tersenyumlah pada dia.
20. Pergi
jalan-jalan dengan dia
tiap akhir pekan.
21. Cium dia di bawah guyuran
hujan.
22. Jika kamu
sedang mendengarkan musik, biarkan dia ikut
mendengarnya bersama
kamu.
23. Ingat hari ulang tahunnya dan belikan
dia sesuatu, meskipun
itu sederhana dan tidak mahal, itu adalah
pemberian dari kamu. Itu
berarti segalanya bagi dia.
24. Ketika dia
memberikan hadiah pada hari
ulang tahunmu, atau pada saat-saat tertentu,
ambillah dan katakan pada
dia bahwa kamu menyukainya, meskipun
sebenarnya tidak (hal itu akan
membuatnya senang).
25. Cewe tidak butuh
pembicaraan lewat telepon yang
panjang dan berjam-jam tiap malam, yang
terpenting adalah bisa
mendengar suara kamu meskipun hanya sekedar
sapaan atau 'halo?'
26. Berikan dia apa yang dia mau.
27. Hargai setiap hal
kecil... Itu
biasanya berarti besar.
28. Katakan pada dia
bahwa dia cantik atau
menarik, dia perlu tahu bahwa dandanannya tidak
sia-sia.
29. Pergi
jalan-jalan bersama dia setiap kali kamu nganggur
dan kamu harus siap
mengajak kekasihmu jalan-jalan kapan saja.
30. Jika kamu perhatian pada
dia... Tunjukkan.
Nah tips ini special bnget buat kamu kamv yang udah pada nikah biar bernilai ibadah serta dapat ridhoNYA,Amin.
__._,_.___

Kisah Nabi Ayyub Alaihis Salam

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda
Rasulullah Muhammad SAW, dan aku bersaksi
bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah
dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa
dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -
Nya.
Amma Ba’du:
AllahSWT telah menceritakan kepada kita
beberapa kisah nabi dan rasul di dalam kitab-Nya
yang mulia agar dijadikan sebagai pelajaran, ibroh
bagi kita, meneguhkan hati Nabi Muhammad
SAW, memperkuat keimanan orang-orang yang
beriman dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi
kaum yang beriman. AllahSWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ
لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ
حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَـكِن تَصْدِيقَ
الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ
كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً
لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjelaskan segala
sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat
bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf: 111).
Allah SWT berfirman:
وَكُـلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء
الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
وَجَاءكَ فِي هَـذِهِ الْحَقُّ
وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami
ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang
dengannya Kami teguhkan hatimu; dan
dalam surat ini telah datang kepadamu
kebenaran serta pengajaran dan peringatan
bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud:
120)
Di antara rasul yang diceritakan di dalam Al-
Qur ’an adalah Nabi Ayyub alaihis salam.
Allah SWT berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي
مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ
الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ
فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ
وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم
مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا
وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru
Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku
telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan
Yang Maha Penyayang di antara semua
penyayang". Maka Kami pun memperkenankan
seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang
ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya
kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan
mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan
untuk menjadi peringatan bagi semua yang
menyembah Allah.(QS. Al-Anbiya ’: 83-84)
Allah SWT berfirman:
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى
رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ
بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ ارْكُضْ بِرِجْلِكَ
هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم
مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَى
لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ وَخُذْ بِيَدِكَ
ضِغْثًا فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ
الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub, ketika ia
menyeru Tuhannya; "Sesungguhnya aku
diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan".
(Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah
air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.
Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan
kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan)
kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai
rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang
yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan
tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan
itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang
yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba.
Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).
(QS. Shad: 41-44)
Ulama tafsir dan sejarah mengatakan, “Pada
mulanya Ayyub alaihis salam adalah seorang
lelaki yang memiliki banyak harta, berupa tanah
yang luas, hewan ternak dan kambing, yaitu pada
sebuah belahan bumi yang bernama Tsaniyah, di
Huran, yang terletak di negeri Syam. Ibnu Asakir
berkata, “Semua lahan yang luas itu adalah
miliknya lalu Allah SWT menguji dirinya dengan
kehilangan semua harta tersebut, dia diuji dengan
berbagai macam ujian yang menimpa tubuhnya,
sehingga tidak ada sejengkalpun dari bagian
tubuhnya kecuali ditimpa penyakit kecuali hati dan
lisannya. Dia selalu berzikir dengan kedua indra
tersebut, bertasbih kepada Allah SWT siang dan
malam, pagi dan sore. Akhirnya dengan penyakit
tersebut seluruh temannya merasa jijik
terhadapnya, sahabat karibnya menjadi tidak
tenang dengannya. Setiap orang merasa jijik
dengannya baik kerabat atau teman jauh.
Akhirnya dia diasingkan pada sebuah tempat
pembuangan sampah di luar kota tempat
tinggalnya, dan tidak ada yang menemaninya
kecuali seorang istrinya, yang selalu menjaga
hak-haknya dan membalas budi baik yang
pernah dilakukan terhadap dirinya serta dorongan
rasa belas kasihan padanya, dia bekerja untuk
mendapat upah dari orang lain, lalu dia
membelikannya makanan dengan upah itu,
dibarengi dengan rasa sabar melepas semua
harta dan anak, bersabar dengan penyakit suami
setelah hidup dalam kenikmatan dan kehormatan
yang pernah disandangnya. Inna Lillahi Wa Inna
Ilaihi Roji ’un. Sebelumnya dijelaskan bahwa sang
istri bekerja kepada orang lain untuk mengejar
upah yang digunakan utnuk membeli makanan
bagi Ayyub alaihis salam, lalu masyarakat tidak
lagi membutuhkannya karena mereka
mengetahui bahwa wanita itu adalah istri Ayyub,
mereka takut jika terkena dengan penyakit yang
menimpa Ayyub atau tertular dengan penyakit
melalui interaksi secara langsung dengan sang
istri, akhirnya dia tidak menemukan seorangpun
yang bisa memberinya pekerjaan yang
mendatangkan upah. Lalu dia pergi menuju
orang-orang yang kaya dan menggadaikan
kepang rambutnya dengan dengan makanan
yang banyak lalu makanan itu dibawanya kepada
Ayyub dan Ayyub berkata, “Dari manakah
engkau mendapatkan makanan ini?. Dan dia
marah kepadanya. Sang istri menjawab, “Aku
telah bekerja pada banyak orang dan
mendapatkan upah karenanya. Lalu pada
keesokan harinya dia tidak menemukan
seorangpun yang menyuruhnya bekerja dan
akhirnya dia kembali menjual belahan kepangan
rambut yang kedua lalu membeli makanan
dengannya namun Ayyub tetap mengingkarinya,
bahkan dia bersumpah bahwa dirinya tidak mau
memakan makanan ini sehingga sang istri
memberitahukan dari manakah dia memperoleh
makanan ini. Akhirnya sang wanita membuka
kerudung yang menutupi kepalanya, lalu pada
saat dia melihat rambut istrinya telah tercukur rata
dia berdo ’a:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ
أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah
ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan
Yang Maha Penyayang di antara semua
penyayang". (QS. Al-Anbiya ’: 82).
Lalu Allah mendatangkan pertolongan -Nya
kepadanya:
ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ
بَارِدٌ وَشَرَابٌ
(Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu;
inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk
minum. (QS. Shad: 42)
Artinya Allah SWT memerintahkan: Pukullah
bumi ini dengan kakimu. Maka diapun
melaksanakan perintah Tuhan -Nya, lalu Allah
SWT memancarkan mata air yang dingin, dan
Dia memerintahkan kepadanya agar dia mandi
dan minum dari air tersebut, kemudian Allah
SWT menghilangkan semua penyakit dan
penderitaan yang menimpa tubuhnya baik yang
lahir atau batin, dan Allah SWT menggantikannya
dengan kesehatan yang sempurna baik lahir dan
batin serta harta yang banyak sehingga limpahan
harta menghujani dirinya, belalang-belalang dari
emas. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab
shahihnya dari Abi Hurairah RA berkata: Pada saat
Ayyub mandi dalam keadaan telanjang tiba-tiba
belalang dari emas terjatuh kepadanya lalu Ayub
menangkapnya dengan pakaiannya lalu
Tuhannya berseru kepadanya: Wahai Ayyub!,
Tidakkah Aku telah mencukupkanmu dari apa
yang kau pandang sekarang ini?. Ayyub
menjawab: Benar wahai Tuhanku akan tetapi aku
tidak pernah merasa cukup dengan keberkahan
yang engkau berikan kepadaku ”.[1]
Dan Allah SWT mengembalikan keluarganya
yang telah tiada, sebagaimana dijelaskan di dalam
firman Allah SWT:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ
مِن ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ
وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ
عِندِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
dan Kami kembalikan keluarganya
kepadanya, dan Kami lipat gandakan
bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari
sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi
semua yang menyembah Allah. (QS. Al-
Anbiya ’: 84)
Dikatakan tentang penafsiran ayat tersebut bahwa
Allah SWT menghidupkan mereka. Dalam
perkataan yang lain disebutkan: Allah SWT
memberikan ganti rugi baginya saat hidup di
dunia dan pendapat yang lain berkata maksud
firman di atas adalah lain. Hal itu sebagai kasih
sayang Allah SWT kepadanya, dan belas kasihan
serta peringatan bagi orang-orang yang
beribadah.[2]
Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari cerita
Nabi Ayyub alaihis salam ini adalah:
Pertama: Beratnya ujian Allah SWT bagi Nabi
Ayyub ‘alaihi salam. Semua ujian itu tidak
menambahkannya kecuali kesabaran, harapan
pahala dari Allah SWT, pujian dan rasa syukur
kepada -Nya, sehingga Ayyub adalah sebagai
contoh dalam kesabaran, dia sebagai contoh
dalam menghadapi berbagai penyakit. Al-Suddy
berkata, “Semua kulit luar sudah berjatuhan
sehingga tidak ada yang tersisa kecuali tulang dan
urat. Diriwayatkan oleh Abu Ya ’la di dalam kitab
musnadnya dari Anas bin Malik bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya
Nabi Allah, Ayyub bertahan dengan penuh
kesabaran menghadapi berbagai penyakit dalam
waktu delapan belas tahun, dia ditolak oleh
kerabat dekat dan jauh kecuali dua lelaki dari
saudaranya, keduanya selalu datang kepadanya
baik pada waktu pagi atau sore. Suatu hari, salah
seorang dari mereka berkata kepada yang lain:
Apakah engkau mengetahui bahwa Ayyub telah
berbuat dosa dengan dosa yang tidak pernah
dikerjakan oleh seorangpun di dunia ini?. Maka
teman yang satu bertanya: Dosa apakah yang
pernah dilakukan oleh Ayyub?. Sahabat itu
berkata: Sejak delapan belas tahun dia tidak
pernah dikasihsayangi oleh Allah sehingga Allah
menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Lalu
pada saat mereka berdua pergi menemui Nabi
Ayyub salah seorang shahabatnya tidak
berasabar menahan dirinya dan akhirnya
menceritakan apa yang pernah didengarnya.
Maka Ayyub berkata: Aku tidak memahami apa
yang kalian katakan, hanya saja Allah mengetahui
bahwa aku pernah melewati dua orang lelaki
yang sedang bertikai, lalu mereka berdua
mengingatkan nama Allah, lalu akupun kembali
kerumahku dan aku membantu keduanya untuk
menghapuskan kesalahan mereka, karena aku
tidak suk mereka menyebut nama Allah kecuali
untuk suatu kebenaran …”.[3]
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab
musnadnya dari Mush ’ab bin Sa’d dari ayahnya
dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah
siapakah orang yang paling besar cobaannya?.
Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian orang-
orang yang shaleh, kemudian orang yang terbaik
dari manusia. Seseorang akan diuji berdasarkan
tingkat keagamaannya, jika dia memiliki agama
yang tipis maka ujiannyapun diperingan, dan jika
dia memiliki agama yang kuat maka ujiannyapun
akan ditambah sehingga dirinya akan berjalan di
muka bumi ini tanpa memiliki kesalahan”.[4]
Kedua: Dikatakan: Wahai orang yang sedang
diuji, wahai orang yang sedang diuji pada harta,
anak-anak dan diri kalian, bersabarlah dan kejarlah
pahala dari Allah SWT, sesungguhnya Dia pasti
akan mengganti. Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ
الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ
الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا
أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا
لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن
رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ
الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-
buahan. Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar, (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa
innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang
mendapat keberkatan yang sempurna dan
rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. Al-Baqarah; 155-157)
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah peringatan bagi
mereka yang diuji pada jasadnya, hartanya dan
anak-anaknya, dia memiliki tauladan pada Nabi
Ayyub alaihis salam, di mana Allah SWT telah
mengujinya dengan penderitaan yang lebih besar
namun dia tetap bersabar dan mengharap pahala
dari Allah SWT sehingga Dia memberikan
kelapangan baginya”.[5]
Ketiga; Bahwa orang yang ditimpa suatu
musibah lalu dia mengharap pahala dari Allah
SWT dan istrija ’ (mengucapkan: Innaa lillaahi
wa innaa ilaihi raaji`uun) maka Allah SWT akan
menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik
dari apa yang telah terlewatkan, sama seperti apa
yang telah dialami oleh Ayyub alaihis salam.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab
shahihnya dari Ummu Salamah bahwa Nabi
Muhammad SAW berkata kepadaku, “Tidaklah
seorang muslim ditimpa oleh suatu musibah lalu
dia mengucapkan apa-apa yang diperintahkan
oleh Allah, yaitu membaca: ( Innaa lillaahi wa
innaa ilaihi raaji`uun Allahumma Ajirni fi
mushibati wakhluf li kahairan minha ).
Sesungguhnya kita adalah milik Allah SWT dan
kepada Allah-lah kita akan kembali, ya Allah
berikanlah bagiku balasan kebaikan atas musibah
yang menimpaku dan berikanlah balasan yang
baik bagiku ”. Barangsiapa yang membaca do’a di
atas maka Allah SWT akan menggantikan baginya
dengan sesuatu yang lebih baik darinya. Ummu
Salamah berkata, “Pada saat Abu Salamah
meninggal dunia aku berkata: Siapakah orang
yang lebih baik dari Abu Salamah, shahabat
Rasulullah SAW, kemudian Allah SWT
memberikan kekuatan bagiku untuk
mengucapkannya maka akupun membacanya.
Ummu Salamah berkata: Maka akupun menikahi
Rasulullah SAW.[6]
Keempat: Di dalam kisah ini terdapat risalah bagi
para istri yang beriman bahwa mereka harus
bersabar menghadapi suami-suami mereka yang
menderita sakit atau kemiskinan atau cobaan
lainnya, lihatlah istri Ayyub alaihis salam sebagai
contoh, dia sungguh sabar dan mengharap
pahala dari Allah SWT sehingga Allah SWT
menghilangkan segala cobaan yang menimpa
suaminya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di
dalam musnadnya dari Anas bin Malik bahwa
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak
diperbolehkan seseorang manusia untuk
bersujud kepada manusia yang lain, dan
seandainya diperbolehkan seseorang bersujud
kepada manusia yang lain maka sungguh aku
akan memerintahkan wanita untuk bersujud
kepada suaminya karena keagungan hak suami
atas dirinya, demi yang jiwaku berada di tangan -
Nya seandainya dari ujung kaki sang suami
terdapat luka yang memancarkan nanah dan
darah kemudian dia meminumnya sungguh hal
itu belum memenuhi hak sang suami ”.[7]
Kelima: Sesungguhnya Allah SWT manjadikan
bagi hamba -Nya yang bertaqwa jalan keluar dan
kelapangan. Sesungguhnya Nabi Ayyub
bersumpah untuk memukul istrinya dengan
seratus cambukan, Ibnu Katsir berkata, “Pada saat
Allah SWT telah menyembuhkan dirinya, maka
dia diperbolehkan untuk mengambil sekumpulan
kayu, yaitu kumpulan tangkai kurma lalu dia
memukulnya dengan satu pukulan, dan hal itu
sebagai ganti dari seratus pukulan serta
dengannya dia telah memenuhi sumpah dan
tidak melanggarnya. Maka ini adalah salah satu
bentuk kelapangan dan jalan keluar yang
diberikan oleh Allah SWT bagi orang yang
bertaqwa kepada -Nya dan mentaati -Nya.
Apalagi terhadap istrinya yang begitu sabar dan
mengharap pahala dari Allah SWT, jujur dan
berbuat baik serta dewasa. Oleh karena itulah
Allah SWT mengakhiri penderitaan ini dan
menyebutkan sebabnya dengan firmanNya:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ
الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub)
seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya dia amat taat
(kepada Tuhannya). (QS. Shad: 44).
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,
semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan
kepada Nabi kita Muhammad saw dan kepada
keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
Oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi
[1] Al-Bukhari: no: 279
[2] Al-Bidayah wan Nihayah: 1/507-509
[3] Musnad Abu Ya’la: 6/299 no: 3617
[4] Musnad Imam Ahmad: 1/172
[5] Al-Bidayah Wan Nihayah: 1/513
[6] Shahih Muslim: no: 918
[7] Musnad Imam Ahmad: 20/65 no: 12614